Konsep Poligami dalam
Kitab-Kitab Kuno

Bolehkah Memiliki Isteri Lebih dari Satu?

Konsep Poligami di Elite Agama

Beberapa tahun lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa dai kondang Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang mempunyai dua isteri, Alfarini Eridani (Teh Rini) dan Teteh (Ninih). Peristiwa ini menghebohkan hampir seluruh Nusantara. Bukan karena ini peristiwa baru, tetapi karena Aa Gym merupakan sosok begitu populer di republik ini.

Entah karena apa alasannya, faktanya adalah bahwa Aa Gym mempunyai dua isteri, yang bagi banyak kaum wanita penggemar monogami, peristiwa ini sangat disayangkan.

Berbeda dengan KH Abdulrahman Wahid (Gus Dur), tokoh Islam, Presiden RI, dikenal baik di republik ini maupun di dunia. Sampai akhir khayatnya, ia hanya memiliki satu isteri, yaitu Shinta Nuriyah. Ia tidak memilih berpoligami sekalipun agamanya memberikan peluang untuk itu. Mengapa ia hanya memiliki satu isteri, penulis tidak tahu persis. Yang jelas, sampai Sang Khalik menjemputnya ia tidak berpoligami, tetapi memilih monogami.


Konsep Poligami dalam Al Quran

Dalam pandangan Islam, memiliki isteri lebih dari satu diizinkan.

Dalam Kitab Al Quraan (Terjemahan Tahun 1971), yaitu Kitab An Nissa 4: 3, tertulis, "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."

Pada Kitab An Nissa 4: 129 ditulis, "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan-perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Cukup jelas bahwa ada peluang untuk memiliki isteri lebih dari satu dalam pandangan Islam. Konsep poligami boleh dipraktekkan.

Ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhamad SAW memiliki satu isteri selama 28 tahun, yaitu Khadijah binti Khuwalid RA. Kemudian, ia menikah lagi setelah Khadijah meninggal. Sumber lain mengatakan bahwa isteri Nabi Muhammad lebih dari satu. Wikipedia misalnya, mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai 13 isteri: Khadija bint Khawilad, Sauda bint Zama, Aisha bint Abu Bakr, Hafsa bint Umar bin Khattab, Zainab bint Khuzaima, Umm-I-Salma bint Abu Umayia, Zainab Bint Jahash, Juwaeria Bint Harith, Umm-I-Habiba bint Abu Sufyan, Marya Qibtiya bint Shamun, Safia bint Hayi bin Akhtab, Raihana bint Umru bin Hanafa, Maimuna bint Harith.

Konsep Poligami dalam Alkitab

Bagaimana konsep perkawinan dalam agama lain? Kita ambil misalnya paham Kristen, yang masih satu rumpun dengan agama Islam dalam hal monoteismenya.

Dalam Kitab Suci Agama Kristen (Alkitab), poligami sudah terjadi pada masa hidup Nabi Ibrahim (Alkitab menyebutnya Abraham). Pada awal perkawinannya, Abraham hanya punya satu isteri, yaitu Sara.

Sampai Sara berumur 60 tahun, ia belum memiliki anak. Oleh karena tidak ada kepastian bahwa ia akan memiliki anak, Sara kemudian memberikan budaknya bernama Hagar kepada Abraham untuk ditiduri (Kejadian 16: 2).

Eh...ternyata Abraham tidak mandul. Abraham mempunyai anak dari Hagar dan diberi nama Ismail. Namun, Sara, isteri pertama Abraham, pada usia lanjut melahirkan anak bernama Ishak. Setelah Sara meninggal, Abraham menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Ketura. (Kejadian 25: 1)

Bagaimana dengan anak Abraham? Menarik bahwa Ishak memilih monogami. Sampai akhir hidupnya, Ia hanya menikah dengan Ribka, putri pamannya, Betuel.

Tidak demikian dengan Yakub anak Ishak. Yakub mempunyai 4 isteri. Dua isterinya, bernama Lea dan Rahel (dua-duanya kakak adik), diberikan oleh mertuanya, Laban. Kemudian, Yakub mendapat dua isteri lagi, yaitu Bilha atas rekomendasi isteri kedua (Rahel) dan Zilpa, atas rekomendasi isteri pertama (Lea). Kedua gadis tersebut- Bilha dan Zilpa- adalah budak.

Bagaimana dengan keturunan-keturunan Yakub? Apakah mereka mempraktekkan konsep poligami? Raja Daud, yang pernah memerintah di Kerajaan Israel misalnya, juga mempraktekkan poligami. Selama hidupnya, paling tidak ia mempunyai 7 isteri: Ahinoam, Abigail, Maakha, Hagit, Abital, Egla, dan Batsyeba (2 Samuel 3:2) Isterinya yang terakhir ini melahirkan anak bagi Daud bernama Salomo, yang kemudian mewarisi tahta kerajaan Israel.

Yang mengagetkan adalah Raja Salomo. Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa isteri Salomo yang resmi adalah 700 orang dan semuanya adalah keturunan bangsawan. Masih ada gundiknya berjumlah 300 orang (I Raja 11:3). Entah bagaimana Salomo bisa 'tidur' dengan wanita sebanyak itu.

Rencana Awal: Poligami atau Monogami?

Bagaimana sebenarnya institusi keluarga (perkawinan) ini pada awalnya? Apakah poligami merupakan rencana awal atau bukan?

Bila kita selidiki ke zaman yang lebih tua, pada era penciptaan misalnya, Allah mencipta dua sosok manusia di Taman Firdaus- Adam dan Hawa- dengan karakter dan postur yang sempurna.

Kita tidak tahu sehebat apa karakter Adam dan Hawa pada waktu mereka dicipta. Ada yang menyebut mereka memiliki potensi tidak berbuat dosa sekecil apapun. Mereka sempurna.

Kita juga tidak tahu seganteng siapa Adam atau secantik siapa Hawa. Barangkali kita bisa membandingkan Hawa misalnya dengan gadis-gadis cantik seperti Angelina Jolie, Agnes Monica atau Tamara Bleszynski pada masa mudanya.

Kelihatannya paham monogami, bukan poligami, merupakan rencana awal dari perkawinan.

Hanya satu perempuan dicipta untuk Adam. Namun, berubahnya sejarah kehidupan Adam dan Hawa, monogami lambat laun mendapat saingan dari poligami; sebagian keturunan Adam tergiur memilih poligami dan masih terjadi sampai saat ini.

Jadi, Kitab Suci, yang menjadi pijakan dalam melihat segala sesuatu termasuk dalam perkawinan, memberikan fakta konsep poligami dan monogami.

Tentu, pengkajian lebih dalam tentang perkawinan perlu mendapat studi pribadi. Bagaimanapun, institusi keluarga merupakan fondasi dari masyarakat. Bila institusi ini tidak dihormati dan dijaga, ini akan berakibat kepada masyarakat dan masa depan bangsa dan negara.

Relatif mudah mengatur belasan, puluhan, ratusan bahkan ribuah orang dalam sebuah organisasi, tapi tidak mudah mengatur dan mengontrol 'daging sepotong'. Dari dulu sampai sekarang banyak yang gagal dalam perkawinan termasuk sosok-sosok yang duduk dalam elite pemimpin agama; mereka sulit menolak godaan berpoligami.


Link Terkait

Bagaimana Menyikapi Suami yang Berpoligami?

Setelah Mengejar Harta Puluhan Tahun dan Sukses, Akhirnya Semua Sirna

Mengelola Uang dengan Bijak: Nasehat Buat Pekerja Pemula

Apa Itu Etika Pancasila?

Menghormati Orang Tua: Salah Satu Pilar-Etika Terpenting untuk Sesama

Etika Meminjam Uang kepada Orang Lain

Etika Konfusianisme: Perkenalan

Dominasi Falsafah Pragmatisme dalam Dunia Kerja

Etika Menonton di Aula Simfonia Jakarta

Pagelaran Musik Klasik di Aula Simfonia Jakarta

Dari Konsep Poligami ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Bagaimana Menyikapi Suami yang Berpoligami?

Setelah Mengejar Harta Puluhan Tahun dan Sukses, Akhirnya Semua Sirna

Mengelola Uang dengan Bijak: Nasehat Buat Pekerja Pemula



SEMINAR

Habits of the Mind

Thinking with Six Hats


KONTAK TRAINING
0813-1141-8800
021-8430-3041