Istilah Kafir: Meluruskan Makna

Istilah Kafir Yang Disalahgunakan

Dalam berita akhir pekan di salah satu siaran televisi, ada berita tentang buruknya suasana Pilkada DKI Jakarta. Politisasi agama semakin kental. Spanduk yang beraroma SARA dipasang di beberapa tempat. Ada spanduk berisi, 'Jangan pilih orang kafir sebagai pemimpinmu.' Tentulah yang dimaksud di spanduk itu adalah adalah petahana Gubernur Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Dari latar belakang agama, Ahok adalah non-Muslim. Karena ia adalah non-Muslim, ia adalah orang kafir menurut ajaran Islam.

Saya membuat survey kecil-kecilan tentang apa yang dimaksud dengan kafir. Saya masukkan ke Google kata istilah kafir. Dalam hitungan detik, Google menyajikan beberapa postingan dan saya membaca infomasi yang disajikan di Wikipedia. 

Menurut Wikipedia, "Kafir (bahasa Arab: kafir; plural: kuffar) adalah orang yang menentang, menolak, kebenaran dari Allah Swt yang di sampaikan oleh Rasul-Nya atau secara singkat kafir adalah kebalikan dari iman. Dilihat dari istilah, bisa dikatakan bahwa kafir sama dengan non muslim, yaitu orang yang tidak mengimani Allah dan rasul-rasul-Nya serta ajarannya."

Agama lain pun sebenarnya memiliki istilah kafir. Salah satu bangsa yang sampai saat ini konsisten menerapkan istilah ini adalah bangsa Yahudi. Bagi mereka, semua bangsa non-Yahudi adalah kafir; mereka bukan bangsa pilihan. Mereka punya tradisi 3500 tahun lebih dan banyak yang masih diterapkan sampai sekarang. Begitu ekstrim tradisinya, orang Yahudi misalnya, tidak mau makan semeja dengan bangsa non-Yahudi. Mereka tidak mau menikah dengan bangsa non-Yahudi. Kalaupun ada yang mau menikah dengan orang Yahudi, mereka harus menuruti ritual-ritual agama Yahudi.

"Kalau mau diperas seluruh ajaran agama apapun, inti ajaran akan masuk ke dalam kedua prinsip ini. Pertama, kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; kedua, kasihihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Agama lain seperti Kristen pun masih memiliki konsep kafir. Namun, istilah ini tidak sering digunakan; istilah yang dipakai adalah orang yang belum percaya kepada Tuhan atau orang yang belum bertobat, yang substansinya sama dengan istilah kafir. Bagi orang Kristen, orang yang belum bertobat adalah orang yang tidak percaya kepada Allah Bapa, Allah Anak, yaitu Yesus Kristus, dan Allah Roh Kudus.

Namun, di ajaran Kristen, yang berdasarkan Alkitab, tidak diajarkan untuk membenci orang yang belum percaya. Dengan kata lain, orang Kristen tidak diperintahkan untuk membenci orang kafir. Justru, orang Kristen diperintahkan untuk mengasihi sesama manusia. Tidak ada larangan bagi pemeluk agama Kristen untuk memilih non-Kristen jadi Bupati, Gubernur atau Presiden. 

Kalau mau diperas seluruh ajaran agama apapun, inti ajaran akan masuk ke dalam kedua prinsip ini. Pertama, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu." Kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Seluruh hakekat ajaran agama berpusat di kedua prinsip ini; tidak ada yang lain.  Kedua prinsip ini kemudian, akan dijabarkan ke dalam berbagai bidang- keluarga, pendidikan, bisnis, hukum, politik, agama, dan bidang lain. Bila ada prinsip-turunan dan praksis ajaran agama yang keluar dari kedua prinsip ini, prinsip dan praksis itu patut dipertanyakan.

Pertanyaan-Pertanyaan tentang
Istilah Kafir dan Maknanya

Kalau kita membaca definisi kafir yang disajikan di Wikipedia, ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan. Misalnya, yang mana kebenaran dari Allah Swt? Apakah yang dimaksud adalah kebenaran Allah yang ada dalam Al Quran? Sudah pasti Al Quran-lah yang dimaksud. Mungkin masih ada Hadits. Namun, bila dikaji lebih dalam, apa saja yang diajarkan dalam Al Quran? Tentu, ajarannya banyak termasuk melakukan lima rukun Islam dan beragam perbuatan baik yang telah ditulis di Al Quran.

Bagaimana dengan orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak melakukan substansi ajaran Islam? Ada yang mengaku sebagai Islam, tetapi ia tidak melakukan substansi ajaran Islam. Apakah ia disebut kafir? Mungkin kita sungkan mengatakan bahwa ia adalah kafir, tetapi dalam hati kita akan mengakui bahwa ia adalah kafir.

Pertanyaan yang barangkali sukar dijawab adalah bagaimana kalau ada orang yang non-Muslim melakukan subtansi ajaran Islam, khususnya dalam perbuatan baik seperti keadilan, kejujuran, belas kasihan dan perbuatan lainnya, tetapi tidak melakukan ritual-ritual agama Islam seperti sembahyang lima kali sehari, berpuasa atau tidak sembahyang di mesjid dan ritual agama Islam lainnya. Apakah ia disebut kafir?

Kalau misalnya kita sandingkan orang yang non-Muslim, tetapi melakukan substansi ajaran Islam dan orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak melakukan substansi ajaran Islam- yang mana sesungguhnya kafir?

Bagaimana pun, kesungguhan iman seseorang kepada Tuhan harus bisa dibuktikan dalam perbuatan. Iman tanpa perbuatan, pada hakekatnya, adalah iman yang mati. Seperti orang mati, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Orang yang tidak beriman sungguh-sungguh kepada Tuhan juga tidak dapat berbuat apa yang baik di hadapan Tuhan.

Kalau misalnya kita sandingkan orang yang non-Muslim, tetapi melakukan substansi ajaran Islam dan orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak melakukan substansi ajaran Islam- yang mana sesungguhnya kafir? Bila berpikir rasional, mau tidak mau, kita perlu merekonstruksi ulang makna  kata kafir. Elit agama dan elit masyarakat harus berhenti meng-kampanye-kan istilah kafir. Toh, secara substansi kita semua dulunya adalah orang kafir. Yang berbeda, ada yang sudah beradab, sedangkan yang lain belum berkembang peradabannya. (JM)


Copyright 2009-2017 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Rasa Malu

Menyalahkan Orang Lain

Akar Permasalahan Bangsa Kita

Bagaimana Mewujudkan Revolusi Mental?




Peluang Investasi

Butuh Dana untuk Proyek SKBDN?

Anda Butuh Investor?

KONTAK: 0813-1141-8800


Jual Beli Tanah, Rumah, Villa & Properti