Empat (4) Petuah Raja Batak yang Dilupakan Orang Batak

Petuah Raja Batak yang pertama dan Kedua.

Berikut adalah petuah Raja Batak yang ketiga dan keempat.


"Ketiga, jangan terlalu menyanjung-nyanjung Konsep Dalihan Na Tolu. Itu falsafah yang kecil dan masih perlu koreksi termasuk ritual pelaksanannya. Ini butuh pemikiran lebih lanjut. Setiap tindakan merupakan hasil dari pemikiran yang tertanam dalam hati. Kalian tentu masih ingat rumusan Dalihan Na Tolu: Somba Marhula-Hula, Elek Marboru dan Manat Mardongan Tubu. Khususnya sikap elek dan manat- hampir semua bangsa memiliki itu. Itu merupakan sesuatu yang natural. Jangan hanya elek marboru; sama siapa pun, sedapat mungkin, kalian harus elek sebab ini sikap yang patut dipertahankan. Ini mirip sikap para penjual barang atau jasa.

Begitu juga sikap manat- sikap ini bukan hanya untuk dongan tubu atau abang adik saja. Terhadap semua orang sikap ini harus diterapkan. Kita harus hat-hati.

Saya tidak tahu siapa yang menurunkan kata somba. Saya tidak pernah menurunkan ini kepada anakku. saya juga tidak pernah meminta agar saya dihormati begitu khusus. saya manusai biasa sama dengan orang lain. Yangmembdakan barangkali adalah bahwa saya berusaha untuk melakukan apa yang saya pikir dan anggap benar, tetapi pemikiran saya tidak selalu benar. Saya tidak berani menganggap demikian sebab proses pematangan pikiran saya masih terus berlanjut. Mengutip kata Agustinus, 'kalau kalian menemukan pemikiran salah dalam buku-buku saya, buanglah buku-buku saya. Kembalilah ke Jalan Benar. Saya tidak sehebat Agustinus; saya manusia biasa."      

"Mungkin ada dulu keturunanku yang gila-gila hormat dan memasukkan falsafah somba marhula-hula ini untuk kepentingan pribadinya. Ia mungkin butuh disembah; butuh dihormati lebih. Manusia memang punya potensi besar gila hormat. Jadi, ini mungkin dipicu oleh keinginan pribadinya sehingga ia merumuskan dan memasukkan falsafah ini ke Dalihan Na Tolu.

Kalian harus menelusuri dari mana falsafah ini. T. M. Sihombing pernah menuliskan kisah dibalik ini. Coba kalian cari latar belakangnya. Jangan mau diikat oleh konsep somba marhula-hula ini apalagi  menyanjung-nyanjung konsep ini. Saya lihat, sampai ke Amerika pun kalian tetap membawa konsep ini. Bukankah keturunanku dari sudut dunia pemikiran sebenarnya masih 'tinggal di Pusuk Buhit' sekalipun tinggal di New York?"

Rumusan Hubungan Sosial yang Ditemukan Confucius Jauh lebih Luas dan dalam dari Rumusan Dalihan Na Tolu

"Rumusan hubungan sosial yang ditemukan oleh Confucius masih jauh lebih luas dan dalam dari rumusan Dalihan Na Tolu. Bila kamu membaca karya-karyanya seperti The Analect, Da xue, Lun Yu, kamu akan melihat kedalaman pemikirannya. Ia sudah memikirkan bagaimana memerintah sebuah kekaisaran seluas Cina. Tanah Batak itu hanya sebatas Kabupaten Tapanuli Utara dulu. Saya belum punya konsep kekaisaran seperti di Cina. Jadi, kalian harus merantau dan menjelajahi dunia pemikiran sampai ke Jenewa atau Philadelphia sebab di dua tempat ini masih ada penerus pemikiran John Calvin."

Petuah Raja Batak Ke-empat: "Jangan menganggap keramat marga."

"Keempat, jangan menganggap keramat marga itu. Dulu saya tidak punya marga. Saya dulu diberi nama Batak. Saya tidak tahu apakah nama ini diberi karena saya punya banyak taktik (Batak). Saya tidak sempat menanya ayah saya. Ayah saya memberi nama itu, tetapi tidak pernah berpikir bahwa nama itu jadi sesuatu yang sakral. Nama ya nama. Tapi, kalian membuat marga itu seperti sesuatu yang sakral dan keramat bahkan lebih keramat dari acara Perjamuan Kudus dari Baptisan orang Kristen.

Marga itu adalah nama, bukan dibuat jadi  criteria untuk menentukan siapa yang bisa dinikahi. Kalian bisa menikah dengan siapa saja kecuali dengan saudara kandung sendiri atau anggota keluarga lingkaran paling dekat. Kalian bisa belajar dari tradisi Yahudi yang ditulis oleh Musa. Ia telah menuliskan siapa-siapa yang tidak dapat dikawini." 

"Coba perhatikan si Abraham saudara leluhur kita. Ia menikah dengan saudaranya perempuan, Sara. Keturunan bangsa Israel pun menikah sesama sukunya. Sekalipun itu tidak jadi patokan mutlak, tidak salah kalau kalian kawin semarga asal bukan anggota keluarga dekat.

Kalau kalian masih sungkan kawin semarga, kalian bisa pikirkan dan pertibangkan lagi.  Marga Limbong dan Sagala sudah bisa saling menikah. Mereka membuat kesepakatan. Kalian juga bisa membuat kesepakatan setelah kalian memikirkan dan mempertimbangkan dari berbagai sudut agar keturunan-keturunanku  tidak mempermasalahkan soal kawin semarga atau kawin dengan marga lain yang masih dalam satu kelompok di kemudian hari."

"Saya harap nasihat saya ini kalian pikirkan dan pertimbangkan agar keturunanku bisa menjadi panutan di masyarakat dan bangsa Indonesia. Saya berharap kalian menempuh jalan yang benar. Kadang pemikiran kelihatan baik dan benar, tapi bila dievaluasi lebih jauh, pemikiran itu sudah keluar dari jalur. Jadi, kalian harus waspada terhadap setiap pemikiran yang kalian terima."


Itulah petuah Raja Batak kepada keturunanya. Tentu, nasihat di atas hanyalah nasihat imajiner si Raja Batak, yang patut Anda pikirkan dan pertimbangkan.

Opat (4) Poda ni Raja Batak yang Dilupakan Keturunannya (No. 1 & 2)

Siapakah Orang Batak Itu?

Bagaimana Menilai Budaya Batak Toba

Dari Petuah Raja Batak ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.


Opat (4) Poda ni Si Raja Batak yang Dilupakan Keturunannya

Siapakah Orang Batak Itu?

Apa Unsur-Unsur Budaya?

Pentingnya Mengevaluasi Nilai Budaya Batak Toba