Suka-Duka Menulis Di Internet

Suka Duka Menulis

Kalau ada yang patut disyukuri di dunia internet, salah satu,  adalah para penulis di internet. Semua informasi yang kita baca dan ketahui dari internet ditulis oleh orang-orang yang mau mengambil waktu untuk berpikir dan menyusun kata-kata menjadi kalimat dan berusaha agar tulisannya tampil di halaman pertama Google. Itu bukan pekerjaan mudah. Para penulis artikel harus memahami apa yang dimaui oleh search engine dan pengunjung internet seperti Anda dan saya.

Namun, seperti apa suka duka menulis di internet? Sebagai salah seorang yang aktif menulis di internet, saya akan paparkan sebagian. Pertama, penulis membutuhkan pengetahuan yang relatif banyak. Seorang penulis harus memahami topik yang ia tulis. Terlepas dari mana informasi didapat, paling tidak, ia tahu bahwa apa yang ia sampaikan bisa diterima sebagian besar pengunjung internet.

Isi artikel memang beragam. Ada yang hanya sekedar informasi singkat dan tidak mendalam seperti yang disajikan oleh Wikipedia. Ada juga yang spesifik seperti prosedur bagaimana mendapatkan perizinan atau izin usaha. Ada juga yang berisi opini.

Masih ada juga yang menulis artikel yang sangat panjang. Penulis harus mengetahui banyak informasi tentang topik tersebut sebelum ia menulis artikelnya di internet.

Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, kemudian menyajikannya dalam bentuk tulisan bukan perkara mudah. Ini butuh waktu dan energi. Mengumpulkan informasi saja sudah butuh waktu yang tidak sedikit. Minimum ia butuh 3 sampai 4 jam hanya untuk mengumpulkan saja. Ia masih butuh waktu lagi untuk menganalisa informasi yang ia kumpul.

Kemudian, butuh waktu lagi untuk menulis. Ia harus memilih dari sudut mana ia menulis agar tulisannya menarik bagi pengunjung dan search engine seperti Google. Masih ada waktu lagi untuk memeriksa tata bahasa dan 'spelling.' Kalau waktu dan energi tidak cukup- mustahillah ia dapat menyampaikan satu tulisan bagi pengunjung internet.

Suka duka menulis: penulis harus berpikir bagaimana agar tulisannya dibaca orang lain.

Kedua, penulis harus berpikir bagaimana agar tulisannya dibaca orang lain. Hukum Lem mengatakan, tidak seorangpun membaca. Kalaupun ia membaca, ia tidak memahami; kalaupun ia memahami, ia akan melupakan.  Ini resiko menulis artikel di internet.

Ia harus siap bahwa tulisannya tidak akan dibaca. Kalau tulisan langsung hadir di depan pengunjung kemungkinan besar masih dibaca. Para penulis di internet harus bertarung agar tulisannya tampil di halaman pertama Google. Ini pertarungan yang sengit.

Misalnya Anda mencari pengertian etos kerja dan Anda memasukkan kata kunci etos kerja. Google akan menyajikan 700.000 halaman yang berisi kata 'etos kerja'. Dari jumlah itu, hanya 10 halaman yang dianggap memenuhi kualifikasi untuk tampil di halaman pertama. Sisanya berebut di halaman kedua dan seterusnya.

Jadi, penulis harus memikirkan resiko bahwa tulisannya mungkin tidak tampil di halaman pertama sekalipun isinya benar dan berbobot. Google atau search engine tidak hanya memilih tulisan yang benar dan berbobot saja, tetapi juga harus memilih artikel yang ditulis dalam 'bahasa search engine.' Ini suka duka menulis dan tantangan yang sangat sulit.

Ketiga, penulis harus terus meng-update tulisannya di internet. Kadang-kadang penulis menulis dan mereview tulisan secukupnya. Dari sisi search engine, tulisannya bisa saja ok, tetapi tulisan juga harus memenuhi ekspektasi pembaca seperti Anda dan saya.

Kalau penulis tidak punya energi dan komitmen untuk meng-update tulisannya, halaman lain akan menyalib. Halaman yang kalah bersaing akan turun peringkat. Syukur-syukur masih tampil di halaman kedua.

Kalau muncul di halaman 15, tak ada yang membaca halaman itu lagi. Jadi, penulis harus menyisihkan waktu untuk mengupdate, memperbaharui atau menulis ulang artikel di internet agar tulisannya tetap tampil di halaman pertama google.

Suka duka menulis di internet: penulis butuh waktu berjam-jam untuk tulisan yang belum tentu dibaca orang lain.

Ketika penulis mau mengupdate, ia mungkin hanya butuh sedikit waktu. Kalau ia mau memperbaiki gaya penulisan, ia mungkin butuh waktu lebih banyak. 

Kalau tulisan itu harus dirombak total, ia butuh waktu lebih banyak lagi. Dan waktu yang dibutuhkan bukan setengah jam; bisa sampai dua tiga jam. Menulis di internet tidak seperti menulis biasa. Dua 'sosok' harus dilayani: pertama, manusia; kedua, search engine.

Masih ada lagi. Penulis internet harus bayar sewa hosting. Seperti situs ini, saya menyewa dari Canada dan harus bayar sewa setiap tahun. Saya memilih hosting yang 'busness class.'

Saya tidak mau menulis artikel di hosting gratisan. Saya tidak mau memposting tulisan bagus di hosting yang kurang dipelihara oleh pemilik hostingnya. Kalau Anda tahu sewa kantor di Kuningan realtif mahal; sewa hosting situs ini  relatif mahal juga. 
 
Dari mana penulis dapat uang? Well. Dari mana lagi kalau bukan dari tulisannya. Lewat tulisan yang saya posting di situs ini, ada saja yang minta saya untuk melakukan pekerjaan sesuai kompetensi saya.

Dari situlah  saya bisa membayar sewa hosting, dan membeli kebutuhan saya sehari-hari. Ada juga yang pasang iklan di situs saya. Ada juga yang beli produk yang saya jual.  

Anda bisa bantu penulis internet dengan membeli produk yang ia jual. Dengan demikian, ia punya uang untuk terus menulis. Berbagilah dengan penulis internet dengan membeli produk yang ia jual.

Itulah sedikit suka duka menulis di internet. Mau menulis di internet?(JM)


SEMINAR: WRITING ARTICLES ON THE INTERNET
08.00-17.00; Jakarta, Surabaya & Yogyakarta
Kontak: 0813-1141-8800 (WA); 0813-1122-1148
E-mail: info@business-excellence-luminance.co.id



Copyright 2009-2017 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.


Bagaimana Menulis Artikel di Internet?

Tips Masa Persiapan Pensiun

Seminar Wirausaha