Home
Artikel Terkini
Excellence
Public Training
In-House Training
Tujuan Hidup
Pengenalan Diri
Etika
Etos Kerja
Skill Dasar
Pekerjaan
Tenaga Kerja
Uang dan Harta
Pendidikan
Budaya
4_Life
Tentang Kami
Hubungi Kami
Privacy Policy
Site Search
Berlangganan

Subscribe To This Site
XML RSS
Add to Google
Add to My Yahoo!
Add to My MSN
Subscribe with Bloglines

Asal-Usul Kebiasaan Mengkritik

Kebiasaan mengkritik melekat pada tiap pribadi. Tidak ada pengecualian. Apakah ia pemimpin agama atau jemaat, berpendidikan tinggi atau rendah, pekerja atau penggangguran, orang kaya atau miskin, berpengalaman banyak atau sedikit, sikap mengkritik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari personalitas seseorang. Kritik bisa langsung muncul ketika orang lain berbicara, mengeluarkan pendapat, membaca tulisan orang lain, atau melihat pekerjaan tidak selesai, sikap tidak becus, sesuatu tidak teratur, makanan kurang enak, atau berbagai macam situasi termasuk ketika mendengar ide baru. Ibarat menara, kritik berdiri tegak tanpa berpikir panjang. Apakah pantas atau tidak- kritik digulirkan; tidak dipertimbangkan apakah itu akan membangun orang lain atau merusak citra diri sendiri.

Kebiasaan mengkritik ini, menurut Edward de Bono, diwarisi dari gereja. Selama ribuan tahun gereja dihantui persoalan-persoalan doktrin, yang hanya memberi dua pilihan: salah atau benar. Dipengaruhi pemikir Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, kebiasaan ini tumbuh subur di kalangan pemimpin gereja dan tanpa disadari, kebiasaan ini membawa dampak negatif kepada jemaat. Jemaat pun mewarisi kebiasaan ini lewat khotbah yang didengar dari mimbar setiap minggu. Kebiasaan menyalahkan ini akhirnya terbawa ke dalam keluarga. Suami dan isteri saling mengkritik; begitu juga antara orang tua dan anak. Tidak hanya di rumah, kebiasaan ini pun terbawa juga ke komunitas. Warga memperagakan kebiasaan ini dalam setiap pertemuan warga. Jadilah komunitas yang cenderung mengkritik di publik dan dunia kerja.

Bagaimana kebiasaan mengkritik terbentuk?

Edward de Bono mengatakan bahwa kebiasaan ini terbentuk dalam pikiran melalui proses pengulangan. Informasi yang diterima berulang-ulang akhirnya membentuk pola. Ibarat air hujan yang turun ke permukaan tanah, aliran air terbentuk dengan sendirinya. Bila di kemudian hari hujan turun, aliran air tidak banyak berubah. Air hujan akan mengikuti pola yang sudah terbentuk. Proses yang mirip terjadi dalam pikiran. Informasi yang diterima dengan sendirinya membentuk pola. Semakin sering informasi yang sejenis diterima, pola akan terbentuk dan dengan perjalanan waktu, pola itu makin kuat. Dan dengan terbentuknya pola yang kuat, hanya informasi yang sejenis yang akan diterima; informasi yang berbeda dengan pola yang terbentuk ditolak. Inilah biang keladi dari kebiasaan mengkritik menurut Edward de Bono.


Namun, tidak semua pandangan Edward de Bono ini bisa diterima.


Kebiasaan ini tidak hanya diwarisi dari pemikir Yunani. Tanpa pengaruh pemikir-pemikir Yunani pun, manusia sudah cenderung mengkritik, mengejek, mencela, dan mengolok-olok. Ini bisa dilihat dari sikap anak kecil. Anak kecil yang belum sekolahpun sudah bisa mengkritik dan melakukan hal-hal yang menjengkelkan. Bukan hanya itu saja, anak kecil bisa memberontak bahkan melawan orang tua. Jadi, sikap mengkritik ini sudah melekat pada diri seseorang sejak ia dalam kandungan.

Ada dua kemungkinan sumber kebiasaan negatif ini. Pertama, itu diterima dari orang tua secara lahiriah. Namun, ini meninggalkan beberapa pertanyaan. Karena proses berpikir terjadi dalam jiwa atau roh, apakah jiwa seseorang berasal dari orang tua? Jikalau jiwa bersumber dari orang tua, apakah orang tua sosok penentu dalam menghadirkan seseorang? Jawaban-jawaban 'ya' diragukan. Ayah dan ibu memang mengambil peran dalam menghadirkan anak; ibu berperan ketika seorang bayi lahir, tetapi diragukan kalau kebiasaan mengkritik diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Satu-satunya jawaban adalah bahwa kebiasaan menyalahkan orang lain berasal dari natur manusia yang sudah rusak total. Bila ditelusuri, kebiasaan ini berawal dari kisah pemberontakan manusia pertama. Adam diperhadapkan terhadap keputusan yang sangat penting dalam hidupnya. Ia harus membuat pilihan apakah akan mentaati Allah atau tidak ketika ada larangan untuk tidak memakan buah pohon di tengah taman Eden. Tidak ada informasi bagaimana Adam bergumul dan berapa banyak energi yang terkuras sebelum mengambil keputusan. Yang jelas Setan menggoda Hawa; ada percakapan antara Ular dan Eva, yang merupakan batu loncatan buat Setan untuk menaklukkan Adam.

Ujung ceritanya, Adam gagal. Ia memilih untuk taat kepada Setan dan memberontak kepada Allah. Meminjam istilah John Piper, Adam melakukan dosa spektakuler yang pertama. Naturnya jadi rusak; hati, pikiran, emosi, dan kemauan tidak lagi orisinil. Ada perubahan total dalam personalitasnya. Inilah cikal bakal natur setiap individu dan akar dari kebiasaan mengkritik- mulai dari olokan, celaan, ejekan, senda gurau yang menjengkelkan, sampai pada kritik-kritik yang mentah maupun matang yang dirancang untuk melemahkan posisi orang lain.

Renungan:

  1. Menurut Anda, dari mana sikap memberontak, melawan atau mengkritik muncul pada seorang anak kecil?
  2. Bagaimana Anda mengurangi atau melemahkan kebiasaan mengkritik ini?


Artikel Terkait:

Melemahkan Kebiasaan Mengkritik
Ada 6 langkah untuk melemahkan (mengurangi) kebiasaan mengkritik.

Kekuatan Berpikir Negatif
Berpikir negatif (kritis) sangat diperlukan di tengah-tengah gempuran ide yang bagus dan cemerlang untuk memperbaiki sesuatu.

Melatih Pikiran dengan Membaca
Dengan membaca, pikiran-pikiran kering, kalut dan kusam akan tersingkir. Pikiran berangsur-angsur pulih; muncul gairah baru.

Mata Kuliah Filsafat: 'Nutrisi' untuk Pikiran

Mata kuliah Filsafat pantas dimasukkan dalam daftar mata kuliah-dasar pada kurikulum mahasiswa.

Kecakapan Dasar untuk Putra-Putri Indonesia
Sepuluh Kecakapan dasar yang Anda perlukan untuk mencapai sasaran hidup pribadi Anda.

Daftar Artikel di Putra-Putri-Indonesia.com

Dari Asal Usul Kebiasaan Mengkritik ke Halaman Depan (Home)



Keep Learning Keep Growing

4Life Transfer Factor
Best Solution for your
Body Health

Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com

Enter your E-mail Address
Enter your First Name
Then

Don't worry -- your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Upcoming Seminar

Effective Meeting at Workplace
24 Mei 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Rp1.000.000
Early Bird (before 14 Mei 2012),
Rp900.000

Organized by:
PT. Business Excellence Luminance
Management Consulting and Smart Training

Contact No.:
0813-1141-8800 or 021-2637-1155

Speaker: Judika Malau

'Testimony':

"Instruktur sudah sangat-sangat professional dan berpengalaman dalam penguasaan materi. Dari seminar yang diberikan, banyak manfaat yang membangun yayasan kami ke depan." (Wilfirmus Uwil, Yayasan ASRI, Kalimantan Barat)

Public Training in 2012
for People and Business to Grow

In-House Training



SPONSOR

Alma Butik dan Kursus Jahit