Orang Benar di Barisan yang Salah

Oleh: Judika Malau

Orang Benar

Judul tulisan ini saya kutip dari tulisan Denny Siregar berjudul Ketika Anies Memimpin Jakarta, yang mengulas siapa-siapa dibalik Anies Baswedan. Saya tidak menulis ulang apa yang dibahas Denny, tetapi mengulas dampak keputusan Anies Baswedan mau satu barisan dengan Partai Gerindra dan PKS.

Banyak orang tahu bahwa Anies Baswedan adalah sosok yang sangat dikenal oleh kalangan muda. Secara phisik, ia tampan dan menarik. Dari sisi akademis, ia punya gelar doktor dan pernah jadi rektor di salah satu universitas. Ia juga dikenal piawai berkomunikasi. Saya pernah memperhatikannya di acara Mata Najwa. Selain itu, ia dikenal sebabai sosok yang menggulirkan konsep Indonesia Mengajar.

Saya pribadi tidak begitu mengenal pemikiran-pemikirannya. Saya mengkombinasikan cara Allan Pease, Mencius dan Yesus untuk mengenal seseorang. Allan Pease membantu saya untuk mengenal seseorang dari bahasa tubuhnya; Mencius mengajari saya melihat mata seseorang untuk mengenal jiwanya; yang lebih mantap, Yesus mengajari saya mengenal seseorang dengan memperhatikan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Ketiga metode ini cukup ampuh bagi saya untuk mengenal seseorang dan bila metode ini digunakan dengan baik, tidak dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengenal seseorang; cukup lima sampai sepuluh menit membaca bahasa tubuhnya, melihat matanya dan memperhatikan kata-katanya- Anda sudah dapat mengenal orang itu. Dengan mengkombinasikan ketiga metode itu, konklusi sementara mengenai seseorang dapat dibuat sekalipun tidak selalu benar, tetapi cukup untuk memasang kuda-kuda kalau radar dalam hati menangkap sinyal-sinyal yang buruk ketika berhadapan dengan seseorang.

Kembali tentang Anies Baswedan. Muncul pertanyaan, 'mengapa ia menerima posisi menjadi calon gubernur DKI.' Saya tidak persis tahu apa 'deal-deal' politik yang terjadi sampai akhirnya Anies menjadi calon gubernur, yang seharusnya milik Sandiaga Uno. Mungkin Anies sudah membuat kalkulasi rasional bahwa ia cukup populer dan dengan kepopulerannya ia mungkin bisa mengalahkan Ahok yang diibaratkan orang seperti Goliat. Selain itu, pengalamannya sebagai Menteri Pendidikan, yang 'ditendang' Jokowi, teman akrab Ahok, dan didukung oleh dua partai pendukung, Gerindra dan PKS, Anies Baswedan berpikir bahwa ia bisa menggantikan Ahok.

Namun, Anis Baswedan mengabaikan satu prinsip yang ia coba tularkan kepada masyarakat lewat orasinya Indonesia Mengajar. Bahwa untuk merubah bangsa atau masyarakat, karakter dan ketaatan pada nilai-nilai universal merupakan kunci yang sangat penting. Di sini Anies Baswedan melanggar prinsip itu. Ia masuk di barisan partai Gerindra, yang kesannya seperti membangun Indonesia Raya, tetapi nyata-nyatanya tidak ditunjukkan oleh elit-elit partai Gerindra. Ia mau didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera, yang nyata-nyatanya dihuni orang-orang yang panas-panas taik ayam menerapkan  keadilan dan kesejahteraan. Sikap Anies ini sulit diterima akal sehat; mengapa ia satu barisan dengan Partai Gerindra dan PKS.

Di karya-karya klasik kuno, ada pesan bahwa orang benar tidak pernah duduk dengan orang yang tidak benar. Orang benar dan orang tidak benar tidak pernah satu visi. Orang benar tidak mau tinggal di lingkaran orang-orang yang tidak menghendaki kemajuan negeri. Hanya di saat-saat bertanya jawab, orang benar berada di sekeliling  orang-orang munafik untuk mengkritik pikiran-pikiran buruknya.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan Jakarta kalau Anies Baswedan jadi Gubernur DKI. Ia bakal dapat tekanan dari partai pendukungnya dan orang-orang di belakangnya yang disebut Denny seperti serigala lapar. Sosok Anies yang kelihatan lemah lembut diprediksi tidak punya nyali seperti Ahok untuk menghadapi gertakan-gertakan dari barisan-barisan yang mau merongrong kemajuan Jakarta. Preman-preman akan merajalela. Kelompok-kelompok yang menghambat pembangunan dan kemajuan akan sering menggunakan kekuatan phisiknya untuk mengancam ketentraman masyarakat dan merusak apa yang sudah dibenahi selama ini di Jakarta. Para pekerja yang membersihkan sungai pun akan kembali diperas para pejabat yang mendapat beking dari barisan pendukung kedua partai tadi.

Dengan sikap Anies Baswedan seperti ini- bisa diprediksi bahwa DKI akan kembali seperti di era sebelum tahun 2012. Episode banjir akan kembali ditayang di tv dan menjadi siaran utama di musim penghujan. Seperti kata pepatah kuno, bila orang yang tidak jujur memimpin, orang akan ketakutan. Cita-cita Jakarta Baru akan pudar, apalagi Indonesia Baru, terlebih-lebih Indonesia Raya semakin jauh.

Anda mau pilih Anies Baswedan? Kalau Anda sosok yang rasional, saya sarankan Anda pilih yang lain. Masih ada Agus Yudhoyono sekalipun ia mengambil keputusan untuk menjadi calon gubernur demi  menghidupkan lagi dinasti SBY di republik ini atau memilih Ahok, yang dengan serius, professional, jujur dan transparan melayani masyarakat DKI dan membangun Jakarta, tetapi harus sabar Anda mendengar bacotannya yang menurut teman saya, Jakarta dan Indonesia akan sepi kalau Ahok tidak gubernur lagi.

Jangan-jangan Anies Baswedan menyimpan motif yang tidak murni dalam hatinya dalam Pilkada DKI, ibarat singa berbulu domba, sehingga Anda harus tulus seperti burung merpati dan cerdik seperti ular untuk menghadapinya atau ia adalah orang benar yang berada di barisan yang salah, seperti Bisma di barisan Kurawa. Kita lihat saja. (JM)


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

 Seminar

Luminance of the Mind

Habits of the Mind


Start Yoru Own Business

Financing Your Business (Project)

Grow Rich