Asal-Usul Kebiasaan Mengkritik

Kebiasaan mengkritik melekat pada tiap pribadi. Tidak ada pengecualian. Apakah ia pemimpin agama atau jemaat, berpendidikan tinggi atau rendah, pekerja atau penggangguran, orang kaya atau miskin, berpengalaman banyak atau sedikit, sikap mengkritik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari personalitas seseorang.

Kritik bisa langsung muncul ketika orang lain berbicara, mengeluarkan pendapat, membaca tulisan orang lain, melihat pekerjaan tidak selesai, memperhatikan sikap tidak becus, melihat sesuatu tidak teratur, merasakan makanan yang kurang enak, atau berbagai macam situasi termasuk ketika mendengar ide baru.

Ibarat menara, kritik berdiri tegak tanpa berpikir panjang. Apakah pantas atau tidak- kritik digulirkan; tidak ada pertimbangan matang apakah itu akan membangun orang lain atau merusak citra diri sendiri.

Kebiasaan mengkritik ini, menurut Edward de Bono, diwarisi dari gereja. Selama ribuan tahun
gereja dihantui persoalan-persoalan doktrin, yang hanya memberi dua pilihan: salah atau benar.

Dipengaruhi pemikir Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, kebiasaan ini tumbuh subur di kalangan pemimpin gereja dan tanpa disadari, kebiasaan ini membawa dampak negatif kepada jemaat.

Jemaatpun mewarisi kebiasaan ini lewat khotbah yang didengar dari mimbar setiap minggu. Kebiasaan menyalahkan ini akhirnya terbawa ke dalam keluarga. Suami dan isteri saling mengkritik; begitu juga antara orang tua dan anak.

Tidak hanya di rumah, kebiasaan ini pun terbawa juga ke komunitas. Warga memperagakan kebiasaan ini dalam pertemuan warga. Jadilah komunitas yang cenderung mengkritik di publik dan dunia kerja.

Bagaimana kebiasaan mengkritik terbentuk?
Edward de Bono mengatakan bahwa kebiasaan ini terbentuk dalam pikiran melalui proses pengulangan. Informasi yang diterima berulang-ulang akan membentuk pola.

Ibarat air hujan yang turun ke permukaan tanah, aliran air terbentuk dengan sendirinya. Bila di kemudian hari hujan turun, aliran air tidak banyak berubah. Air hujan akan mengikuti pola yang sudah terbentuk.

Proses yang mirip terjadi dalam pikiran. Informasi yang diterima dengan sendirinya membentuk pola. Semakin sering informasi yang sejenis diterima, pola akan terbentuk dan dengan perjalanan waktu, pola itu makin kuat.

Dengan terbentuknya pola yang kuat, hanya informasi yang sejenis yang akan diterima. Informasi yang berbeda dengan pola yang terbentuk ditolak. Inilah biang keladi dari kebiasaan mengkritik menurut Edward de Bono.

Namun, tidak semua pandangan Edward de Bono ini bisa diterima. Kebiasaan ini tidak hanya diwarisi dari pemikir-pemikir Yunani. Tanpa pengaruh pemikir-pemikir Yunani pun, manusia sudah cenderung mengkritik, mengejek, mencela, dan mengolok-olok. Ini bisa dilihat dari sikap anak kecil.

Anak kecil yang belum sekolahpun sudah bisa mengkritik dan melakukan hal-hal yang menjengkelkan. Bukan hanya itu saja, anak kecil bisa memberontak bahkan melawan orang tua. Jadi, sikap mengkritik ini sudah melekat pada diri seseorang sejak ia dalam kandungan.

Ada dua kemungkinan sumber kebiasaan negatif ini. Pertama, itu diterima dari orang tua secara lahiriah. Namun, ini meninggalkan beberapa pertanyaan. Bila proses berpikir terjadi dalam jiwa atau roh, apakah jiwa seseorang berasal dari orang tua?

Jikalau jiwa bersumber dari orang tua, apakah orang tua sosok penentu dalam menghadirkan seseorang? Jawaban-jawaban 'ya' diragukan.

Ayah dan ibu memang mengambil peran dalam menghadirkan anak. Ibu berperan ketika seorang bayi lahir, tetapi diragukan kalau kebiasaan mengkritik diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Satu-satunya jawaban adalah bahwa kebiasaan menyalahkan orang lain berasal dari natur manusia yang sudah rusak total. Bila ditelusuri, kebiasaan ini berawal dari kisah pemberontakan manusia pertama. Adam diperhadapkan terhadap keputusan yang sangat penting dalam hidupnya.

Ia harus membuat pilihan apakah akan mentaati Allah atau tidak ketika ada larangan untuk tidak memakan buah pohon di tengah taman Eden.

Tidak ada informasi bagaimana Adam bergumul dan berapa banyak energi yang terkuras sebelum mengambil keputusan. Yang jelas Setan menggoda Hawa; ada percakapan antara Ular dan Eva, yang merupakan batu loncatan buat Setan untuk menaklukkan Adam.

Pendek cerita, Adam gagal. Ia memilih untuk taat kepada Setan dan memberontak kepada Allah. Meminjam istilah John Piper, Adam melakukan dosa spektakuler yang pertama. Naturnya jadi rusak. Hati, pikiran, emosi, dan kemauan tidak lagi orisinil.

Ada perubahan total dalam personalitasnya. Hati, pikiram dan emosinya berubah. Inilah cikal bakal natur setiap individu dan akar dari kebiasaan mengolok, mencela, mengejek, senda gurau yang menjengkelkan, sampai memberikan kritik-kritik yang mentah maupun matang yang dirancang untuk melemahkan posisi orang lain.

Renungan:

  • Menurut Anda, dari mana sikap memberontak, melawan atau mengkritik muncul pada seorang anak kecil?
  • Bagaimana Anda mengurangi kebiasaan mengkritik ini?

    

Hadiri Seminar Habits of the Mind

Link Terkait

Pola Pikir (Kerangka Berpikir) Sebagai Fondasi Seluruh Tindakan Kita


Asal-Usul Kebiasaan Mengkritik

Bagaimana Pola Pikir Terbentuk?

Bagaimana Pola Pikir Berubah?

Faktor X dalam Proses Perubahan Pola Pikir

Tips Merubah Pola Pikir


Mata Kuliah Filsafat: 'Nutrisi' untuk Pikiran


Melatih Pikiran dengan Membaca

Kekuatan Berpikir Negatif (Kritis)

Tips Mengurangi Kebiasaan Mengkritik

Delapan (8) Tips Mencegah Stress Berlebihan




Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

PELATIHAN

Habits of the Mind

Thinking with Six Hats

Highly Motivated People

KONTAK
021-8430-3041
0813-1141-8800