Gubernur Ahok: Etika Bicara dan
Bahasa Toilet

Saya tidak sempat mendengar Gubernur Ahok mengucapkan bahasa toilet ketika ia diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi di Jakarta. Sebagai figur publik, tidak pantaslah pejabat publik mengucapkan bahasa toilet di televisi dan didengar jutaan orang. Siapapun akan mengkritik orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan di publik. Saya pribadipun tidak setuju kata-kata itu keluar dari bibir seorang pejabat publik.

Namun, etika bicara Gubernur DKI Jakarta dan bahasa toiletnya akan lebih baik dilihat dari seluruh konteks. Pada konteks apa ia bicara demikian? Apa motif yang paling dalam sehingga bahasa toilet keluar?

Apakah bahasa toilet dapat diinterpretasikan secara literal atau apa adanya? Atau harus dipahami dalam makna yang lebih dalam? Ini mirip seseorang memahami karya-karya klasik yang ditulis ribuan tahun lalu. Itu tidak dapat dimengerti hanya dalam bahasa sekarang tanpa memahami latar belakang budaya ketika karya klasik tersebut ditulis. Dengan kata lain, peristiwa munculnya bahasa toilet dari Gubernur Ahok harus dimengerti dalam konteksnya. Inilah menurut penulis yang tidak diperhatikan oleh sebagian masyarakat termasuk para pakar komunikasi yang diundang oleh Panitia Hak Angket DPRD DKI Jakarta. Para pakar komunikasi itu tidak melihat konteks keseluruhan ketika gubernur mengatakan bahasa toilet.

Saya pribadi mengikuti hampir setiap hari apa yang terjadi di DKI Jakarta melalui media on-line. Penulis membaca beberapa artikel tentang berita-berita yang berkaitan dengan pemimpin no. 1 di DKI Jakarta sehingga penulis mengetahui sedikit banyaknya konteks munculnya bahasa toilet.

Konteksnya seperti apa? Singkatnya, korupsi yang begitu merajalela di DKI Jakarta.

Dan yang menarik, itu sudah berjalan sejak Jokowi-Ahok jadi Gubernur dan Wakil Gubernur. Mengutip angka statistik saja, kira-kira Rp12.7 Triliun merupakan anggaran siluman dalam APBD 2015 versi DPRD DKI Jakarta. Siapakah yang menyelipkan? Disebutkan di media bahwa ada kongkalikong antara beberapa anggota DPRD DKI dan SPKD Pemprov DKI Jakarta.

Anggran siluman ini semakin diperkuat dengan menguaknya kasus UPS (Uninterruptible Power Supply) di beberapa sekolah. Di media disebutkan bahwa program tersebut bukanlah atas permintaan sekolah, tetapi diberikan ke sekolah tanpa sepengetahuan sekolah tersebut. Dan ada Rp40 Triliun lebih anggaran siluman sejak pemerintahan Jokowi Ahok, yaitu sejak tahun 2012. Bukankah angka itu sangat-sangat besar? Bagaimana kalau ditelusuri sampai ke tahun-tahun sebelum 2012?

Penyalahgunaan Anggaran Rp40 Triliun vs Bahasa Toilet? Mana Lebih Berdampak Buruk?

Yang baru disebutkan di atas hanyalah satu dari ratusan bahkan ribuan kisah penyalahgunaan anggaran, yang merupakan konteks dari bahasa toilet. Etika bicara Gubernur Ahok harus dibaca dalam konteks korupsi begitu merajalela dan akal sehat semakin luntur, bukan hanya membaca konten bahasa toilet an sich.

Bila konteks itu dilihat, bahasa toilet bisa sebagai ekspresi kemuakan yang begitu dalam terhadap perilaku para koruptor. Ini tidak mau mengatakan bahwa bahasa toilet adalah bahasa yang baik untuk diucapkan di depan publik. Bila mencari pembenaran, pernah ada Nabi bicara kasar kepada 'lawan-lawan politiknya' sampai mengatakan kata-kata yang lebih mengerikan dari baha toilet, "Terkutuklah engkau..., terkutuklah engkau...." Entah berapa kali nabi mengucapkan kata-kata itu karena melihat kedegilan hati lawan-lawannya. Karena sekalipun kelihatan beretika atau menggunakan bahasa sopan, tetapi mempunyai hati yang bebal.

Bahasa toilet bukanlah kata-kata yang pantas diucapkan di publik. Namun, konteks bahasa toilet itu harus dilihat secara utuh. Dengan demikian, kita dapat memahami motif yang membuat Gubernur Ahok mengucapkan kata-kata demikian. Seperti ia katakan di media, ia muak melihat tingkah-tingkah lawan-lawan politiknya yang berbicara sopan, tetapi melakukan korupsi yang gila-gilan. Gubernur DKI Jakarta sedang menghadang korupsi yang menggurita di jantung republik ini. Ini merupakan respon sebagai bukti rasa cintanya terhadap Negara; sedangkan korupsi merupakan akibat dari kondisi pikiran yang sudah rusak, yang sudah tentu selalu merusak Negara. 

LINK TERKAIT

Effective Public Speaking

Habits of the Mind

Thinking with Six Hats

Dari Gubernur Ahok ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK
0813-1141-8800
021-8430-3041