Memutus Tradisi Berumur 800-Tahun

Memutus tradisi bukan sesuatu yang mudah. Tradisi merupakan hasil dari kebiasaan yang belasan, puluhan bahkan ratusan tahun. Dan bila tradisi seperti ini diputus, ini akan mengundang banyak celaan atau kritik yang tajam.

Tradisi bukan berarti kebal terhadap perubahan. Sejarah telah menunjukkan bahwa tradisi ratusan tahun bisa punah. Ini bisa berlaku bagi tradisi apapun termasuk tradisi-tradisi lokal. Itu bisa terjadi pada budaya manapun. Salah satu contoh adalah putusnya tradisi yang sudah berumur 800-tahun.

Ceritanya berawal dari perjalanan bangsa Israel, yang dipimpin oleh Musa di padang gurun, yang terjadi kira-kira tahun 1450 SM atau 3450 tahun lalu. "Setelah bangsa Israel berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi Tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan.

Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu
memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini (maksudnya manna) kami telah muak."

Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari antara orang Israel yang mati."

"Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkanNya ular-ular ini dari pada kami."

Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup."

Memutus Tradisi Memerlukan Nyali yang Besar

Apa yang terjadi kemudian? Ular tembaga itu menjadi objek penyembahan. Orang Israel membakar kemenyan sebagai persembahan terhadap ular tambaga dan tradisi ini dipelihara sampai kira-kira tahun 600 SM (selama 800 tahun), yaitu sampai era kekuasaan raja Hizkia, Raja Yehuda.

Raja Hizkia mempunyai nyali yang besar. Ia berani menghentikan tradisi yang telah ratusan tahun dilakukan di tengah-tengah bangsa yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menghancurkan ular tembaga yang menjadi objek penyembahan.

Penghancuran ular tembaga ini dipicu oleh hancurnya Kerajaan Israel, yang tadinya masih satu kerajaan dengan Kerajaan Yehuda ketika Raja Salomo masih memerintah. Setelah kematian Salomo, Kerajaan Israel pecah menjadi dua: Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda.

Dalam perjalanannya, Kerajaan Israel melakukan yang jahat di mata TUHAN. Mereka membuat patung-patung berhala, menyembah ilah-ilah lain, membuat dua anak lembu dan menyembahnya, mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dan hidup sesuai dengan adat-istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari Israel. Satu ketika, Raja Salmanaser dari Asyur menyerang Raja Hosea, menghancurkan Kerajaan Israel dan menawan bangsa Israel.

Memutus Tradisi Memerlukan Alasan yang Kokoh

Hancurnya Kerajaan Israel membuat hati Raja Hizkia kecut. 'Sekalipun Allah bangsa Israel adalah TUHAN- ini tidak selalu menjamin bahwa malapetaka tidak akan menimpanya,' begitu mungkin pikir Hizkia. Melihat runtuhnya Kerajaan Israel, Raja Hizkia membaca salinan Hukum Taurat.

Ia tentu telah membaca Hukum Taurat, khususnya Hukum Pertama dan Kedua, yang berbunyi demikian, "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ke-tiga dan ke-empat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu orang yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu." Mungkin juga ia telah membaca bagian Hukum Taurat tentang berkat dan kutuk.

Perintah TUHAN dalam Hukum Taurat menjadi alasan bagi Hizkia untuk menghancurkan ular tembaga, yang telah menjadi objek penyembahan bangsa Israel. Bagi Hizkia penyembahan terhadap apa saja, kecuali Tuhan, tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Hizkiapun memutus tradisi yang berumur-800-tahun itu. Ia meresponi Firman Tuhan dengan tindakan konkrit terhadap tradisi yang tidak sesuai dengan Hukum Taurat. Keyakinan mendorongnya untuk bertindak untuk menghentikan tradisi-tradisi yang tidak benar.

Pertanyaan:

  • Sudah berapa tahun tradisi lokal Anda eksis?
  • Apakah ada nilai-nilai dari tradisi itu salah sesuai dengan keyakinan/kepercayaan Anda?
  • Bila Ada yang salah, apa yang Anda akan lakukan?

Link Terkait

Mengenal Unsur Budaya

Benturan Budaya Daerah (Lokal) dan Budaya Luar Tidak Dapat Dihindari

Bagaimana Masa Depan Budaya Lokal dalam Dinamika Perubahan
Zaman?

Bagaimana Menilai Budaya Daerah (Lokal)?

Memutus Tradisi Berumur 800-Tahun

Berakhirnya Tradisi Ribuan-Tahun

Training: Reshaping your Corporate Culture

Pagelaran Musik Klasik di Aula Simfonia Jakarta

Etika Menonton di Aula Simfonia Jakarta



Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.