Menyalahkan Orang Lain: Bagaimana Sikap Itu Muncul?

Menyalahkan orang lain merupakan hal yang alami bagi siapapun. Ketika ada masalah dan kita ikut serta dalam rantai masalah tersebut, kita mudah menyalahkan orang lain. Kita menyajikan data dan fakta bahwa kita bukan orang yang patut dipersalahkan, tetapi orang lain. Kita melindungi dan membela diri bahwa kita tidak bersalah. Ini terjadi di berbagai institusi- keluarga, perusahaan, institusi pemerintahan, organisasi masyarakat, dan institusi lainnya.

Dari mana sikap menyalahkan ini datang? Edward de Bono mengatakan bahwa sikap ini merupakan produk dari kebiasaan. Kebiasaan merupakan kristalisasi dari tindakan yang dilakukan berulang-ulang. Ini cikal bakal pembentukan pola pikir, yang menurut de Bono, merupakan akumulasi informasi yang diterima.

Informasi bisa berupa ide. Kemudian, ide itu bisa berubah jadi tindakan seperti menyalahkan orang. Bila sikap menyalahkan ini terjadi berulang-ulang, pola menyalahkan-orang pun terbentuk dan pola itu bisa seperti batang pohon atau arus sungai yang tidak mudah dirubah.

Apa yang terjadi dalam pikiran ditampilkan lewat tubuh. Muncullah kata-kata atau sikap menyalahkan-orang setiap masalah muncul.  

Ketika ada masalah, sikap ini muncul secara otomatis sebab pola telah terbentuk. Kemudian, antara pikiran dan otak (tubuh) ada hubungan yang sangat dekat dan tidak dapat dipisahkan. Apa yang terjadi dalam pikiran ditampilkan lewat tubuh. Muncullah kata-kata atau sikap menyalahkan-orang setiap masalah muncul.  

Apakah pandangan Edward de Bono benar atau tidak? Ini bisa diperdebatkan. Sulit mengetahui bagaimana pola terbentuk. Tidak ada alat yang dapat mendeteksi bagaimana pola pikir terbangun dalam pikiran sebab pikiran adalah substansi yang tidak bermateri.

Pikiran ada, tapi eksistensinya bukan seperti barang yang kelihatan. Pikiran tidak bisa diraba atau dilihat; hanya ekspressi dari pikiran yang dapat dilihat dan diperhatikan lewat kata-kata, tindakan, bahasa tubuh atau emosi.

Pandangan lain adalah bahwa sikap menyalahkan-orang-lain diturunkan dari generasi sebelumnya, yaitu orang tua. Setiap bayi yang lahir mewarisinya. Ketika masih bayi sikap ini tentu belum kelihatan, tetapi potensi untuk menyalahkan orang lain sudah ada.

Karena bayi merupakan hasil dari persetubuhan dari suami isteri, muncul pertanyaan, 'Dari siapa sikap ini diwarisi?' Dari ibu atau ayahnya atau 50/50? Ini salah satu kesulitan dari pandangan ini.

"Menyalahkan orang lain merupakan hal yang alami bagi setiap orang."

Pandangan lain lagi adalah bahwa sikap menyalahkan ini dihubungkan dengan manusia pertama, Adam. Ia menerima perintah dari Sang Ilahi untuk tidak memakan buah yang ada di tengah Taman Eden, tetapi dalam perjalanan hidupnya yang mungkin masih berlangsung hanya beberapa jam atau beberapa hari, ia melanggarnya. Ia memakan buah pohon yang di tengah taman itu setelah dibujuk oleh Hawa, sang isteri; sang isteri sudah lebih dulu digoda oleh Iblis untuk tidak percaya kepada perintah Sang Ilahi.

Hawa pun mengabaikan perintah Sang Ilahi dan memakan buah pohon di tengah taman Eden itu; Adam pun mengabaikan perintah itu dan memakan buah itu juga. Oleh karena peristiwa ini, natur hati, pikiran, emosi, kemauan dan phisik Adam dan Hawa berubah. Ia mulai memiliki sifat yang menyalahkan orang lain dan kematian pun sudah menanti manusia pertama itu. 

Setiap keturunan Adam secara otomatis memiliki sifat menyalahkan ini. Setelah Adam memakan buah yang berada di tengah Taman Eden, Sang Pencipta mencari Adam.  Ketika Sang Ilahi bertanya mengapa ia makan, Adam berdalih. Adam menyalahkan Hawa karena perempuan itulah yang memberikan buah kepada Adam.

Sikap menyalahkan-orang-lain melekat dalam diri sampai ada 'kekuatan-baru' mematikannya.

Ketika Hawa ditanya Tuhan, Hawa kemudian menyalahkan Ular karena Ular-lah yang menggodanya. Adam dan Hawa menyalahkan pihak lain, bukan dirinya. Inilah kisah menyalahkan-orang-lain yang pertama kali dalam sejarah manusia. Sejak peristiwa di Taman Eden itu, sikap menyalahkan-orang menjadi sesuatu yang alami bagi setiap keturunan Adam. 

Apakah sikap ini bisa diatasi? Tidak mudah menahan lidah, bibir dan mulut apalagi pikiran. Siapa yang bisa menjaga pikiran? Pikiran bergerak begitu cepat yang menginspirasi Bill Gates menulis buku berjudul @Speed of Thought. Hanya usaha-usaha untuk menguranginya yang bisa dilakukan, tetapi menghilangkannya tidak bisa.

Sikap menyalahkan-orang-lain melekat dalam diri sampai ada 'kekuatan-baru' mematikannya. Bila tidak, sampai masuk ke 'liang kubur'  pun, sikap ini akan terus hidup dalam diri kita.

Pertanyaan:

  1. Apakah Anda memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain?
  2. Coba Anda renungkan dari mana kecenderungan itu datang?
  3. Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi sikap itu pada diri Anda?


SEMINAR: HABITS OF THE MIND
08.30-17.00; Jadwal Jakarta; Surabaya & Yogyakarta
EMAIL: info@business-excellence-luminance.co.id
CONTACT: 0813-1141-8800



Copyright 2009-2017 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK
0813-1141-8800

Bagaimana Pola Pikir Terbentuk?

Bagaimana Pola Pikir Berubah?

Bagaimana Mewujudkan Revolusi Mental?

Bagaimana Mencegah Stress?

Bagaimana Memilih Pekerjaan?