Home
Artikel Terkini
Excellence
Public Training
In-House Training
Tujuan Hidup
Pengenalan Diri
Etika
Etos Kerja
Skill Dasar
Pekerjaan
Tenaga Kerja
Uang dan Harta
Pendidikan
Budaya
4_Life
Tentang Kami
Hubungi Kami
Privacy Policy
Site Search
Berlangganan

Subscribe To This Site
XML RSS
Add to Google
Add to My Yahoo!
Add to My MSN
Subscribe with Bloglines

Bagaimana Menilai Budaya Lokal

Salah satu contoh menarik tentang bagaimana menilai budaya adalah memperhatikan masyarakat Batak menilai tradisinya terrmasuk menilai produk-produk seperti "ulos" (semacam songket). Ada yang membakar ulos karena ulos dianggap tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat tersebut. Ada juga yang menyebut bahwa memakan makanan khas daerah seperti "Sangsang B2" berlawanan dengan Kitab Suci. Ukir-ukiran tidak boleh diletakkan dirumah karena dianggap memiliki kuasa gelap. Begitulah beberapa pandangan yang muncul dalam masyarakat tersebut terhadap budaya lokalnya.

Mereka mengevaluasi budaya ataupun adat dengan cara pandang mereka 'yang baru.' Seperti disebutkan dalam artikel sebelumnya, perubahan pandangan hidup bisa merubah cara pandang seseorang. Kita menilai sesuatu dengan cara pandang yang melekat pada diri kita. Kita berpikir, bertindak, dan membuat keputusan sesuai dengan keyakinan yang terpatri dalam pikiran kita. Demikian juga dalam masyarakat Batak; ada yang pro budaya lokal dan ada menolak. Muncul pertanyaan,"Bagaimana menilai budaya lokal? Dengan dasar apa kita menilainya?" Mau tidak mau kita harus mencari jawabannya pada opsi-opsi yang ada.

Ada tiga opsi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama, kita mencari jawabannya pada dasar negara kita, yaitu Pancasila. Sila pertama dari Pancasila mengatakan, "Ketuhanan Yang Maha Esa." Namun, sila ini tidak secara explisit memberikan penjelasan bagaimana mengevaluasi budaya. Tidak ada informasi bagaimana mengevaluasi budaya-budaya lokal. Hanya ada aturan di dalam UUD 1945 (Amendemen) bagaimana budaya diatur. Pada Pasal 32, UUD 1945 disebutkan, "(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional." Namun, sangat minim informasi tentang bagaimana menilai budaya.

Opsi kedua adalah menggunakan hati nurani dan akal. Manusia memiliki hati nurani dan akal yang bisa membedakan apa yang benar dan tidak. Dengan demikian, kita mempunyai kemungkinan untuk membuat penilaian terhadap budaya. Dengan rasio, kita dapat membuat analisa dan kesimpulan apakah nilai-nilai budaya lokal tidak benar atau tidak. Namun demikian, ini bisa memicu munculnya pertanyaan. Apakah hati nurani atau rasio atau diri kita dapat dijadikan sebagai patokan yang mutlak untuk mengevaluasi budaya? Jawaban mungkin tidak meyakinkan. Manusia bukanlah sosok yang mutlak. Manusia bukan Tuhan. Manusia mempunyai banyak kesalahan dan kelemahan. Oleh sebab itu, opsi yang ketiga menjadi pilihan terakhir.

Opsi ketiga adalah menggunakan standar lain, yaitu Kitab Suci. Kitab ini dianggap sebagai pedoman bagi orang-orang yang percaya kepada Ketuhanan yang Maha Esa untuk menilai setiap aspek kehidupan termasuk budayanya. Bila Tuhan adalah mutlak dan Kitab Suci juga dianggap mutlak, mau tidak mau, orang-orang percaya perlu melihat prinsip-prinsip dalam Kitab Suci. Namun, bagaimana pandangan Kitab Suci terhadap budaya harus dilihat lebih jauh dalam pandangan agama-agama yang ada.

Jadi, ada tiga opsi yang dapat dipertimbangkan untuk menilai budaya lokal: dasar negara kita, hati nurani dan rasio dan Kitab Suci.

Artikel Terkait:

Mengenal Unsur Budaya
Ada tiga unsur budaya yang penting: ide atau gagasan, tindakan, dan produk.

Budaya Lokal Dalam Dinamika Perubahan Zaman
Bagaimana masa depan budaya lokal di tengah-tengah perubahan zaman? Apakah budaya lokal seperti budaya Jawa, budaya Batak, budaya Sunda, dan budaya lokal lainnya akan bertahan?

Benturan Budaya Lokal dengan Budaya Luar
Benturan budaya tak terelakkan. Diperlukan jiwa yang besar bila suatu saat nilai-nilai budaya lokal akan tersisih oleh karena hadirnya nilai-nilai dari budaya luar.

Memutus Tradisi Berumur-800-Tahun
Memutus tradisi berumur-800-tahun bisa mengundang tanda tanya. Ada apa dibalik pemutusan tradisi itu? Ini bisa terjadi pada budaya lokal.

Berakhirnya Tradisi-Ribuan-Tahun
Berakhirnya tradisi ribuan tahun bisa mengundang tanda tanya. Pertama, apa yang membuat tradisi bertahan begitu lama? Kedua, apa yang membuat tradisi itu berakhir?

Dari Bagaimana Menilai Budaya ke Halaman Depan

Berlangganan Putra-Putri-Indonesia.com

Sebelum Anda meninggalkan Putra-Putri-Indonesia.com, silahkan meninggalkan alamat e-mail dan nama Anda. Ini hanya digunakan untuk mengirimkan e-magazine secara berkala kepada Anda.


Enter your E-mail Address
Enter your First Name (optional)
Then

Don't worry -- your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.




Keep Learning Keep Growing

4Life Transfer Factor
Best Solution for your
Body Health

Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com

Enter your E-mail Address
Enter your First Name
Then

Don't worry -- your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Upcoming Seminar

Effective Meeting at Workplace
24 Mei 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Rp1.000.000
Early Bird (before 14 Mei 2012),
Rp900.000

Organized by:
PT. Business Excellence Luminance
Management Consulting and Smart Training

Contact No.:
0813-1141-8800 or 021-2637-1155

Speaker: Judika Malau

'Testimony':

"Instruktur sudah sangat-sangat professional dan berpengalaman dalam penguasaan materi. Dari seminar yang diberikan, banyak manfaat yang membangun yayasan kami ke depan." (Wilfirmus Uwil, Yayasan ASRI, Kalimantan Barat)

Public Training in 2012
for People and Business to Grow

In-House Training



SPONSOR

Alma Butik dan Kursus Jahit