Melatih Pikiran dengan Membaca
Melatih PikiranMembaca buku bukanlah aktifitas yang mudah. Menurut para ahli, membaca lebih sulit dari mendengar. Pikiran memerlukan energi lebih banyak untuk merubah huruf-huruf ke dalam bahasa yang dimengerti oleh pikiran. Tidak heran kalau mata mudah mengantuk setelah membaca belasan menit. Badan mau istirahat dan tidak betah melihat huruf-huruf yang dirangkai jadi kata dan kalimat. Memilih tidur merupakan pilihan yang lebih mudah dari pada membaca; lebihmudah tergoda menonton tv ataupun bermalas-malasan di rumah dari pada bersahabat dengan buku. Bacaan-bacaan berbobot tidak menjadi konsumsi. Akhirnya, pikiran berkembang tanpa 'nutrisi dan gizi' dari buku-buku bermutu. Tidak heran pikiran menjadi kurus kering. Ibarat tubuh yang kekurangan makanan, pikiran menonjolkan 'tulang-tulang' yang tidak sedap dipandang mata. Pikiran jadi tumpul. Kata-kata yang diucapkan banyak tak bernilai. Humor berisi hal-hal yang jorok dan merendahkan orang. Ide-ide yang disodorkan sering mentah; muncul seketika tanpa dukungan informasi yang akurat. Minim konsep yang sistemik. Komentar yang diberikan pun tak berbobot; kadang bahkan sering ekedar memuaskan nafsu bicara yang tak terbendung. Gampang emosi dan mudah takluk pada situasi.

Bagaimana melatih pikiran? Salah satu cara, membaca. Dengan membaca, pikiran-pikiran kering, kalut dan kusam akan tersingkir. Pikiran berangsur-angsur pulih; muncul gairah baru. Muncul pengharapan. Kata-kata yang diucapkan jadi bernada positif tanpa mengeliminir pikiran kritis. Benar kata ungkapan, 'apa yang diucapkan berasal dari hati dan pikiran;' kata-kata yang diucapkan menunjukkan 'warna' kepribadian. Selain itu, dengan membaca ide-ide yang mentah bisa dikembangkan. Muncul solusi-solusi kreatif karena pikiran terus bereksplorasi. Ada gairah dalam pekerjaan. Pekerjaan jadi bermakna. Uang bukan lagi sasaran utama, tapi menjadi budak untuk memperbaiki segala hal. Waktu pun menjadi harta yang berharga bahkan bisa yang paling berharga; dan dalam kesementaraan bisa mengumpulkan harta yang abadi. Namun, dengan membaca bukanlah otomatis pikiran jadi terlatih. Pikiran harus terus-menerus dilatih. Dalam berbagai bidang, hukumnya sama; hanya melalui pemahaman prinsip-prinsip dalam bidang tersebut dan berlatih secara rutin, konsisten dan terus-menerus, pikiran jadi terlatih. Ibarat kera yang liar, pikiran butuh edukasi dan latihan yang terus menerus. Dengan memiliki kebiasaan membaca, pikiran jadi terdidik. Renungan: - Sisihkanlah 30 menit hari ini untuk membaca satu buku yang menarik buat Anda untuk melatih pikiran Anda. Lawanlah rasa ngantuk Anda sampai Anda selesai membaca 30 menit.
- Buatlah rencana Anda untuk membaca buku setiap hari. Lakukanlah dan monitorlah secara rutin bagaimana progres kebiasan membaca Anda.
Artikel Terkait:
Mata Kuliah Filsafat: 'Nutrisi' untuk Pikiran Mata kuliah Filsafat pantas dimasukkan dalam daftar mata kuliah-dasar pada kurikulum mahasiswa.Kekuatan Berpikir Negatif Berpikir negatif (kritis) sangat diperlukan di tengah-tengah gempuran ide yang bagus dan cemerlang untuk memperbaiki sesuatu. Kecakapan Dasar untuk Putra-Putri Indonesia Sepuluh Kecakapan dasar yang Anda perlukan untuk mencapai sasaran hidup pribadi Anda.
Asal Usul Kebiasaan Mengkritik Kebiasaan mengkritik bersumber dari mana? Mengapa kebiasaan ini melekat pada setiap orang? Melemahkan Kebiasaan Mengkritik Ada 6 langkah untuk melemahkan (mengurangi) kebiasaan mengkritik. Dominasi Pragmatisme dalam Dunia Kerja Pragmatisme tidak melihat kebenaran sebagai yang mutlak. Kalaupun ada kebenaran, yang menjadi ukuran adalah keuntungan. Daftar Artikel di Putra-Putri-Indonesia.com Dari Melatih Pikiran ke Halaman Depan
|