Doktrin Pembuktian: Kunci Kemajuan Barat
Pembuktian KeyakinanSeperti yang telah disajikan dalam artikel berjudul Dominasi Pragmatisme dalam Dunia Kerja, dunia kerja tidak lagi dituntun oleh spritualitas. Religiusitas semakin tersisih. Pragmatisme semakin merajalela disertai dengan nafsu serakah, yang membuat persoalan dunia kerja semakin kompleks. Nasib dunia kerja di republik akan semakin suram bila tidak ada usaha-usaha untuk membendungnya. Memang sudah ada yang mencoba meredam laju Pragmatisme. Di berbagai kota mulai muncul kelas-kelas yang menyadarkan masyarakat tentang ancaman-ancaman terhadap negeri ini baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Namun, belum ada yang dapat dijadikan model untuk diterapkan dalam dunia kerja.
Salah satu model yang bisa dipelajari adalah konsep yang pernah diterapkan oleh Kaum Puritan di Inggris, pada abad ke-17, yang pengaruhnya masih terasa sampai saat ini. Pemilihan model ini relevan dengan konteks negeri ini oleh karena akar konsepnya hampir mirip dengan nilai-nilai Pancasila. Kaum Puritan sangat menekankan spritualitas dalam seluruh kehidupan mereka. Praktis dalam dunia kerja juga berakar pada nilai-nilai yang berwarna religius. Ada pembuktian dalam tataran praktis yang merupakan derivatif sebuah keyakinan. Salah satu aspek yang mau ditonjolkan adalah usaha-usaha Kaum Puritan menghubungkan keyakinan dan perbuatan. Mereka bergairah untuk membuktikan diri sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka bertanya, 'Bagaimana mengetahui dan yakin bahwa saya sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan apa buktinya?' Jawaban pertanyaan di atas tentu tidaklah mudah. Dalam tataran teori mungkin mudah, tetapi level praktis tidaklah semudah jawaban teoritis. Kaum Puritan di Inggris menjawab pertanyaan itu secara unik bahkan mungkin belum ada duanya di dunia kecuali oleh kelompok yang sepamahaman dengan mereka seperti yang diperagakan oleh Kaum Huguenot dari Prancis. Dalam mempraktekkan keyakinannya, orang Puritan tidak sekedar percaya kepada Tuhan. Ada pembuktian yang sungguh-sungguh. Mereka juga tidak berhenti pada aktifitas rohani seperti menyadari dosa, menerima Firman, menguduskan diri, mengalami damai sejahtera, dan memiliki pengharapan. Mereka tidak sekedar percaya pada slogan-slogan seperti 'Saya anak Tuhan' atau 'Saya taat pada Allah.' Mereka tidak menutupi diri dengan melakukan aktifitas rohani secara rutin seperti mendengar khotbah, berdoa, mempelajari Firman, melakukan pengajian, dan melakukan berbagai ritual agama lainnya, tetapi mereka melangkah, dan 'membuktikan' bahwa mereka adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Bagaimana mereka membuktikannya?
Kaum Puritan membuktikan keyakinannya lewat perbuatan. Tidak ada perbuatan, tidak ada keyakinan- begitu prinsip mereka. Mereka berjuang keras membuktikan status mereka sebagai orang yang percaya dengan senantiasa tetap mengerjakan keselamatan dengan rasa takut, gentar dan sungguh-sungguh. Mereka berpikir dan bertindak dengan segenap hati sebagai bukti bahwa mereka orang yang takut pada Tuhan. Ibarat koin mata uang, sisi yang satu adalah keyakinan dan sisi yang lain, perbuatan; keduanya tidak dapat dipisahkan. Perbuatan menjadi bukti dari keyakinan yang sejati dan itulah yang menandai seseorang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Pembuktian dapat dlilihat dengan kasat mata.Namun, Kaum Puritan tidak berhenti pada perbuatan yang bernuansa moral saja. Relatif mudah bagi pemeluk agama bersikap hormat kepada orang yang lebih tua, tidak membunuh, tidak melakukan seks di luar nikah, tidak mencuri, tidak merampas milik orang lain, tidak mengatakan kebohongan, tidak mengejek bahkan mengejek dalam hati, tidak merendahkan orang lain, berbicara sopan, bersikap adil, ramah, senyum, dan sikap moral lainnya. Kita masih bisa menemukan sosk-sosok demikian baik di kantor maupun di komunitas kecil. Kaum Puritan tidak berhenti pada etika-etika, tetapi mereka melebihi hal-hal ini. Mereka menerapkan perbuatan sampai pada bidang pekerjaan. Pembuktian sampai menyentuh professi apapun. Bagi Kaum Puritan, bekerja tidak lagi karena keinginan hati atau nafsu badani. Bekerja bukan lagi karena dorongan-dorongan yang sifatnya 'self-interest' semata-mata; bekerja bukan lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup atau menjadi sarana ekonomi, tetapi mereka bekerja demi untuk satu hal, yaitu kemuliaan Tuhan yang Maha Esa. Apapun yang mereka kerjakan- ini mereka lakukan seperti untuk Tuhan. Eksistensi hidup mereka semata-mata untuk kemuliaan Tuhan. Apakah seseorang sebagai petani, nelayan, karyawan, tentara, pejabat, guru, dosen, pejabat, 'lawyer', pemimpin agama dan lain-lain- ini mereka lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Bagi Kaum Puritan pekerjaan adalah panggilan hidup. Inilah yang membuat Kaum Puritan berbeda dari orang beragama lainnya. Inilah pembuktian yang tidak dapat ditemukan dalam masyarakat manapun di dunia ini. Renungan: - Bagaimana Anda membuktikan bahwa Anda percaya kepada Tuhan yang Maha Esa?
- Apakah Anda mengaitkan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan pekerjaan Anda?
Artikel Terkait:
Pekerjaan, Dunia Kerja & Visi Indonesia Raya Hampir 70% waktu tersita untuk beraktifitas, dan yang paling banyak menyita waktu adalah pekerjaan. Oleh karena itu, pekerjaan merupakan topik yang sangat penting dalam hidup. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Ketika Memilih Pekerjaan Sekalipun sulit memilih pekerjaan sesuai bakat, saran berikut dapat Anda pertimbangkan. Pertama, kenalilah diri Anda terutama potensi, bakat dan talenta Anda. Tips Wawancara: Perhatikanlah Kelima Hal Ini Sebelum Mengangkat Seseorang Menjadi Pekerja di Perusahaan Anda Ada lima tips wawancara yang patut diperhatikan agar perusahaan Anda maju. Contoh Uraian Jabatan Reservoir Engineer di Perusahaan Minyak Berikut adalah contoh uraian jabatan (job description) yang bisa Anda modifikasi untuk kebutuhan perusahaan Anda. Melakukan Evaluasi Jabatan di Perusahaan Dengan melakukan evaluasi jabatan, estimasi nilai/bobot dari sebuah pekerjaan dapat diketahui, yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan golongan jabatan dan gaji pokok seorang pekerja. Metode Evaluasi Jabatan: Sepuluh (10) Faktor yang Dipehitungkan Ada 4 faktor besar untuk mengevaluasi jabatan: pengetahuan, usaha, kondisi kerja, dan tanggung-jawab. Bagaimana Gaji Pokok Anda Ditentukan Gaji pokok biasanya ditentukan berdasarkan uraian tugas dan skala gaji yang berlaku di perusahaaan. Delapan Saran untuk Pemegang SahamSebagai Pemegang Saham, posisi Anda sangat vital dalam menentukan masa depan dunia kerja dan bisnis di republik ini. Inilah beberapa langkah yang dapat Anda pertimbangkan untuk memperbaikinya. Pekerjaan Sebagai Panggilan Panggilan harus diraih dan dilakukan dengan usaha-usaha yang serius dan keras. Askese Aktif Orang-orang yang hidup di biara melakukan askese pasif, tapi kaum Puritan melakukan askese aktif, yaitu menahan diri dari nafsu-nafsu badani, tetapi aktif dalam dunia. Pekerjaan Apa yang Menarik bagi yang Telah Mencapai Usia Pensiun? Apa yang Anda kerjakan pada usia pensiun? Mungkin Anda masih akan terus mengerjakan pekerjaan yang sama. Bagaimana kalau Anda melakukan sesuatu yang berbeda? Dari Doktrin Pembuktian ke Halaman Depan Situs Putra-Putri Indonesia memfasilitasi terbentuknya manusia Indonesia yang seutuhnya.
Berlangganan Putra-Putri-Indonesia.com
Sebelum Anda meninggalkan Putra-Putri-Indonesia.com, silahkan meninggalkan alamat e-mail dan nama Anda. Ini hanya digunakan untuk mengirimkan e-magazine secara berkala kepada Anda.
|