Siapa Pembicara Motivasi yang Populer di Indonesia?

Siapa pembicara motivasi yang populer di republik ini? Jawaban yang umum adalah Mario Teguh, Tung Desem Waringin, Andrie Wongso dan beberapa nama lain. Namun, bila pertanyaan ini dijawab secara akademis dan isi seminar diselidiki, daftarnya bisa panjang. Misalnya, sosok-sosok seperti Billy Kristanto, Antonius Un, David Tong, dan masih banyak yang lain seharusnya ada dalam daftar pembicara top. Namun, sosok-sosok yang disebut belakangan membatasi diri berbicara di komunitas terbatas.

Berkaitan dengan topik di atas, penulis akan memberi penjelasan mendasar seputar topik motivasi di halaman ini.

Apa Itu Motivasi?

Apa itu motivasi? Secara sederhana, motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Ini bisa berupa uang, ingin dikenal, sampai pada hal-hal yang bersifat rohani.  Menurut Peter Drucker, "Setiap orang sebenarnya mempunyai motivasi. Paling tidak, setiap orang mempunyai kapasitas untuk melakukan sesuatu bagi dirinya.' Ini sudah tertanam dalam hati setiap orang sejak dalam kandungan. Ketika seseorang lapar misalnya, ia akan mencari makanan. Bagaimana ia mencari makanan- ini bisa dengan bermacam cara. Ada yang mencari makanan dengan bekerja. Ia  dapat upah dari hasil jerih payahnya dan dengan upahnya, ia membeli makanan.

Karena motivasi ada dalam diri manusia, khususnya 'berada' dalam jiwa, mau tidak mau, topik  tentang jiwa tidak dapat diabaikan. Begitu juga relasi antara jiwa dan tubuh, bagaimana jiwa dan tubuh bekerja, apa pengaruh jiwa terhadap tubuh dan sebaliknya- ini tidak dapat dilewatkan. Dari pernyataan singkat ini, barangkali Anda sudah dapat membayangkan siapa yang punya kompetensi menjadi pembicara motivasi ini.

Tentu, siapapun bisa membahas topik motivasi. Namun, dari sisi akademis, yang paling cocok jadi pembicara topik ini adalah mereka yang banyak mempelajari topik-topik seputar pikiran, jiwa, hati dan relasinya dengan tubuh. Siapa lagi kalau bukan sosok-sosok yang mengambil profesi seperti pendeta, ustad, filosof, psikolog, guru
dan dokter.

Mereka inilah sebenarnya yang paling tepat jadi pembicara topik motivasi karena mereka banyak bergulat dengan topik manusia termasuk yang sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti 'Siapakah saya? Dari mana dunia ini datang? Apa yang harus saya tahu? Apa yang harus saya kerjakan? Apa pengharapan saya?'

Namun, yang menjadi pembicara topik motivasi saat ini justru bukan yang punya profesi yang saya sebutkan tadi. Bila Anda melihat latar belakang pendidikan pembicara seminar motivasi yang ada di republik ini, barangkali tidak ada yang belajar topik-topik Teologi, Filsafat dan tubuh secara akademis. Mungkin mereka belajar topik-topik itu secara autodidak atau membaca buku-buku yang ada. Ini tidak berarti bahwa kompetensi pembicara yang ada saat ini diragukan. Seperti yang saya katakan di atas, siapapun bisa jadi pembicara topik motivasi. Apakah mereka belajar secara autodidak atau mengambil kuliah secara akademis- itu adalah soal metode belajar. Pada akhirnya, hanya mereka yang menemukan pekerjaaan atau panggilannyalah nantinya yang akan membuat perbedaan.

Anda Sendiri pun Bisa Jadi Pembicara Motivasi?

Anda sendiripun bisa menjadi pembicara topik ini bila Anda menggeluti topik seputar jiwa dan tubuh dengan sungguh-sungguh. Anda bisa mengambil jurusan metafisika, Filsafat, Teologia dan mengambil kuliah intensif mengenai topik itu di institusi yang banyak memberi pelajaran tentang manusia termasuk topik seperti kebiasaan pikiran, emosi, kemauan, dan pengambilan keputusan.    

Pembicara yang ada saat ini mungkin belajar secara autodidak. Mereka tentu banyak membaca buku sebab para pembicara tulen adalah pelahap buku. Pembicara seminar manapun punya ciri khas ini dan inilah yang membedakannya dengan orang-orang awam yang mempunyai pengetahuan yang umum tentang jiwa dan tubuh; sama-sama punya kapasitas membicarakan motivasi, tetapi para pembicara yang serius lebih 'ahli' karena ia terus menambah pengetahuannya terutama lewat baca buku.

Dapat dikatakan bahwa yang layak menjadi pembicara motivasi adalah mereka yang belajar kebenaran, mereka yang banyak memberikan perhatian tentang roh, jiwa, hati, pikiran, emosi, tubuh dan relasi diantara yang disebut tadi. Bila pengetahuan ini dipadukan dengan Filsafat, teknik berbicara baik di depan publik dan penampilan phisik yang baik- ia dapat disebut pembicara yang hampir sempurna.

Namun, yang paling penting bagi pembicara topik motivasi adalah bahwa ia memberitakan relasi yang benar antara jiwa dan tubuh dengan baik dan menyajikannya secara konsisten.

Itu sebabnya, menjadi motivator yang baik butuh kompetensi yang banyak. Barangkali, tidak ada profesi yang menuntut pengetahuan sebanyak jadi pembicara seputar motivasi. Pesaing terdekat barangkali hanya mereka yang mengambil profesi hukum atau kedokteran. Itu sebabnya, sosok seperti Mario Teguh sangat langka.Anda harus antri agar dapat mengundangnya atau Anda berpikir bebeberapa kali apakah Anda mau menginvestasikan dana yang lumayan Anda untuk memberi motivasi.

Masih banyak yang mampu menjadi motivator termasuk Anda sendiri. Namun, bila Anda membutuhkan pembicara 'sekelas' Mario Teguh, salah satu opsi dari puluhan opsi yang ada adalah Pembicara Motivasi Judika Malau.


Untuk mengundang Judika Malau, hubungi kami di 0813-1141-8800 atau 021-8430-3041

TRAINING PROVIDER: BUSINESS EXCELLENCE LUMINANCE

TELP: 021-8430-3041; 0813-1141-8800

EMAIL: info@business-excellence-luminance.co.id

TOPIK YANG RELEVAN

Bagaimana Meningkatkan Motivasi Hidup Anda?

Bagaimana Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan Anda?

Mencari Pembicara Seminar Motivasi yang Unik?

Lima Tips Menjadi Pembicara Publik

Dari Pembicara Motivasi ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Butuh Pembicara Motivasi?
0813-1141-8800
021-8430-3041

SPECIAL PROGRAM

Habits of the Mind

Thinking with Six Hats