Akhir Tahun 2009 Ditutup dengan 'Kepergian' Gus Dur
Renungan untuk Akhir TahunSudah hal yang umum bagi sebagian putra-putri bangsa ini mempersiapkan diri untuk merayakan Tahun Baru. Ada yang mengisinya dengan liburan ke luar kota atau ke luar negeri, menginap di hotel agar suasana tahun baru lain dari biasanya atau mudik ke kampung halaman. Tapi, apa mau dikata, akhir tahun kali ini harus diisi dengan perkabungan bahkan keluarga Presiden SBY, yang tadinya akan mengadakan pertemuan keluarga besar di Cipanas, terpaksa digagalkan karena seorang putra terbaik negeri, mantan Presiden RI, Guru dan Bapak Bangsa, pejuang hak azasi manusia, pejuang demokrasi, penerima gelar doktor kehormatan dan belasan bahkan puluhan penghargaan baik dari dalam dan luar negeri, meninggalkan bangsa ini untuk selama-selamanya. Gus Dur pergi di tengah-tengah bangsa sedang diterpa persoalan yang tiada henti-hentinya terutama pada persoalan beberapa bulan terakhir ini, yang melibatkan para pejabat tinggi sampai 'Keluarga dari Cikeas.' Di tengah-tengah belum jelasnya kasus pembunuhan Nasrudin, aliran dana Bank Century dan sekarang muncul Bisnis Keluarga Cikeas, Tuhan secara mendadak memanggil Gus Dur. Seolah-olah Tuhan memberi peringatan kepada negeri ini dengan mengambil salah seorang putra terbaiknya dan menyisakan sosok-sosok pemimpin yang tak bisa dijadikan model. Mengapa harus di akhir tahun? Mengapa pada saat putra-putri negeri ini mau merayakan Tahun Baru, Tuhan memanggil Gus Dur? Bisa saja sebenarnya Tuhan memanggil Gus Dur pada tanggal 7 atau 14 Januari atau agar lebih adem, tanggal 31 Januari 2010. Bisa saja Tuhan sedikit lebih bersabar agar perayaan tahun baru tidak hambar. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan tidak mau memberi waktu tambahan. Tidak ada 'extra time' seperti yang diberikan oleh wasit pada pertandingan sepakbola. Tuhan menentukan menit, jam, hari, bulan, tahun dan momen penting dalam perjalanan hidup bangsa ini. Tuhan memanggil Gus Dur pada jam 18:45, Rabu, 30 Desember 2009 pada saat merebaknya isu tentang bisnis 'Keluarga Cikeas.' Ia memanggil salah satu putra terbaik negeri ini di tengah-tengah situasi belum jelasnya pelaku pembunuhan Nasrudin yang melibatkan mantan Ketua KPK, dan aliran dana ke Bank Century. Tuhan memang tidak dapat dipahami secara tuntas; tidak dapat diterka apa seluruh pikiran-Nya. Manusia dapat mereka-reka jalan hidupnya, tapi Tuhanlah yang menentukan langkahnya. Barangkali Tuhan sudah muak melihat sikap bangsa ini; ia tidak memberikan waktu lebih lama untuk memberikan peringatan atas pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan bangsa ini. Tuhan mengeluarkan 'kartu kuning' pertama saat-saat mau pergantian tahun dengan mengambil Gus Dur dari tengah-tengah bangsa ini. Ia 'mengajak' Gus Dur untuk istirahat seolah-olah Tuhan mengatakan, "Sudahlah Gus Dur. Kamu sudah puluhan tahun berusaha untuk memperbaiki negerimu, tapi bangsamu tidak ngerti-ngerti. Bangsamu tidak mau belajar, tidak tahu malu, dan tidak bermoral." Apa yang mau disampaikan Tuhan dengan kepergian Gus Dur? Ragam interpretasi bisa muncul. Sebelum Gus Dur pergi, diberitakan bahwa Presiden SBY melihat detik-detik terakhir hidup Gus Dur. Ada signal kepada pemimpin negeri ini bahwa suatu saat setiap orang termasuk Presiden SBY akan menghadapi kematian; tak seorang pun mampu membendungnya. Semua termasuk karya-karyanya akan berakhir saat jiwa berpisah dengan tubuh dan setelah itu, setiap orang akan menerima upah sesuai dengan kelakuannya masing-masing. Apakah bangsa ini akan mengambil hikmah dari kisah kepergian Gus Dur di akhir tahun 2009? Waktu akan menjawab. Yang jelas, republik ini telah menorehkan sejarah bahwa Gus Dur pernah hadir di tengah-tengah republik ini; sosok yang berusaha mengabdikan dirinya dengan sekuat tenaga untuk keadilan, kemanusiaan, hak azasi manusia, bangsa, negeri dan hal-hal yang mulia lainnya.
Dengan kata lain, ia telah berusaha segenap hati, pikiran, jiwa dan raganya untuk meneruskan perjuangan para Pendiri republik ini untuk mewujudkan visi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Selamat Jalan Gus Dur. Semoga muncul putra-putri Indonesia, yang akan meneruskan keteladanan hidup dan pemikiran-pemikiranmu. Biarlah hati sanubari putra-putri negeri Indonesia tergugah untuk menggapai cita-cita negeri, Indonesia Raya.Renungan: - Renungkanlah apa yang telah dilakukan mantan Presiden Gus Dur bagi negeri ini?
- Pelajarilah biografinya. Ambillah satu atau dua hal atau lebih untuk direnungkan dan diteladani di tahun baru 2010.
Artikel Terkait: Urgensi Mengenal Diri dan Potensinya Mengapa hal ini penting? Apa bahayanya bila pengenalan diri di luar jalur? Berapa Besar Nilai Diri Anda Bagaimana menilai diri yang sesungguhnya? Menyingkap Tabir Roh (Jiwa) dan Tubuh Apakah jiwa dan roh adalah sesuatu yang berbeda? Permohonan dari Liang Kubur Apakah jiwa orang mati dari 'liang kubur' dan jiwa orang hidup di surga bisa berkomunikasi satu dengan lainnya? Asal Usul Orang Indonesia Asal Usul orang Indonesia bukan dari negeri ini, tetapi dari lokasi tertentu di luar Nusantara. Akhir Tahun 2009 Ditutup dengan 'Kepergian' Gus Dur Mengapa Tuhan memanggil Gus Dur di akhir tahun? Sinkronisasi Being, Knowing dan Doing Apa rahasia agar relasi antara being, knowing dan doing-nya sinkron? Daftar Artikel di Putra-Putri-Indonesia.com Dari Akhir Tahun Judul ke Halaman Depan (Home)
|