Analisa Debat Calon Presiden (Capres) Pertama: Jokowi-Jk vs. Prabowo-Hatta

Dua minggu sebelum debat calon presiden (capres) pertama tadi malam, saya sempat menahan diri untuk tidak mendukung Jokowi-JK. Saya mengurungkan niat untuk mem-posting apapun mengenai hal yang positif tentang Jokowi dan kelemahan Prabowo di diskusi group seperti wa, facebook dan yang lain. Saya melakukan ini karena saya membaca artikel-artikel yang baru tentang Prabowo dan mengharap ada informasi-informasi yang lebih baru lagi.

Tadinya keraguan saya, saya harap, bisa digusur oleh penjelasan Prabowo lewat debat capres tadi malam, yang memilih topik: Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan Yang Bersih dan Kepastian Hukum. Namun, itu tidak terjadi. Ia gagal meyakinkan saya untuk  memilihnya. Malah saya meragukan baik pemikiran, tindakan, emosi dan gaya komunikasinya. Jauh dari ekspektasi dan  informasi-informasi yang saya terima.

Baiklah saya jabarkan satu dua hal saja. Pertama soal pemikiran dalam politik dan bernegara. Saya tahu Prabowo mempunyai banyak buku. Menurut berita yang saya baca di media elektronik, ia mempunyai koleksi ribuan buku. Informasi ini saya dapat dari berita di kompas.com ketika Ahok, wakil Gubernur DKI Jakarta sekarang, datang ke rumahnya  di Kabupaten Bogor beberapa bulan lalu; kalau tidak salah waktu natalan.

Mengetahui ia punya koleksi ribuan buku, saya berharap ia akan memberikan inspirasi-inspirasi dalam berpolitik dan bernegara pada debat semalam. Tentu ini harapan yang wajar sebab para pelahap buku sering terinspirasi oleh ide-ide yang dibaca dari buku. Seperti Gus Dur yang juga pelahap buku, ia sangat menguasai topik-topik dalam politik dan kenegaraan termasuk topik demokrasi. Namun, itu tidak terlihat dari pidato maupun argumentasi Prabowo dalam debat calon presiden pertama ini. Bahkan saya bertanya dalam hati, “Inikah Prabowo yang dielu-elukan para pengikutnya?”

Saya tertarik dengan topik-topik politik dan telah membaca teori-teori politik dan beberapa buku paling penting tentang politik. Namun, dalam debat ini, saya tidak melihat dan mendengar inspirasi dari Prabowo seputar Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Kepastian Hukum. Yang muncul malah konklusi keliru. Misalnya, Prabowo mengatakan bahwa kekayaan (materi) menentukan kualitas demokrasi; ia benar-benar keliru.

Saya belum pernah membaca konklusi seperti itu dari buku-buku mengenai politik dan bernegara. Kekayaan materi bukan penentu kualitas demokrasi. Kekayaan adalah hasil dari kualitas demokrasi dan kualitas demokrasi ditentukan oleh kualitas pendidikan, sebaran informasi yang jujur dan benar-benar transparan dan media yang relatif netral. Bahkan kalau mau ditelusuri lebih dalam, kualitas demokrasi berkaitan erat dengan sila pertama dari Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Benar-benar konklusi Prabowo melenceng. Konsepnya tentang demokrasi bahkan mungkin tentang Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pun, berbeda jauh dengan konsep Soekarno-Hatta. Coba bandingkan isi Pembukaan UUD 1945 yang empat alinea itu dengan penjelasan-penjelasan dari Prabowo. 

Kedua, Prabowo gagal memberikan contoh-contoh konkrit dalam menjabarkan pemikiran yang berkaitan dengan topik debat kali ini. Presentasinya dan jawaban-jawabannya masih mengawang atau hanya sebatas retorika; miskin istilah-istilah baru dan segar seperti yang disodorkan oleh Jokowi.  Jokowi misalnya, menggunakan isitilah: blusukan ke bandaran sungai, blusukan ke pasar, e-budgeting, e-procurement, e-audit, mendengar suara rakyat, dialog dan politik anggaran. Prabowo gagal menyajikan istilah-istilah baru dan menyegarkan. Ia tidak punya ‘vocabulary’ baru bagi publik yang bisa menjadi pemicu untuk memilihnya pada pilpres 9 Juli ini.  

Bila Prabowo hebat seperti yang didengung-dengungkan orang di media atau seperti yang saya dengar langsung dari orang lain- debat calon presiden semalam sebenarnya adalah wadah pembuktiannya. Tetapi, ia gagal. Emosinya malah naik ketika isu HAM ditanyakan oleh Jusuf Kala (JK), emosi yang tidak pantas dimiliki oleh calon presiden.

Seandainya Prabowo menyajikan kisah-kisah militer yang ia pernah alami dan menghubungkannya dengan topik debat tadi malam, mungkin ia bisa memperbaiki citra atau menaikan paling tidak ratingnya. Ia bisa tadinya mengambil contoh dari pengalaman kehidupan militernya, apalagi ia adalah bagian dari unit Komando Pasukan Khusus (Kopassus), yang memiliki banyak kisah-kisah heroik sekalipun peristiwa-peritiwa itu tidak selalu terungkap ke publik. Namun, ia membuang kesempatan sangat bagus. 

Tentulah, ini baru debat calon presiden yang pertama. Saya harap, pada debat berikutnya ada solusi-solusi kreatif yang digulirkan oleh Prabowo termasuk Jokowi terhadap masalah-masalah masif dan rumit di republik ini. Masih ada 4 debat lagi. Kalau Prabowo tidak menguasai topik debat berikutnya dan tidak mengubah starategi komunikasinya terutama emosinya, ia menghabiskan energi dan uang untuk pilpres kali ini.

Semoga ia bisa belajar dari debat semalam dan para pendukung dekatnya atau elit lingkaran satunya berani memberikan kritik tajam kepadanya. Anda bisa juga mengirimkan atau menyodorkan tulisan ini kepadanya kalau ia masih berharap untuk memenangkan pilpres Juli ini.

Empat Alasan untuk Tidak Memilih Prabowo

Dua Alasan Lain untuk Tidak Memilih Prabowo

Dari Debat Calon Presiden ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.