Pilkada DKI: Apakah Ahok Akan Menjadi Gubernur untuk Periode Kedua?

Pilkada DKI masih jauh, masih satu tahun lagi, tetapi genderangnya sudah terdengar ke seluruh pelosok nusantara. Baru Ahok yang mendeklarasikan diri jadi calon gubernur; Bukan lewat partai politik, tetapi  lewat jalur independen. Yang lain- Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Adhyaksa Dault, Haji Lulung, "wanita emas" (Mischa Hasnaeni Moein)- masih ke sana ke mari 'mengemis' dukungan agar bisa jadi calon. Tidak tahu siapa yang pasti jadi calon gubernur untuk dipilih warga DKI. Yang jelas, ada yang deg-deg-an, khususnya mereka yang mendudukung Ahok. Sebagian mencari siasat bagaimana menjegal Ahok. Sebagian lagi memilih sikap seperti orang Plegmatis; tidak pusing siapapun yang mau jadi calon. 

Judul tulisan ini saya buat dalam bentuk tanda tanya. Saya tidak mau mendahului bahwa Ahok akan menjadi gubernur kedua kalinya. Kita tidak tahu apa yang terjadi hari esok. Tidak ada seorangpun dari warga DKI yang mengetahui siapa yang akan jadi gubernur, bahkan partai-partai politik sekalipun tidak punya kuasa untuk menentukan siapa jadi gubernur DKI.

...penulis punya firasat bahwa Ahok akan menjadi gubernur kedua kalinya. Ramalan ini didasarkan atas beberapa prinsip yang tersimpan di karya-karya klasik.

Namun demikian, penulis punya firasat bahwa Ahok akan menjadi gubernur kedua kalinya di Pilkada DKI 2017. Ramalan ini didasarkan atas beberapa prinsip yang tersimpan di karya-karya klasik. Disebutkan, "Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah bagi pandai emas. Sisihkanlah orang fasik dari hadapan raja, maka kokohlah tahtanya oleh kebenaran. Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, tahtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya. Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkannya ke mana ia ingini."

Melihat dengan teliti isi teks di atas, Ahok kemungkinan besar akan menjadi gubernur kedua kalinya. Survei-survei yang dilakukan terhadap elektabilitas Ahok memang menunjukkan trend ini. Namun, ramalan penulis tidak berdasarkan itu, tetapi pada prinsip-prinsip di atas.

Berikut adalah penjelasan mengapa Ahok akan jadi gubernur kedua kalinya. Pertama, Ahok berhasil menyisihkan "orang-orang fasik" dari sekelilingnya. Menurut penulis, ia menerapkan prinsip ini. Berkali-kali ia merotasi dan mengganti para pejabat di lingkaran DKI. Ribuan pejabat dimutasi. Ada yang dipromosikan, kemudian disingkirkan. Ada yang disingkirkan, kemudian dipromosikan. Pergantian pejabat ibarat acara rutin di lingkaran DKI. Ini satu-satunya propinsi di mana gubernurnya paling sering mengganti pejabat di lingkaran pemerintah. Barangkali tidak akan ada lagi sosok seperti Ahok yang melakukan seperti ini di masa-masa mendatang. Ini dilakukan untuk menyisihkan 'orang-orang fasik' dari pemerintahan.

"Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah bagi pandai emas. Sisihkanlah orang fasik dari hadapan raja, maka kokohlah tahtanya oleh kebenaran."

Kedua, apakah Ahok menjalankan pemerintahan dengan adil? Dugaan saya sangat kuat. Melalui program-program yang ia gulirkan, nyata benar bahwa Ahok ingin membawa warga DKI maju. Mottonya adalah otak, perut, dan dompet penuh. Ia gulirkan Kartu Jakarta Pintar bagi orang-orang yang miskin agar dapat pendidikan. Ia bagi juga Kartu Jakarta Sehat agar orang-orang miskin dapat berobat gratis. Ia bangun rumah sakit, ia perbaiki rumah sakit yang lama. Tanah negara diambil alih. Penggusuran-penggusuran ia lakukan, tetapi ia menyiapkan rumah susun bagi yang tergusur, tempat tinggal yang lebih baik dari pada tempat-tempat kumuh. Tidak ada lagi berita banjir lebih dari satu hari kita dengar di tv. Tahun-tahun sebelumnya, banjir ibarat pesta rakyat yang menyedihkan dan menjadi tontonan bagi seluruh penjuru dunia.

Kita hanya manusia. Namun, kita bisa memprediksi apa yang terjadi berdasarkan prinsip-prinsip di atas. Lewat Pilkada DKI, Ahok kemungkinan besar akan menjadi gubernur ke dua kalinya di tengah-tengah banyak usaha untuk menjegalnya termasuk wacana yang digulirkan di DPR untuk memperberat syarat bagi calon gubernur lewat jalur independen, wacana partai-partai politik untuk bergabung untuk menjegal Ahok dan kebencian-kebencian yang ditabur lewat isu-isu SARA.

Kalau kita percaya pada sila pertama dari Panca Sila,  yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Tuhan akan melakukan apa saja yang Ia inginkan. Tidak perduli apakah orang-orang yang kontra Ahok, partai-partai politik termasuk DPR kompak untuk melawan pejabat yang melakukan keadilan dan kebenaran- Tuhan akan menunjukkan kekuatannya kepada manusia  bahwa ia bertahta. Ini Ia tunjukkan melalui orang-orang yang mau menjalankan keadilan dan kebenaran. Sebab hanya melalui sosok-sosok seperti Ahok, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Tuhan memperagakan kekuatannya.

Mau menjegal Ahok dengan niat jahat? Sama saja Anda mau menjegal Tuhan. Risikonya sangat besar, Bung. Nyawa!


Dari Pilkada DKI ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.


Pembukaan UUD 1945

Revolusi Mental: Bagaimana Mewujudkannya?