Berpikir Rasional

Sopia: "Apa sich itu berpikir rasional?"

Radot: "Saya kasih contoh atau konteks yang terjadi baru-baru ini di Jakarta. Tanggal 19 April 2017 lalu, telah diumumkan bahwa pemenang Pilkada DKI 2017 versi quick count adalah pasangan calon Anies-Sandi. Perolehan suara yang didapat pasangan calon Basuki-Djarot adalah 43 persen; paslon Anies-Sandi 57 persen. Ada perbedaan 14 persen dan perbedaan itu cukup jauh. Hasil survey-survey sebelumnya hanya memberikan perbedaan satu sampai dua persen untuk paslon Anies-Sandi."

Sopia: "Perbedaan hasil survey cukup jauh sebelum dan sesudah Pilkada ya?"

Radot: "Cukup jauh. Yang mengherankan adalah bahwa kepuasan warga DKI terhadap pasangan calon Basuki-Djarot relatif tinggi. Disebutkan tingkat kepuasan sampai 75 % terhadap kinerja pasangan petahana. Selain itu, begitu banyak fakta tentang kemajuan yang dilakukan pasangan tersebut DKI- mulai dari banjir tidak lagi melanda DKI, Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, pembangunan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), transportasi yang makin baik, lokasi prostitusi di Kalijodo di buat jadi RPTRA, penghematan APBD dan tertutupnya banyak celah untuk korupsi. Lebih dari itu, gubernurnya tidak korup. Namun, warga DKI memilih pasangan Anies-Sandi." 

Sopia: "Apakah itu rasional?"

Radot: "Ini menjadi bahan renungan yang sangat menarik. Kita sebut negara kita cukup demokratis, tapi akal sehat kita tidak menunjukkan itu. Banyak negara barangkali menertawakan hasil Pilkada DKI 2017, sama seperti kita yang geleng-geleng kepala melihat realitasnya. Namun, itulah fakta tentang kehidupan berpolitik di DKI."

Sopia: "Kenapa bisa demikian?"

Radot: "Ini akibat persoalan manusia yang kompleks. Tentu masih banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Entah apapun faktor-faktor yang berkontribusi, sebagian besar dari masyarakat kita belum bisa berpikir rasionil pada isu-isu yang penting. Kita bisa rasional dalam hal-hal tertentu. Kalau kita lapar, kita cari makan. Kalau kita tidak punya uang, kita coba cari pekerjaan. Kalau kita sakit, kita pergi ke dokter atau cari cara agar bisa sembuh. Kalau mau umur panjang, kita jaga pola hidup dan pola makan kita. Kita mendengar dan melakukan nasihat-nasihat orang lain agar hidup kita lebih baik. Dalam banyak hal kita bisa berpikir rasional, tetapi tidak selamanya kita bisa berpikir rasionil."

Sopia: "Saya sering juga tidak berpikir rasionil."

Radot: "Di kantor, kita mau memberikan gaji yang lebih besar bagi pekerja yang benar-benar memberikan hasil yang nyata. Kita menghargai kinerja pekerja yang baik. Banyak pemilik usaha rela membayar upah yang lebih yang baik bagi pekerja yang memberi keuntungan bagi perusahaan. Namun, tidak semua pemilik usaha demikian. Dalam kondisi-kondisi tertentu, ia tidak berpikir rasionil."

Pendidikan Tinggi Tidak Selalu Bisa Menghasilkan Cara Berpikir Rasional

Sopia: "Apakah kita selalu bisa berpikir rasionil?"

Radot: "Itu pertanyaan menarik. Kita tidak selamanya bisa berpikir rasional. Seperti hasil Pilkada DKI, mayoritas orang di Jakarta boleh dikatakan sudah berpendidikan dan dekat ke pusat informasi. Sebagai warga kota besar, mayoritas warga DKI seharusnya bisa berpikir rasionil, tapi nyatanya tidak. Bahkan ada orang yang sudah bergelar S3 pun tidak bisa berpikir rasional dalam Pilkada DKI. Kalau misalnya mayoritas warga DKI berakal sehat, mereka akan memilih pasangan petahana untuk jadi gubernur karena fakta fakta di lapangan sangat mendukung pilihan tersebut. Namun, itu tidak terjadi. Jadi, dalam hal-hal tertentu kita tidak bisa berpikir rasionil. Mengapa bisa demikian? Ini isu menarik."

Sopia: "Apakah pendidikan tinggi bisa menghasilkan cara berpikir rasionil?"

Radot: "Tidak selalu. Sekalipun di bangku sekolah atau kuliah kita belajar banyak pengetahuan dan belajar hukum-hukum alam seperti hukum di bidang Fisika, Kima, Biologi, Matematika dan bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya- ini tidak selalu bisa menghasilkan kemampuan berpikir rasionil.  Itu tidak selalu terjadi dalam realitas hidup seseorang. Apakah ia lulusan dari Amerika, Eropa, atau  Australia- tidak selalu ia bisa berpikri rasional. Jadi, ada masalah dalam diri kita yang membuat kita tidak selalu bisa berpikir rasionil."

Sopia: "Ini menarik."

Radot: "Kalau seseorang semakin matang, logikanya semakin rasional baik dalam berpikir maupun bertindak. Rasionalitas seseorang bisa menjadi indikator kematangan kemanusiaannya terlepas apa yang membentuk kematangannya."

Sopia: "Jadi, kalau ada yang tidak berpikir rasionil berarti belum dapat dikategorikan matang?"

Radot: "Relatif. Kita bisa sebut demikian secara relatif. Tidak ada manusia yang sempurna. Kalau seseorang  sudah sempurna, orang itu akan rasional baik dalam berpikir dan bertindak. Karena manusia tidak sempurna, maka ia tidak selalu bisa berpikir rasional."

Sopia: "Bagaimana agar bisa cenderung berpikir rasional termasuk bertindak rasional? Bagaimana caranya?"

Radot: "Itu pertanyaan menarik dan patut direnungkan."


Seminar: Thinking with Six Hats
       08.00 - 17.00, Jadwal Jakarta
       Kontak: 0813-1141-8800
       info@business-excellence-luminance.co.id


Apa Syarat agar Dapat Berpikir Rasionil?

Filsafat Itu Menyenangkan

Contoh Percakapan Filosofis


Copyright 2009-2017 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK
0813-1141-8800

Seminar

Thinking with Six Hats

Paradigm Change

Reading People