Tidak Memilih Prabowo: Ada Empat Alasan

Tidak Memilih Prabowo

Kompetisi perebutan RI-1 kelihatannya semakin seru. Di media dituliskan bahwa selisih antara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK semakin menipis; sudah sampai kira-kira 6 persen. Di Jakarta, perbedaan kedua calon hanya sampai dua persen. Di sisi lain, Jokowi yang selama ini dianggap kurang memiliki kemampuan berbicara di depan publik, ternyata membalikkannya dengan menyajikan argumentasi dalam bahasa yang relatif mudah dimengerti. Kalimat-kalimatnya terstruktur dan logis ketika ia berbicara dalam debat capres yang pertama. Prabowo, yang seharusnya menyajikan kemampuan berpidatonya, malah berkomunikasi dengan tidak terstruktur. Ia bahkan grogi dan tidak kelihatan percaya diri di atas panggung.

Sudah begitu banyak informasi yang pro dan kontra terhadap setiap pasangan dan semakin dekat pemilihan pilpres semakin banyak informasi yang beredar di masyarakat. Beredarnya surat pemecatan Prabowo juga ikut serta meramaikan penyambutan pilpres Juli ini. Untunglah ada debat capres yang dapat memberi lebih banyak gambaran tentang siapa sebenarnya capres yang lebih baik. Dengan adanya debat terbuka seperti minggu lalu, ini akan menolong para calon pemilih untuk menentukan pilihannya. Dengan bermodalkan informasi yang langsung didengar, ia mendapat gambaran yang lebih baik tentang siapa yang akan dipilih.

Tentu, Anda dan saya saat ini mungkin sudah menetapkan pilihan. Siapapun pilihan Anda tetap saya hargai. Namun, izinkan saya memberikan alasan-asalan untuk tidak memilih Prabowo. Saya tidak akan mengulang konsep Prabowo terhadap Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan
Kepastian Hukum. Sudah saya paparkan secara singkat analisa saya terhadap pandangan Parabowo terhadap topik tersebut dan saya tidak akan mengulanginya di sini.

Ada empat alasan mengapa kita tidak memilih Prabowo. Tentu, ini tidak menarik buat Anda yang sudah bertekad untuk memilihnya. Namun, sebagai sosok yang mau terus terbuka dalam hal pemikiran, Anda dan saya perlu tetap mempertimbangkan informasi-informasi lain. Saya mulai dari yang pertama. 

Alasan Pertama Tidak
Memilih Prabowo

Alasan pertama untuk tidak memilih Prabowo adalah kudanya. Anda mungkin heran dan barangkali bertanya, ‘Ada apa dengan kuda?’ Kalau Anda adalah penggemar kuda- itu tidak salah. Yang saya kritik bukanlah hobbi atau minat di sini. Yang mau saya angkat adalah filosofi dibalik tindakan yang berkaitan dengan kuda.

Saya mulai menaruh curiga kepada Prabowo ketika pertemuan besar Partai Gerindra di Gedung Bung Karno digelar beberapa waktu lalu. Dalam tayangan tv atau mass media elektronik atau media cetak, saya melihat ia menunggangi kuda. Kelihatan sepele. Tetapi, mengapa harus menunggang kuda? Pertanyaan seperti ini  bisa timbul di benak orang-orang yang suka bertanya filosofis. Kalau Anda menerima teori bahwa pemikiran direfleksikan dalam tindakan, maka tindakan Prabowo naik kuda bisa merefleksikan pemikirannya.

Di kisah-kisah klasik, orang yang mengandalkan kuda untuk memenangkan peperangan dianggap salah satu bentuk kesombongan. Para raja pada zaman itu sering punya rasa percaya diri berlebihan karena memiliki banyak kuda sebagai simbol besarnya angkatan perang.  Ada anggapan kalau angkatan perang sudah besar seolah-olah kerajaan-kerajaan lain bisa dikalahkan dan ditundukkan. Seolah-olah ia adalah penguasa tertinggi.

Namun, sikap ini merupakan awal dari kejatuhan seseorang. Di karya-karya klasik bahkan ditulis bahwa sikap ini adalah salah satu dari tujuh sikap yang paling memuakkan bagi Tuhan. Anda mungkin pernah mengalami atau melihat sikap seperti ini. Kita tidak suka pada sikap-sikap orang yang arogan atau sombong. Menganggap diri hebat sehingga menggusur posisi Tuhan sebagi Pribadi yang paling berkuasa adalah tindakan yang berbahaya.

Orang yang mengandalkan kuda untuk berperang atau orang-orang yang terlalu percaya diri merupakan salah satu tindakan yang sangat tidak disukai Tuhan.  Ini merupakan salah satu karakter yang sangat berbahaya. Ini setara dengan sikap yang mau membunuh orang lain. Ini penyakit manusia yang sudah berabad-abad bahkan sudah ribuan tahun eksis tanpa ada yang sukses menggusurnya secara tuntas. Bahkan orang yang kelihatan ‘low profile’ pun tetap bisa memiliki sifat kesombongan ini. Sosok seperti Jokowipun bisa menyimpan kesombongan sekalipun ia berpakaian atau berpenampilan sederhana. Substansi kesombongan bukan pada penampilan yang kelihatan, tetapi berada dalam batin seseorang. Kalau mau lebih rinci, kesombongan mengambil tempat di hati.

Namun, kesombongan dapat juga dilihat dari ekpressi atau kalimat-kalimat dari seseorang ketika ia bicara. Dalam peristiwa debat Minggu lalu misalnya, ketika ditanya soal HAM, arogansi Prabowo mulai kelihatan. Emosi dan frekuensi suaranya menunjang sikap ini. Barangkali, komentar Agum Gumelar terhadap sikap Prabowo ada benarnya. Agum Gumelar memberikan komentar untuk tidak memilih orang yang arogan. Agum mungkin punya banyak kesan tentang Prabowo selama aktif di militer.

Itulah alasan pertama mengapa tidak memilih Prabowo Subianto pada pilpres 9 Juli ini. Alasan kedua adalah keluarga, alasan ketiga adalah rekan jejak dan alasan terakhir adalah orisinalitas (‘genuineness’).

Dua Alasan Lain untuk Tidak Memilih Prabowo

Debat Calon Presiden Pertama

Dari Tidak Memilih Prabowo ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.