Berakhirnya Tradisi Ribuan Tahun

Bila tradisi ribuan tahun bisa berhenti, apalagi tradisi yang umurnya lebih pendek. Tidak ada hukum bahwa tradisi harus selalu eksis, apalagi kalau tradisi adalah buatan atau hasil pemikiran manusia. Kisah berikut menceritakan bagaimana tradisi yang sudah ribuan tahun harus berakhir dengan tragis.

Kira-kira pada tahun 1500 SM, Tuhan memberikan sepuluh hukum kepada bangsa Isarel di gunung Sinai. Empat hukum mengatur relasi antara manusia dan Tuhan. Enam hukum lainnya mengatur relasi antara manusia dan manusia.

Esensi kesepuluh hukum terletak pada dua prinsip, yang terutama dan pertama, 'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan kekuatanmu.

Kedua, 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.'

Sepuluh hukum menyentuh semua segi kehidupan bangsa Israel dan menjadi induk dari tradisi ribuan tahun bagi bangsa Yahudi. Pada relasi antara TUHAN dan manusia, ada aturan tentang korban bakaran, baik bagi mereka yang mampu dan juga yang kurang mampu.

Ada aturan tentang korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, korban penebus salah. Untuk korban penghapus dosa misalnya, bangsa Israel harus menyediakan lembu jantan, atau kambing, atau domba atau burung tekukur atau burung merpati, tergantung tingkat kesalahan dan kemampuannya.

Masih ada aturan untuk pentahbisan Imam. Ada larangan untuk meminum minuman keras (miras) bagi para imam. Para imam tidak boleh meminum anggur atau minuman keras kalau mau masuk ke dalam Kemah Pertemuan.

Bila mereka melakukannya, mereka akan mati. Lebih dari itu, ada aturan tentang Hari Raya Pendamaian, Paskah, Hari Raya Roti Tidak Beragi, Hari Raya Pondok Daun. Ada tahun Sabat. Setelah enam tahun tanah diusahakan, maka pada tahun ketujuh, tanah itu harus istirahat atau tidak diusahakan.

Ada tahun Yobel, tahun ke-50, di mana ada kebebasan bagi seluruh bangsa Isreal; mereka harus kembali ke tanah miliknya masing-masing; mereka tidak dapat mengusahakan tanah dan tidak boleh merantingi pohon anggurnya. Mereka hanya dapat mengambil hasilnya saja.

Ada lagi tradisi perpuluhan. Sepersepuluh dari hasil tanah atau penghasilan mereka diberikan kepada imam. Ada aturan bagi ibu yang baru melahirkan, bagi penderita penyakit kusta, perempuan yang sedang haid.

Itulah sebagian aturan-aturan bagi bangsa Israel, yang 'diturunkan' dari surga dan dicatat oleh Musa.Aturan-aturan di atas menjadi tradisi ribuan tahun dan eksis selama seribu lima ratus (1500) tahun dalam kehidupan bangsa Israel.

Sekalipun dibuang ke Babilonia selama 70 tahun, bangsa Israel memelihara tradisinya dengan melakukan modifikasi. Bangsa Israel misalnya berdoa dengan menghadap Yerusalem seperti yang dilakukan Daniel ketika menjadi orang kepercayaan Raja Darius.

Setelah era pembuangan, bangsa Israel semakin ketat melakukan Hukum Taurat, khususnya Hari Sabat (Sabtu). Orang Yahudi tidak boleh bekerja pada hari Sabtu. Peraturan ini diinterpretasikan begitu jauh bahkan membawa tikar pun dilarang pada hari Sabat.

Namun, tradisi ribuan tahun dari bangsa
Yahudi mulai terancam setelah
Yesus datang. Ia
melakukan
pembaharuan terhadap
makna awal dari Hukum Taurat.
Yesus bahkan melanggar seolah-olah
kelihatan melanggar tradisi Yahudi.

Beberapa kali Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (Sabtu); sesuatu yang sangat dilarang dalam agama Yahudi. Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, murid-muridNya mengambil bulir-bulir gandum pada hari Sabat, dan makan tanpa membasuh tangan lebih dulu.

Oleh karena kehadiran Yesus menjadi ancaman bagi tradisi Yahudi, para tokoh agama berencana membunuh Yesus. Bekerja sama dengan Pilatus, pemimpin politik pada saat itu, mereka menyalibkan Yesus. Yesus mati dan dikuburkan, tetapi Ia bangkit dan hidup kembali.

Para tokoh agama Yahudi mengira bahwa pengaruh Yesus akan berakhir dengan kematiannya di kayu salib. Yang terjadi justru sebaliknya. Kematian dan kebangkitan Yesus menjadi lembaran baru bagi kehidupan sebagain bangsa Yahudi.

Lembaran lama ditutup. Ada Perjanjian Baru; Perjanjian Lama telah berlalu. Orang Yahudi tidak perlu lagi memberikan korban bakaran untuk menghapus dosa. Tidak ada keharusan untuk melakukan hukum Taurat dan tradisi-tradisi yang dibuat oleh Musa apalagi tradisi yang dibuat para tokoh agama Yahudi.

Orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus tidak lagi tunduk pada tradisi yang digariskan Musa, yang 'diturunkan' dari surga. Anugerah dari Yesus menggugurkan tuntutan Hukum Taurat, yang telah digenapi dalam diri Yesus pada saat kematian dan kebangkitannya. Tradisi ribuan tahun pun tidak lagi berlaku.

Dari kisah berakhirnya tradisi-berumur-1500-tahun, ada satu pelajaran. Tidak selamanya tradisi harus dipelihara. Tradisi bisa berhenti karena prinsipnya sudah tidak up-to-date. Tradisi, khususnya yang dibuat manusia, bukan keharusan bagi manusia.

Ini bisa terjadi pada tradisi-tradisi lokal, yang umumnya adalah hasil pemikiran dari manusia. Jadi, tidak perlu ngotot mempertahankan tradisi ketika ada prinsip yang lebih tinggi atau leboh kokoh dari prinsip yang mendasari tradisi lokal.

Renungan:

  • Bila tradisi yang berumur 1500 tahun pun bisa berakhir, bagaimana Anda menyikapi tradisi yang umurnya lebih pendek?
  • Apa yang membuat tradisi bisa bertahan lama?
  • Tradisi-tradisi apakah yang harus dipelihara untuk mencapai visi Indonesia Raya, yaitu negara yang adil dan makmur?

Link Terkait

Mengenal Unsur Budaya

Benturan Budaya Daerah (Lokal) dan Budaya Luar Tidak Dapat Dihindari

Bagaimana Masa Depan Budaya Lokal dalam Dinamika Perubahan
Zaman?

Bagaimana Menilai Budaya Daerah (Lokal)?

Memutus Tradisi Berumur 800-Tahun

Berakhirnya Tradisi Ribuan Tahun

Training: Reshaping your Corporate Culture

Pagelaran Musik Klasik di Aula Simfonia Jakarta

Etika Menonton di Aula Simfonia Jakarta



Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.