Home
Artikel Terkini
Public Training (1)
Public Training (2)
In-House Training
In-House-Training (2)
Business Excellence
Tujuan Hidup
Pengenalan Diri
Etika
Etos Kerja
Kecakapan Dasar
Pekerjaan
Ketenagakerjaan
Uang dan Harta
Pendidikan
Budaya
Tentang Kami
Hubungi Kami
Privacy Policy
Site Search
Berlangganan

Subscribe To This Site
XML RSS
Add to Google
Add to My Yahoo!
Add to My MSN
Subscribe with Bloglines

Mengenal Unsur Budaya

Tiga Unsur Budaya

Budaya merupakan topik yang besar dan sangat penting. Begitu pentingnya, budaya bisa mencitrakan kondisi masyarakat. Budaya yang tinggi mencitrakan masyarakat yang maju; budaya yang rendah mencitrakan masyarakat yang masih terbelakang. Namun, sebelum lebih jauh kita membahas budaya, saya mengajak putra-putri Indonesia untuk mengenal defenisi budaya secara umum.

Defenisi Budaya

Menurut Kuntjaraningrat, budaya adalah "Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar." Antropolog Sir Edward B. Taylor dari Inggris mendefenisikan budaya sebagai 'the complex whole of ideas and things produced by men in their historical experience' (keseluruhan ide dan barang yang dihasilkan oleh manusia dalam pengalaman sejarahnya - terjemahan bebas). Antropolog Ruth Benedict menyebut bahwa budaya adalah ''as pattern of thinking and doing that runs through activities of people and distinguished them from all other peoples' (pola pikir dan tindakan orang yang tercermin melalui aktifitasnya dan yang membedakannya dari orang lain - terjemahan bebas).

Unsur Budaya yang Pertama: Ide atau Gagasan

Kalau mau dipilah, budaya terdiri dari 3 unsur penting: ide-ide/gagasan, aktifitas, dan hasil karya. Ide/gagasan, yaitu pikiran-pikiran yang muncul dari individu atau masyarakat atau bangsa. Dalam masyarakat Batak misalnya, ide/gagasan dapat dilihat dari pantun ('umpasa/umpama') yang sering dikutip dalam acara-acara adat. Misalnya pantun orang Batak yang berbunyi, 'tubuan lak-lak tubuan singkoru, tubuan anak ma hamu dahot boru.' (Artinya, kiranya kamu melahirkan anak laki-laki dan anak perempuan). Contoh lain adalah konsep Dalihan Natolu - 'somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu'- konsep yang mengatur kehidupan sosial orang Batak.

Unsur Budaya ke-2: Tindakan

Unsur yang kedua adalah tindakan atau aktifitas, yaitu bagaimana seseorang, satu masyarakat atau bangsa berpikir, bekerja, berbicara, dan melakukan aktifitas-aktifitas lain. Dari karya Max Weber, The Protestan Ethics & Spirit of Capitalism, kita mendapatkan gambaran tentang konsep kerja masyarakat Barat, khususnya masyarakat Eropah Barat pada abad ke-17 sampai dengan abad ke 19. Sampai sekarang, konsep kerja yang dituturkan oleh Weber masih ditemukan di Barat. Orang Barat bekerja dengan rajin dan punya tanggung-jawab terhadap pekerjaannya. Ada 'Professional Responsibility'. Mereka menekuni pekerjaannya> Mereka bekerja secara rasional dan sistematis. Bukan hanya dalam pekerjaan, bahkan rasionalitas dan sistematis ini dapat ditemukan dalam seni berkomunikasi. Orang-orang Barat berusaha bicara seefektif mungkin; langsung 'to the point'; tidak banyak basa-basi; susunan kata-katanya teratur dan penggunaan kata tidak berlebihan.

Unsur Budaya ke-3: Produk

Unsur yang ketiga adalah hasil karya, yaitu produk yang dihasilkan dari satu individu, masyarakat atau bangsa. Produk-produk Barat misalnya bermutu tinggi. Harga jam merek Rolex (Pre-Owned Rolex Women's Presidential Watch) bisa berkisar puluhan juta rupiah. Harga mobil Mercedes-Benz atau BMW bisa ratusan juta rupiah. Barat mampu membuat pesawat ulang alik. Bill Gates menemukan Microsoft. Barat menemukan Internet, yang mampu mengakses informasi dengan mudah dan menghubungkan manusia dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi yang lain. Masih ada Facebook yang dapat menghubungkan siapa saja di dunia ini dalam konteks sosial.

Itulah sekilas perkenalan tentang budaya. Semoga perkenalan terhadap ketiga unsur budaya ini dapat menolong putra-putri Indonesia untuk lebih memahami budaya.

Artikel Terkait:

Benturan Budaya Lokal dengan Budaya Luar
Benturan budaya tak terelakkan. Diperlukan jiwa yang besar bila suatu saat nilai-nilai budaya lokal tersisih oleh karena hadirnya nilai-nilai dari budaya luar.

Budaya Lokal dalam Dinamika Perubahan Zaman
Bagaimana masa depan budaya lokal di tengah-tengah perubahan zaman? Apakah budaya lokal seperti budaya Jawa, budaya Batak, budaya Sunda, dan budaya lokal lainnya akan bertahan?

Bagaimana Menilai Budaya
Ada tiga opsi untuk menilai budaya. Pertama adalah dengan menggunakan dasar negara kita, yaitu Pancasila. Kedua...........

Memutus Tradisi Berumur-800-Tahun
Bila tradisi berumur-800-tahun bisa dihentikan, ada apa dibalik pemutusan tradisi itu?

Berakhirnya Tradisi-Ribuan-Tahun
Bila tradisi ribuan tahun bisa putus, apa yang membuat tradisi bertahan begitu lama? Apa yang membuat tradisi itu berakhir?

Dari Mengenal Unsur Budaya ke Halaman Depan (Home)



Keep Learning Keep Growing

Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com

Enter your E-mail Address
Enter your First Name
Then

Don't worry -- your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Upcoming Seminar!

Labor Law
(UU Tenaga Kerja, No.13/2003)
6 Mar. 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Fee: Rp1.000.000

Business Process Improvement
and Management

(Bagaimana Membuat Bisnis Process
20-21 Mar. 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Fee: Rp2.500.000
(Early Bird, Rp2.000.000
bila konfirmasi dilakukan
sebelum 6 Maret 2012)

Speaker: Judika Malau


Organized by:

PT. Business Excellence Luminance
Management Consulting and Smart Training

Contact No.:
0813-1141-8800 or 021-2637-1155

Public Training in 2012 (Bag. 1)
for People and Business to Grow

Public Training in 2012 (Bag. 2)

Smart In-House Training (1)

Smart In-House Training (2)



Client:
    PT. Hotmal Jaya Perkasa, Cibitung