Bagaimana Menilai Budaya Lokal
Salah satu contoh menarik tentang bagaimana menilai budaya adalah memperhatikan masyarakat Batak menilai tradisinya terrmasuk menilai produk-produk seperti "ulos" (semacam songket). Ada yang membakar ulos karena ulos dianggap tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat tersebut. Ada juga yang menyebut bahwa memakan makanan khas daerah seperti "Sangsang B2" berlawanan dengan Kitab Suci. Ukir-ukiran tidak boleh diletakkan dirumah karena dianggap memiliki kuasa gelap. Begitulah beberapa pandangan yang muncul dalam masyarakat tersebut terhadap budaya lokalnya.
Mereka mengevaluasi budaya ataupun adat dengan cara pandang mereka 'yang baru.' Seperti disebutkan dalam artikel sebelumnya, perubahan pandangan hidup bisa merubah cara pandang seseorang. Kita menilai sesuatu dengan cara pandang yang melekat pada diri kita. Kita berpikir, bertindak, dan membuat keputusan sesuai dengan keyakinan yang terpatri dalam pikiran kita. Demikian juga dalam masyarakat Batak; ada yang pro budaya lokal dan ada menolak. Muncul pertanyaan,"Bagaimana menilai budaya lokal? Dengan dasar apa kita menilainya?" Mau tidak mau kita harus mencari jawabannya pada opsi-opsi yang ada. Ada tiga opsi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama, kita mencari jawabannya pada dasar negara kita, yaitu Pancasila. Sila pertama dari Pancasila mengatakan, "Ketuhanan Yang Maha Esa." Namun, sila ini tidak secara explisit memberikan penjelasan bagaimana mengevaluasi budaya. Tidak ada informasi bagaimana mengevaluasi budaya-budaya lokal. Hanya ada aturan di dalam UUD 1945 (Amendemen) bagaimana budaya diatur. Pada Pasal 32, UUD 1945 disebutkan, "(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional." Namun, sangat minim informasi tentang bagaimana menilai budaya. Opsi kedua adalah menggunakan hati nurani dan akal. Manusia memiliki hati nurani dan akal yang bisa membedakan apa yang benar dan tidak. Dengan demikian, kita mempunyai kemungkinan untuk membuat penilaian terhadap budaya. Dengan rasio, kita dapat membuat analisa dan kesimpulan apakah nilai-nilai budaya lokal tidak benar atau tidak. Namun demikian, ini bisa memicu munculnya pertanyaan. Apakah hati nurani atau rasio atau diri kita dapat dijadikan sebagai patokan yang mutlak untuk mengevaluasi budaya? Jawaban mungkin tidak meyakinkan. Manusia bukanlah sosok yang mutlak. Manusia bukan Tuhan. Manusia mempunyai banyak kesalahan dan kelemahan. Oleh sebab itu, opsi yang ketiga menjadi pilihan terakhir. Opsi ketiga adalah menggunakan standar lain, yaitu Kitab Suci. Kitab ini dianggap sebagai pedoman bagi orang-orang yang percaya kepada Ketuhanan yang Maha Esa untuk menilai setiap aspek kehidupan termasuk budayanya. Bila Tuhan adalah mutlak dan Kitab Suci juga dianggap mutlak, mau tidak mau, orang-orang percaya perlu melihat prinsip-prinsip dalam Kitab Suci. Namun, bagaimana pandangan Kitab Suci terhadap budaya harus dilihat lebih jauh dalam pandangan agama-agama yang ada. Jadi, ada tiga opsi yang dapat dipertimbangkan untuk menilai budaya lokal: dasar negara kita, hati nurani dan rasio dan Kitab Suci.
Artikel Terkait:
Mengenal Unsur Budaya Ada tiga unsur budaya yang penting: ide atau gagasan, tindakan, dan produk. Budaya Lokal Dalam Dinamika Perubahan Zaman Bagaimana masa depan budaya lokal di tengah-tengah perubahan zaman? Apakah budaya lokal seperti budaya Jawa, budaya Batak, budaya Sunda, dan budaya lokal lainnya akan bertahan? Benturan Budaya Lokal dengan Budaya Luar Benturan budaya tak terelakkan. Diperlukan jiwa yang besar bila suatu saat nilai-nilai budaya lokal akan tersisih oleh karena hadirnya nilai-nilai dari budaya luar. Memutus Tradisi Berumur-800-Tahun Memutus tradisi berumur-800-tahun bisa mengundang tanda tanya. Ada apa dibalik pemutusan tradisi itu? Ini bisa terjadi pada budaya lokal. Berakhirnya Tradisi-Ribuan-Tahun Berakhirnya tradisi ribuan tahun bisa mengundang tanda tanya. Pertama, apa yang membuat tradisi bertahan begitu lama? Kedua, apa yang membuat tradisi itu berakhir? Dari Bagaimana Menilai Budaya ke Halaman Depan
Berlangganan Putra-Putri-Indonesia.com
Sebelum Anda meninggalkan Putra-Putri-Indonesia.com, silahkan meninggalkan alamat e-mail dan nama Anda. Ini hanya digunakan untuk mengirimkan e-magazine secara berkala kepada Anda.
|