A Man Called Ahok, Ridwan Kamil dan Cornelius van Til

A Man Called Ahok

Kemarin saya mendapat sebuah postingan berisi pendapat mengenai film A Man Called Ahok. Tidak tanggung-tanggung, di postingan itu ditulis bahwa review itu dari Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat sekarang.

Saya membaca seluruh isi postingan itu. Sebagian besar isinya benar, khususnya tentang prinsip-prinsip yang menginspirasi.

Misalnya, kutipan berikut, "tapi Papa yakin mereka datang ke bioskop ini bukan karena Ahok orang Cina dan beragama Kristen, tapi karena Ahok adalah tokoh bangsa yang sangat mencintai negerinya, sangat tegas dan berani melawan korupsi dan ketidakadilan."

Kutipan lain, "Ahok menjadi bupati non-Muslim di daerah yang 99 % penduduknya Muslim. Ini memberi pelajaran buat kita bahwa menilai orang jangan dilihat dari sukunya apa, agamanya apa dan perbedaan apapun; menilai orang lihatlah dari kebaikannya, kejujurannya dan rasa belas kasih kepada orang lain."

Kutipan lain lagi, "Tugas maha besar generasi kita adalah mewariskan toleransi bukan kekerasan."

Substansi ketiga kutipan itu tidak salah. Namun, postingan itu dianggap hoax karena pada bagian akhir postingan ada nama Ridwan Kamil; seolah-olah postingan itu ditulis Gubernur Jawa Barat itu.

A Man Called Ahok: Bagaimana Kita Tahu?

Setelah dikonfirmasi, Ridwan Kamil ternyata tidak pernah mengatakan kalimat-kalimat seperti di postingan itu. Saya juga tidak mengeceknya.

Boro-boro ngecek. Membaca postingan di grup saja hanya sedikit waktu. Kalau pun mau ngecek, ke mana? Ke Facebook?

Apa bedanya postingan yang seolah-olah dari Ridwan Kamil dengan postingan di Facebook? Bagaimana kita tahu kalau postingan di Facebook benar atau tidak?

Kalau pun serius mau ngecek, paling baik adalah bertanya langsung ke Ridwan Kamil. Namun, kalau mengambil langkah ini, sudah pasti butuh waktu, energi dan uang.

Paling tidak keluar minimal Rp300 ribu untuk mengecek kebenaran konteksnya- bayar ongkos naik travel pulang pergi, makan dan minum di jalan. Apa mau berkorban sebesar itu?

Memang baik mengecek konteks kebenaran sebuah berita. Namun, bagaimana dengan prinsip? Bagaimana kita tahu bahwa sebuah prinsip benar atau tidak? Bagaimana mengeceknya?

Bagaimana kita tahu kalau sebuah pendapat benar atau tidak? 

Pelajaran Penting dari Philadelphia

Saya pernah belajar membedakan prinsip-mana-yang-hoax dari prinsip-mana-yang-bukan dari sosok bernama Cornelius van Til. Saya 'pergi' jauh ke Philadelphia. Saya tidak pergi ke Jerman, Tiongkok atau India. 

Sampai hari ini, saya masih terus berlatih menggunakan jurus mautnya untuk 'menguliti' prinsip-prinsip yang beraroma hoax.

Seteratur, sebaik dan sehalus apapun kalimat-kalimat dalam postingan atau ucapan seseorang, 'jurus-ular' van Til dapat mendeteksi ada hoax atau tidak.

Apa kata kuncinya? Hanya dengan satu istilah: presupposisi, istilah yang menggoncangkan sistem pemikiran modern, Post-Modern dan sistem pemikiran apapun.

Immanuel Kant keok dibuatnya. Karl Barth 'bulan-bulanan' dihadapannya. Para pemimpin Tiongkok juga gusar karena murid-murid van Til bergerak di 'bawah tanah' di Tiongkok.

Bagaimana mengetahui kalau prinsip ini benar dan prinsip itu salah? Salah satu solusi: 'datang ke Philadelphia,' dan bertemu dengan murid van Til. Di sana masih ada murid-muridnya.

Saya dengar murid-muridnya menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Berapa harga tiket ke Philadelphia? Saya cek di Tiket.com. Harga tiket pesawat American Airline kira-kira Rp15 Juta 'one-way.'

Huups... tidak usah ke Philadelphia; kejauhan. Ternyata murid van Til sudah ada di Medan; cukup bayar Rp900.000 naik Citilink.

Murid van Til banyak juga di Jakarta. Jangan-jangan A Man Called Ahok juga murid van Til.

Ahok belajar dari S. Tong. Tong pernah bertemu dengan van Til di Philadelphia. Peristiwa yang sangat bersejarah; satu sosok hebat dari Timur, yang satu lagi sosok hebat dari Barat.

Pertemuan kedua sosok itu mirip pertemuan-imaginer antara Confucius dan Socrates. Namun, Confucius berbeda 'metode' dengan Socrates; sedangkan Tong dan van Til memiliki 'metode' yang sama. (JM) 


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Mengapa Mata Kuliah Filsafat Penting?