Mengkaji Ulang Nilai-Nilai Budaya
Batak Toba

Pentingnya Mengkaji Nilai Budaya Batak

Saya menulis artikel ini dipicu oleh sebuah postingan di grup wa yang saya ikuti. Judulnya cukup menarik- The Death of Samurai. Di postingan yang singkat dan padat itu, dikisahkan bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa Jepang seperti Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba, dan Sanyo berguguran. Setelah puluhan tahun perusahaan-perusahaan ini menguasai singgasana di bidangnya, satu per satu perusahaan ini dibuntuti, dimbangi dan disalib oleh perusahaan-perusahaan dari Korea.

Tiga Penyebab Gugurnya Perusahaaan Jepang; Salah Satu: Seniority Error

Penulis postingan The Death of Samurai menyebutkan 3 penyebab gugurnya perusahaan-perusahaan raksasa Jepang tadi: Harmony Culture Error, Seniority Error, Old Nation Error. Tentu masih ada faktor lain yang ikut memberikan kontribusi terhadap turunnya perusahaan raksasa ini dari pasar. Namun, saya pikir bahwa faktor budaya, lebih tepatnya nilai-nilai budaya yang melandasi perusahaan, di satu waktu akan menghadapi ujian: apakah nilai-nilai budaya atau falsafah bisnis yang diterapkan benar atau tidak. Ini yang terjadi di Jepang dan itu bisa terjadi di negara atau masyarakat manapun bahkan sampai di level individu.  

Menghargai yang lebih tua sangat kental dalam tradisi Confucianisme.

Secara singkat, nilai budaya di Jepang tidak dapat dipisahkan dari tradisi Confucianisme. Tradisi ini sangat kuat di Jepang yang dipadu dengan keyakinan agama Shinto. Prinsip senioritas misalnya, bisa dilihat dengan jelas dalam karya-karya Confucius seperti buku The Great Learning (Da Xue), The Doctrine of the Mean (Zhong Yong), dan The Analect (Lun Yu.  Yang tua begitu dihormati bahkan sampai bersikap yang cukup ekstrim seperti menyembah arwah nenek moyang.

Bila nilai budaya Confucianisme bisa 'roboh,' tradisi yang lebih kecil pun bisa roboh.

Bila tradisi Confucianisme yang relatif baik, luas dan dalam untuk hubungan sosial bisa roboh, apalagi dengan tradisi-tradisi yang lebih kecil seperti nilai budaya Batak Toba.

Oleh karena itu, nilai-nilai adat Batak perlu dikaji ulang. Banyak yang perlu dilihat dan dievaluasi. Sebutan Hula-Hula, Boru, Dongan Tubu dalam Dalihan Natolu misalnya, tanpa disadari bisa membuat 'perasaan senioritas' di pihak Hula-Hula. Ketika konsep Dalihan Natolu diterapkan dalam acara-acara pesta adat, konsep ini bisa membuat 'jarak'. Apalagi kalau Hula-Hula yang lebih muda umurnya berhadapan dengan boru yang lebih tua dan pikirannya lebih matang- bisa muncul konflik batin seperti yang diucapkan oleh Lae saya (Boru saya) dalam sebuah pesta. "Boasa gabe iba marhobas ai nunga matua iba." Kata boru saya dalam acara pesta itu. Ia memang lebih tua dari saya dan umurnya hampir 60 tahun. Dari sisi pekerjaan pun, pekerjaannya 'mulia.'

Konflik batin bisa muncul ketika nilai budaya Batak (Dalihan Natolu) diterapkan.

Masih ada peristiwa yang membuat saya berpikir ulang dengan sebutan-sebutan dalam komunitas orang Batak. Kadang, orang Batak tidak tahu membedakan kapan menggunakan kata Abang, Adik, Ito, Lae, Amang Uda, Namboru, dan sebutan lainnya. Pernah seorang menyebut saya Amang. Kemudian, akhir-akhir ini ia menyebut saya Lae padahal umurnya jauh lebih muda dari saya. Kalau perbedaan umur satu, dua atau tiga tahun, mungkin sebutan Lae masih relevan, tetapi kalau beda umur sudah sampai 10 tahun, mungkin sudah tidak tepat memanggil orang yang lebih tua Lae; yang lebih bersahabat adalah Amang atau Abang.

Pernah juga saya bertemu dengan seorang teman marga Pasaribu. Ia memanggil saya Amang Uda. Mungkin ia menyebut saya Amang Uda karena ia menghargai tradisi dan mengingat sejarah antara Saribu Raja (leluhur Pasaribu) dan Lau Raja (leluhur Malau). Dari silsilah, marga Pasaribu adalah keturunan dari Saribu Raja, abang Si Lau Raja (leluhur Malau). Selain itu, teman itu mungkin mengingat kisah bagaimana si Lau Raja (Malau) menyelamatkan nyawa si Saribu Raja dari usaha pembunuhan yang disepakati Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Si Lau raja, yang merupakan adik kandung dari Saribu Raja karena Saribu Raja menghamili adik perempuan mereka si Boru Pareme.

Mengetahui Saribu Raja menghamili Si Boru Pareme, ketiga adik Saribu Raja membuat sumpah mati, "siapa yang pertama melihat Saribu Raja- ia harus membunuhnya." Setelah acara sumpah mati itu, Si Lau Raja adalah orang yang pertama yang melihat abangnya. Si Lau Raja tidak tega membunuh abang kandungnya. Ia pun mengucapkan kalimat dengan menghadap ke langit, kemudian melihat bumi agar abangnya si Saribu Raja melarikan diri sebab ia dan adik-adiknya telah sekongkol untuk membunuhnya. Karena kalimat si Lau Raja ini, Saribu Raja pun melarikan diri. Konon, Saribu Raja tetap menikahi adik perempuannya secara diam-diam, yang di kemudian hari mempunyai keturunan bernama si Raja Lontung.

Karena kisah di atas, mungkin teman saya Pasaribu tadi menyebut saya Amang Uda. Marga Pasaribu dan keturunannya merasa sangat berhutang budi kepada Si Lau Raja (leluhur Malau) karena usaha penyelamatan yang dilakukan si Lau Raja.

Namun, saya merasa risih ketika ia memangggil saya Amang Uda. Pertama, karena ia lebih tua dari saya; beda umur kami hanya satu atau dua tahun. Kedua, dari segi kematangan hidup, ia juga cukup matang. Mungkin akan lebih bersahabat kalau ia memanggil saya Anggia karena secara sudut parmargaon pun, saya masih sianggian dan secara umur, saya masih lebih muda.

Saya tetap memanggilnya Abang. Saya tidak memangilnya Amang Tua. Pertama, karena saya tidak mau didikte oleh konsep nilai budaya Batak Toba dalam menyebut panggilan kepada orang lain apalagi kalau konteksnya tidak relevan. Bagi saya, lebih tepat menyebut orang yang lebih tua Abang (Angkang) atau menyebut hamu Amang kalau kelihatannya ia jauh lebih tua.  

Mengkaji Ulang Nilai-Nilai Budaya
Batak Toba Perlu

Ini baru beberapa situasi saja bagaimana konsep Dalihan Natolu dan tradisi  memberi pengaruh kepada hubungan sosial, yang kelihatan baik, tetapi menyimpan konflik pemikiran atau batin. 

Bila kita memberi perhatian lebih serius, budaya Adat Batak Toba perlu dikaji ulang. Bila tidak, orang Batak mungkin melakukan tradisi-tradisinya bukan karena mengerti, tetapi karena 'dipenjara' tradisi. Seperti kata pepatah orang Batak, "Eme na masa digagat ursa, aha na masa ima ni ula." Bila maksudnya diterjemahkan kira-kira begini: apa yang dilakukan orang- itulah kita lakukan.

Siapakah Orang Batak Itu?

Opat (4) Poda ni Si Raja Batak yang  Dilupakan Keturunannya (Poda No. 1 & 2)

Empat (4) Petuah Raja Batak yang Diluapakan Orang Batak (Poda No. 3 & 4)

Dari Mengkaji Ulang Nilai-Nilai Budaya Batak Toba ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Siapakah Orang Batak Itu?

Empat (4) Poda ni Si Raja Batak yang Dilupakan Keturunannya

Empat (4) Petuah Raja Batak yang Dilupakan Orang Batak

Apa Itu Budaya?

Etika Meminjam Uang kepada Orang lain