Makan Enak atau Tidur Nyenyak:
Pilih Mana?


Pilih mana antara makan enak (makan nikmat) atau tidur nyenyak? Ini tentu pertanyaan imajiner. Saya memposting pertanyaan ini di facebook dan milis yang saya ikuti. Dari respon yang masuk, 32 persen memilih makanan enak; 68 persen memilih tidur nyenyak. Selain itu, ada yang memberi komentar yang lucu dan menarik. Misalnya, ada yang memilih makan nikmat dengan alasan kalau habis makan pasti tidur dan sehabis tidur nyenyak pasti laper. Masih ada yang milih makan nikmat dengan komentar, 'Kalau aku pilih makan nikmat, karena kalau sudah makan nikmat, pasti tidurku nyenyak. Kalau aku tidur nyenyak belum tentu makanku enak.'

Kedua pilihan sama-sama menarik. Pilihan pertama akan digemari oleh mereka yang masih sehat atau yang tidak takut akan penyakit.

Merupakan sebuah anugerah kalau kita masih bisa makan nikmat. Bahkan di buku-buku kuno, makan nikmat merupakan produk dari melakukan pekerjaan yang menyenangkan hati. Pilihan tidur nyenyak juga menarik.

Tidur nyenyak bisa memberi kesegaran kepada tubuh. Rasa capek tersisih. Energi diperbaharui bahkan merupakan hukum alam bagi kita untuk bisa tidur apalagi tidur nyenyak.

Namun, bila ditinjau dari sifat atau karakter kata kerja, makan enak
merupakan pilihan yang lebih baik.

Meminjam istilah bahasa, aktifitas ini mengandung kata kerja aktif. Bila pembahasan diperdalam, bekerja aktif bisa membawa seseorang atau
masyarakat kepada kemakmuran. 'Rajin pangkal kaya,' begitu nasihat para guru di sekolah dasar.

Berbeda dengan makan nikmat (enak), tidur nyenyak memberi citra kata kerja pasif. Ada aktifitas, tetapi bukan tindakan yang aktif. Dalam karya-karya kuno, kata kerja ini sering dikaitkan dengan kemalasan.

Ada pepatah kuno mengatakan, "Janganlah menyukai tidur supaya engkau tidak jatuh miskin." "Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak dan orang yang lamban akan menderita lapar." 'Malas pangkal miskin,' begitu nasihat guru. Aktifitas pasif akan membawa seseorang atau masyarakat menuju kemiskinan.

Bila kita berpikir lebih jauh lagi, memilih makan nikmat atau tidur nyenyak merupakan hasil dari dari dua sistem pemikiran yang berbeda. Setiap
keputusan- disadari atau tidak- merupakan produk dari sistem berpikir.

Begitulah natur dari prinsip 'think, then act.' Meminjam istilah para filosof, keputusan atau tindakan merupakan produk dari 'worldview.' Apakah memilih makan nikmat atau tidur nyenyak- inipun merupakan produk dari sistem berpikir. Keputusan atau tindakan apapun merupakan produk dari falsafah atau pandangan hidup.

Istilah makan enak dan tidur nyenyak pernah digulirkan oleh Max Weber dalam karyanya yang terkenal, The Protestant Ethics and Capitalism. Istilah ini ia angkat untuk membandingkan perbedaan falsafah hidup antara orang Itali dan Inggris pada abad ke-17, 18 dan 19. Dalam karyanya setebal 450 halaman itu, Weber menyajikan pemikiran-pemikiran yang diterima dan dihidupi orang Itali dan Inggris, yang kemudian menentukan warna kehidupan yang berbeda.

Oleh karena perbedaan falsafah hidup juga orang Itali memilih tidur nyenyak daripada makan nikmat (enak) sedangkan orang Inggris, khususnya Kaum
Puritan, memilih makan nikmat (enak) daripada tidur nyenyak.

Pemikiran-pemikiran yang diterima seseorang memang begitu berpengaruh dalam hidupnya dan akan menyentuh semua sendi-sendi kehidupannya. Dan bila dihidupi, pemikiran yang diterima akan menentukan proses pengambilan keputusan hidup seseorang dan masa depannya.

Bila pilihan antara makan nikmat dan tidur nyenyak ditawarkan secara serius kepada Anda, mungkin jawaban Anda sekarang akan berbeda. Falsafah yang melatar-belakangi pilihan 'makan nikmat' bisa menuju kemakmuran. Falsafah yang melatarbelakangi pilihan tidur nyenyak akan membawa kepada kemiskinan.

Kita diperhadapkan kepada pilihan 'makan enak' atau 'tidur nyenyak': Anda pilih yang mana?

Link Terkait

Pengertian Etos Kerja

Etos Kerja Dipengaruhi oleh Keyakinan

Etos Kerja Pancasila

Tips Menanam Benih Etos Kerja Unggul dalam Hidup Pribadi

Rasa Tanggung Jawab yang Semakin Langka

Bekerja Secara Sistematis Merupakan Tuntutan dalam Etos Kerja Unggul

Bekerja Secara Rasional: Sebuah Panggilan

Kontemplasi Aktif


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.