Kontemplasi Aktif

Mungkinkah melakukan kontemplasi aktif di zaman sekarang ini? Di tengah-tengah dunia kerja yang dikelilingi oleh alat telekomunikasi yang 'memenjarakan' orang untuk selalu berhubungan, masih mungkinkah orang memikirkan kebenaran? Baiklah Anda dan saya sejenak melihat sepintas pemikiran yang melatar belakangi konsep ini.

Hampir tak seorang pun yang mau menganggur. Tidak ada yang mau hidup tanpa pekerjaan. Tidak ada yang mau hidup seperti benalu bagi orang lain. Setiap orang mau bekerja, mengerjakan sesuatu yang bermakna dari pada diam tanpa melakukan sesuatu yang bernilai. Manusia cenderung memilih menjadi sosok yang berguna dan mengisi hari-harinya dengan aktifitas yang berarti bagi orang lain.

Tidak demikian dengan masyarakat Yunani kuno. Menganggur adalah posisi yang mulia. Bila di zaman sekarang orang memilih bekerja aktif, orang Yunani kuno memilih sebaliknya. Mereka berusaha keras menghindari kerja. "Bagi mereka, kerja tidak lain hanyalah kutukan. Kerja bahkan dianggap sebagai kejahatan yang harus dihindari dengan biaya sebesar apapun. Kerja tidak mengandung unsur yang paling bermakna.

Hanya menganggur pilihan yang terbaik; sebuah kebajikan sosial dan salah satu persyaratan utama bagi seseorang untuk terlibat penuh dalam masyarakat. Dan kalau mau memiliki kehidupan yang sungguh bermakna, maka pengangguran merupakan suatu keharusan."(Aristotle, Nichomachean Ethics).

Bagi orang Yunani kuno, bekerja aktif hanya cocok bagi masyarakat kelas bawah. Apakah posisi itu sebagai guru, petani, pedagang, atau professi apapun yang melibatkan otot- ini semua merupakan aktifitas yang bernilai rendah. Orang Yunani kuno menghindar dari pekerjaan-pekerjaan ini.

Mereka tidak mau dibebani oleh pekerjaan yang hanya sekedar mengisi kebutuhan hidup. Mereka memilih menganggur, status yang paling mulia sebab hanya menjadi pengangguranlah seseorang bisa berkontemplasi, mengisolasikan diri dan diam merenungkan kebenaran.

Boleh dikatakan bahwa kontemplasi aktif tidak ada dalam pemikiran yunani kuno. Yang mereka pilihi adalah kontemplaso pasif. Mengapa? Mengapa kontemplasi pasif begitu diminati oleh orang-orang Yunani kuno? Bagi mereka, hanya melalui kontemplasi seseorang dapat memikirkan kebenaran. Hanya dengan berdiam diri ada waktu untuk merenungkan kehidupan setelah kematian.

Dengan berkontemplasi, seseorang masuk ke dalam kehidupan seperti dewa. Tidak ada aktifitas lain yang lebih bermakna dari pada kontemplasi. Kalaupun ada, hanya keterlibatan dalam politik atau militer yang mungkin mendekatinya. Selebihnya adalah aktifitas-aktifitas yang kurang bernilai.

Kehidupan kontemplasi tidak muncul begitu saja di masyarakat Yunani kuno. Plato dan Aristoteles adalah sosok yang paling penting di balik aktifitas yang sering dilakukan orang-orang yang hidup di biara ini. Bagi kedua filosof besar ini, kontemplasi adalah kehidupan yang paling cocok dengan natur manusia.

Dalam karyanya Politics, Aristoteles menulis, "seharusnya kita sejauh mungkin menghidupi kehidupan yang mengungkapkan unsur luhur kita itu. Kita harus mengutamakan kegiatan jiwa kita yang memang berhakikat lebih luhur." Kesenangan ditolak Plato dan Aristoteles sebagai hal yang terbaik bagi manusia.

Pada karyanya, Nichomachean Ethics, Aristoteles menulis, "Mereka yang memilih untuk hidup mengejar kenikmatan menghidupi suatu kehidupan yang dirancang bagi "binatang yang mengembara."

Plato menulis lebih sarkastik. Dalam karyanya Republik, ia menulis, "Mereka terus merundukkan kepala mereka ke bumi seperti ternak, dan di meja-meja pesta itu mereka makan, menjadi gemuk, dan berzina."

Kontemplasi Aktif Berkaitan Erat dengan Jiwa dan Tubuh

Kontemplasi Yunani kuno tidak dapat dipisahkan dengan konsep mengenai jiwa pada zaman itu. Bagi Plato misalnya, jiwa berbeda dengan tubuh. Bila tubuh bermateri, jiwa tidak. Bukan hanya itu saja, jiwa tidak dapat binasa. Ia abadi bahkan ia eksis sebelum dan sesudah eksistensi seseorang di dunia. Sebelum terjadi kelahiran secara jasmani, jiwa diam di dalam keberadaan gaib di mana ia menikmati visi akan hakikat atau bentuk dari segala sesuatu tanpa gangguan.

Ini disebut Plato sebagai "Ide." "Pada saat kematian, jiwa yang dimurnikan oleh filsafat bangkit kembali ke dalam realitas pengertian di mana ia menemukan kebahagiaan sempurna dalam kontemplasi akan
kebenaran secara murni dan tanpa gangguan bersama para dewa."

Perlu dicatat bahwa dewa, baik bagi Plato dan Aristoteles, adalah substansi mental yang mandiri, yang diam di angkasa nun jauh di atas sana, tenang, diam, melakukan kontemplasi tentang seluruh kebenaran selama-lamanya. Dewa memiliki diri yang sempurna, tidak kekurangan sesuatu apapun. Para dewa tidak berinteraksi dengan pribadi lain dan jauh dari kehidupan praktis. Mereka mengkhususkan diri pada pemikiran kontemplatif.

Kehidupan seperti dewalah yang dicita-citakan orang Yunani kuno. Mereka berusaha jauh dari aktifitas yang melibatkan otot. Mereka menghindari profesi atau pekerjaan apa saja yang memerlukan tindakan aktif. Fokus kehidupan mereka ialah diam merenungkan dan memikirkan kebenaran yang ada dalam keabadian. Mereka hanya ingin menjadi filosof.

Kontemplasi Aktif Ketika Bekerja

Sayang, orang Yunani kuno terperangkap dalam sistem berpikir mereka. Mereka mengira bahwa hanya melalui kontemplasi pasiflah seseorang mungkin memikirkan kebenaran. Mereka mengabaikan bahwa dalam beraktifitas pun ada kemungkinan seseorang untuk berkontemplasi. 'Dewa' tidak diikat oleh ruang dan waktu. 'Dewa' tidak hanya ditemui dalam suasana hening.

Di dalam gemuruh ombak, tsunami, banjir, atau gempa sekalipun, 'Dewa' dapat ditemui. Ia hadir di mana-mana. Tidak ada ruang dan waktu di mana ia tidak eksis. Bahkan di dasar laut yang paling dalam sekalipun, Ia tetap hadir.

Orang tidak harus mengisolasi diri agar bisa berkontemplasi. Orang tidak harus ke gunung atau pergi ke tempat yang jauh dari keramaian agar bisa merenungkan kebenaran.

Pada saat berbicara, berdiskusi, bersenda gurau, memancing ikan, atau melakukan aktifitas apa saja dalam koridor moral yang benar, seseorang bisa berkontemplasi. Itulah kontemplasi aktif. Setiap saat ia berhubungan dengan 'Dewa' dalam seluruh eksistensinya.

Untuk mendapatkan pencerahan yang lebih luas, hadirilah seminar Personality Profile yang kami adakan.

Link Terkait

Pengertian Etos Kerja

Etos Kerja Dipengaruhi oleh Keyakinan

Tips Menanam Benih Etos Kerja Unggul dalam Hidup Pribadi

Kontemplasi Aktif



Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.