Visi Indonesia Raya

Negara yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur

Mungkinkah Indonesia Raya terwujud? Kalau melihat konstelasi politik saat ini dan  perilaku para pejabat yang melakukan korupsi- saya pesimis. Sangat kecil kemungkinan negeri ini bisa mencapai cita-cita itu. Saya tidak tahu apa alasan para 'Founding Fathers' negeri ini membuat cita-cita yang begitu tinggi. Apakah mereka tidak memikirkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi untuk meraihnya? Pemikiran ini mungkin terlintas di pikiran mereka. Namun, apakah mereka punya pemikiran yang komprehensif tentang cita-cita itu- saya ragu sekalipun saya tahu mereka adalah para pemikir yang hebat dan ini bisa dilihat dari isi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Saya hanya mau menyoroti tiga hal saja di halaman ini: bersatu, adil dan makmur. Ketiga hal ini saja sudah membutuhkan pembahasan panjang, tetapi saya akan ulas secara singkat saja.

Salah satu elemen yang sangat penting, yang masih bisa mempersatukan seluruh bangsa kita adalah bahasa. Syukurlah, kita pernah memiliki Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Tidak disebut satu agama. Ini membuat para pemeluk agama yang minoritas bisa bernafas lega. Bahasa menjadi elemen yang bisa mempersatukan kita.

Namun, rasa kesatuan bisa pudar bila tidak diimbangi oleh rasa keadilan. Ini bisa dilihat dalam sejarah negara Paman Sam (Amerika Serikat) yang pernah menjadi bagian dari koloni Kerajaan Inggris. Negeri itu akhirnya memisahkan diri dari Kerajaan Inggris sekalipun bahasa Inggris merupakan bahasa yang mayoritas di negeri Paman Sam itu.

Salah satu elemen yang sangat penting, yang masih bisa mempersatukan seluruh bangsa kita adalah bahasa.

Indonesia Raya

Negeri kita juga pernah mengalami hal yang mirip seperti kisah Timor Leste, bekas jajahan Portugis itu. Tadinya, negeri itu bagian dari negeri ini sebagai Propinsi Timor Timur, tetapi mereka akhirnya memilih berpisah dari negeri kita. Bisa diduga bahwa salah satu penyebab adalah tidak ada rasa keadilan, yang merupakan elemen penting dalam mempersatukan bangsa yang terdiri dari beragam suku dan budaya. Sedikit daerah yang mau berpisah dari sebuah negara besar kalau keadilan hadir. 

Kata keadilan pun sebenarnya merupakan topik yang besar. Bagaimana kita mengartikan keadilan dalam konteks bernegara? Apakah ini bisa diterapkan? Saya akan sorot terutama tentang kebebasan beragama, salah satu unsur yang disebut bisa membuahkan keadilan dan juga kemakmuran. Apakah setiap warga negara masih memiliki praksis kebebasan beragama dalam arti yang seluas-luasnya?

Sering kali ini menjadi komoditas politik di negeri kita. Undang-undang yang mengatur inipun dibuat begitu rumit dan sulit bagi pemeluk agama minoritas apapun di wilayah yang mayoritas memeluk agama mayoritas untuk mendirikan tempat ibadah. Berlapis-lapis persyaratan hanya untuk mendapatkan izin membangun tempat ibadah. Apakah itu agama Kristen, Islam, Hindu, Buddha atau kepercayaan lain- pemeluknya kadang bahkan sering sulit membangun tempat ibadah dan kadang sulit melakukan ritual agama bagi pemeluk kepercayaan tertentu. Padahal, kebebasan beragama merupakan pemberian Tuhan.

Apakah itu agama Kristen, Islam, Hindu, Buddha atau kepercayaan lain- pemeluknya kadang bahkan sering sulit membangun tempat ibadah dan kadang sulit melakukan ritual agama bagi pemeluk kepercayaan tertentu. Padahal, kebebasan beragama merupakan pemberian Tuhan.

Negeri yang makmur, Indonesia Raya- kapan itu bisa terwujud? Negeri kita sudah eksis lebih dari 70 tahun. Baru-baru ini saja ada tanda-tanda kemajuan karena pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun termasuk menghubungkan daerah yang satu dengan daerah yang lain dengan membangun infrastruktur. Jalan dibangun ribuan kimometer, yang tidak pernah dilakukan pemerintah sebelumnya selama puluhan tahun. Sebelum pemerintahan sekarang, pulau-pulau yang jauh dari Jawa dibiarkan ketinggalan bahkan sampai sekarang masih ada suku yang belum berpakaian seperti layaknya orang yang beradab. Namun, ada setitik harapan dari pemerintahan yang baru dan kita harap ini terus berlanjut. Namun, sampai kapan itu bisa berlangsung?

Istilah adil dan makmur bisa memicu pertanyaan. Apakah kedua konsep ini bisa hidup berdampingan? Apakah keadilan bisa sama-sama tumbuh subur dengan kemakmuran? Saya tidak tahu apakah Swiss, Amerika Serikat atau Singapore, negara yang paling dekat dengan negeri kita memiliki kedua hal ini- keadilan dan kemakmuran? Kita tahu Singapore sudah maju dan sampai sekarang disebut sebagai salah satu negara yang makmur, tetapi apakah ada keadilan yang sejati di sana?

Istilah adil dan makmur bisa memicu pertanyaan. Apakah kedua konsep ini bisa hidup berdampingan? Apakah keadilan bisa sama-sama tumbuh subur dengan kemakmuran?

Biasanya hanya salah satu yang didapat: keadilan atau kemakmuran. Kalau mau adil, kemakmuran tidak didapat; kalau mau makmur, keadilan tidak diperoleh. Singapore mungkin salah satu contoh yang dekat dengan ini. Negerinya makmur. Kalau mau tahu sebaik apa negeri itu, datang saja ke sana. Tak sampai dua jam, Anda akan melihat sebuah negara yang tertata dengan rapih. Meludah saja tidak bisa di jalan, apalagi korupsi. Namun demikian, apakah ada keadilan di negeri itu, khususnya kebebasan berpolitik? 

Negeri kita mungkin tidak akan mencapai cita-cita Pendiri Negeri ini. Saya juga ragu apakah Indonesia Raya bisa diraih. Kalau negeri kita lebih baik dari tahun ke tahun, itu sudah menggembirakan. Tidak ada lagi demo seperti demo 411, apalagi demo lanjutan; jalan raya tidak berlobang. Sudah hampir satu bulan Jalan Leuwinanggung, jalan keluar dari komplek rumah saya, dibiarkan berlobang sampai kedalaman 30 sentimeter oleh pemerintah Kota Madya Depok. Tidak tahu sampai kapan itu diperbaiki. Mungkin sampai tahun 2017, setelah anggaran baru sudah disetujui; keburu mobil saya harus masuk bengkel gara-gara jalan rusak yang hanya 70 meter. 

Saya tidak begitu berharap cita-cita negeri ini terwujud dalam waktu 30 tahun mendatang. Kalau korupsi semakin berkurang dan kebebasan beragama semakin membaik- itu saja sudah bagus dan bisa jadi tanda menuju negeri yang lebih baik. Kalau warga negara di republik ini mendapat kebebasan beragama di seluruh pelosok negeri ini dan tidak ada undang-undang yang membatasi kebebasan ini, negeri kita bisa lebih cepat makmur.

Cita-Cita Indonesia Raya

Namun, apakah itu akan terwujud? Saya perkirakan tidak dalam waktu dua dekade. Ketika kita mau mewujudkan kebebasan beragama, banyak rintangan akan menghadang. Musuh-musuh dari 'udara' akan menyusun barisan yang kokoh untuk menjegal kebeasan ini. Mereka akan menggunakan segala macam cara untuk mempersempit ruang ini. Itu sebabnya saya kuatir bila ada komponen bangsa bersikap  ekstrim. Ini bisa menjadi penghalang untuk mencapai negeri yang bersatu, adil dan makmur. 

Renungan:

  1. Coba dengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya hari ini dan resapilah isi syairnya. Ini bisa menolong rasa kebangsaan dan nasionalisme muncul dalam diri Anda.
  2. Juga Anda hafalkan isi Sumpah Pemuda; umurnya sudah lebih seratus tahun. Anda masih ingat? 

SEMINAR: PARADIGM CHANGE
08.00 - 17.00; Jadwal Jakarta 
Kontak: 0813-1141-8800; 0813-1122-1148;
E-mail: info@business-excellence-luminance.co.id
  


Link Terkait

Apa Tujuan Hidup Anda?


Bagaimana Merumuskan Sasaran Pribadi Anda?

Mengevaluasi Sasaran Hidup Pribadi Sangat Penting


Inilah Resep Sederhana Meningkatkan Motivasi Hidup Anda

Kritik terhadap Teori Motivasi Maslow

Isi Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia

Visi Indonesia Raya

Sasaran Pribadi dan Visi Indonesia Raya


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK
0813-1141-8800 (WA)

SEMINAR

Worldview

Luminance of the Mind

Six Habits of the Mind

Code of Business Ethics and Conduct

Professional Mediator

Apa Tujuan Hidup Anda?

Bagaimana Menambah Penghasilan Anda dengan Modal Kecil?