Perubahan Sikap Ketika Harta
Kekayaan Bertambah

Sudah merupakan hukum alam bahwa harta kekayaan bisa diperoleh orang-orang yang bekerja dengan rajin, rasional, bijak dan menggunakan segala potensi dirinya.

Mereka akan mendapatkan pekerjaan dengan kompensasi yang bagus. Tidak ada hukum alam yang memberikan penghasilan besar dengan bekerja sedikit atau bekerja setengah hati. Bahkan yang tidak bekerja tidak pantas mendapat makan. Tapi, bagi mereka yang bekerja keras, rajin, dan menggunakan akal sehat- upahnya adalah penghasilan yang besar.

Dengan penghasilan besar baik itu berupa gaji atau keuntungan dari usaha bisnis, kekayaan bisa bertambah. Namun, bertambahnya kekayaan tidak selalu diikuti oleh perilaku-perilaku yang baik dan benar. Etika, perilaku bahkan gaya bicara bisa berubah.

Ketika penghasilan kecil, kita bisa kelihatan bersikap rendah hati bahkan merasa rendah diri; volume suara kecil ketika berbicara dalam pertemuan. Ketika penghasilan besar, kata-kata bisa berisi nada-nada
optimis seperti yang sering diperagakan oleh mereka yang mendapat pelatihan berpikir positif.

Muncul rasa percaya diri bahkan rasa percaya diri yang berlebihan. Volume suara pun bisa bertambah besar.

Gaya hidup pun bisa berubah ketika penghasilan besar. Yang tadinya berhati-hati, sekarang tidak berpikir panjang untuk membelanjakan uang. Tadinya belanja di pasar tradisionil, sekarang belanja di mal. Segala sesuatu dianggap mudah; pertimbangan matang diabaikan. Keinginan pun berubah dengan bertambahnya harta kekayaan. Barang yang tadinya dianggap sekunder, sekarang jadi primer.

Perubahan tidak hanya terjadi pada etika, gaya bicara, gaya hidup, dan keinginan, tapi
merambah pada sikap hati. Muncul
kesombongan dalam berbagai
bentuk- mulai dari sikap ingin dipuji,
dihormati, merendahkan orang lain bahkan
sampai mengabaikan eksistensi Tuhan.

Itulah perubahan perilaku yang terjadi pada Roni (bukan nama sebenarnya). Datang dari kota kecil untuk mengadu nasib di Jakarta, Roni hanya bermodalkan izasah SMA dan sedikit uang untuk biaya kuliah. Setamat kuliah, ia mendapat pekerjaan. Pekerjaannya pun tidak memberikan penghasilan yang relatif besar, tetapi Roni bekerja keras dan menggunakan naluri bisnisnya dalam pekerjaan.

Dengan berjalannya waktu, Roni pelan-pelan merasakan hasil jerih payahnya. Ia mampu membeli rumah kecil, membeli tanah, membangun rumah baru yang miliaran rupiah, membeli properti bahkan ia pun melebarkan sayap bisnisnya ke bidang-bidang lain dengan investasi miliaran rupiah.

Yang menarik dari diri Roni adalah ia tidak lupa kepada orang tua dan saudara-saudarinya. Ia berbuat baik bagi orang-orang terdekatnya. Apa saja yang diinginkan orang tua dan saudara-saudaranya selalu ia berikan. Ia memberikan kesempatan kepada orang tuanya untuk jalan-jalan ke luar negeri. Ia memberikan bantuan keuangan termasuk membantu biaya pengobatan bahkan pengobatan yang mahal sekalipun.

Namun, bertambahnya harta kekayaan tidak dibarengi dengan kesiapan mental. Roni tidak mampu mengendalikan perilakunya. Dalam berbagai kesempatan Roni menunjukkan kepada orang lain tentang keberhasilannya. Ia ingin diakui dan dikenal oleh orang lain. Sikap kesombongan pelan-pelan menyelinap dalam diri Roni.

Bukan hanya Roni saja, orang-orang terdekat Roni, kecuali isterinya, juga mengalami perubahan perilaku. Kesombongan menggerogoti hati orang tuanya. Orang tua dan saudara-saudari Roni menyarankan agar isteri Roni juga ikut tampil beda dan punya penampilan yang pantas sebagai orang kaya.

Isterinya memang tidak larut atas keberhasilan suaminya. Ia paham bahwa kekayaan
ibarat burung rajawali yang bisa
terbang. Hari ini harta ada,
esok lusa bisa pergi. Isterinya
tidak mau terjebak terhadap gaya
hidup yang borjuis atau pamer. Sekalipun kekayaan bertambah, ia bersikap biasa dan tampil bersahaja. Tidak muncul sikap menjaga imej.

Isteri Roni jadi sendirian di tengah-tengah keluarga yang sedang merasakan nikmatnya kekayaaan. Ia sering tidak disertakan mengambil keputusan untuk membantu keluarga Roni. Isterinya ibarat
orang asing dalam keluarganya, tapi isterinya bersabar dan menahan diri terhadap sikap-sikap keluarga yang memuakkan.

Harta kekayaan memang bisa membuat seseorang bahagia sekaligus mengundang bahaya. Tidak mudah mengontrol perilaku ketika kekayaan semakin bertambah.

Link Terkait

Peran Uang dan Harta dalam Kehidupan

Mengelola Uang dengan Bijak: Nasehat Buat Pekerja Pemula

Mengumpulkan Harta dengan Benar

Langkah-Langkah Menyimpan Harta di Bumi

Langkah-Langkah Menyimpan Harta di Surga

Perubahan Perilaku Orang Tua Ketika Anaknya Sukses

Perubahan Sikap Ketika Harta Kekayaan Bertambah

Daya Tarik Uang: Menerima 'Empelop' dari Vendor

Falsafah Sukses Andrie Wongso: "Success Is My Right.'



Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Apa Itu Financial Freedom?

Rahasia Menjadi Kaya

Bagaimana Mencegah Stress?

SEMINAR

Start Your Own Business

Habits of the Mind

Luminance of the Mind

KONTAK

0813-1141-8800