Aturan Perkawinan Zaman Kuno



Salah satu topik menarik dalam tradisi orang Batak adalah aturan perkawinan. Secara umum, perkawinan semarga dilarang.

Jangankan perkawinan satu marga, perkawinan dalam kelompok marga pun tidak diizinkan. Sebut saja misalnya kelompok marga Parna (Naiambaton). Paling tidak, ada 55 marga dalam kelompok ini dan sampai saat ini, perkawinan sesama marga Parna masih dilarang.

Bila ada yang melanggar aturan ini, keluarga itu akan mendapatkan sanksi sosial. Mereka akan dikucilkan dari kelompok Parna dan menjadi bahan cibiran.

Dalam kelompok marga Naimarata- keturunan Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja- aturan ini tidak dipegang ketat.

Sekalipun sangat jarang marga keturunan dari Saribu Raja, khususnya kelompok Borbor Marsada, kawin dengan keturunan Limbong Mulana, Sagala Raja atau Lau Raja, tetapi antara keturunan Limbong Mulana dan keturunan Sagala Raja sudah bisa saling mengawini.

Ada kesepakatan antara marga Limbong dan marga Sagala ketika keturunannya masih diam di sekitar Pusuk Buhit; keturunan mereka dapat saling mengawini; laki-laki marga Limbong boleh kawin dengan perempuan marga Sagala dan sebaliknya. Dan sampai sekarang, kedua marga ini bisa saling mengawini.   

Aturan Perkawinan: Daftar Orang yang dapat Dinikahi

Saya tidak membahas aturan perkawinan orang Batak lebih rinci saat ini, tetapi mengulas aturan perkawinan bangsa Israel, yang telah eksis ribuan tahun. Bila kita mengacu kepada aturan perkawinan yang ditulis Musa, ada daftar orang-orang yang tidak dapat dikawini oleh seseorang, yaitu kerabat dekat.

Berikut adalah daftar yang tidak dapat dikawini: isteri ayah (ibu) termasuk ibu tiri, saudara perempuan kandung maupun saudara-perempuan tiri, anak perempuan dari anak laki-laki (pahompu boru dari anak) atau anak perempuan (pahompu-boru dari boru), saudara perempuan ayah (namboru kandung), saudara perempuan ibu (kakak/adik ibu atau tante), isteri saudara laki-laki ayah (inang uda/tua), menantu perempuan (parumaen), isteri saudara laki-laki (anggi/angkang boru), anak perempuan saudara laki-laki (boru), adik perempuan isteri kalau isteri masih hidup dan isteri orang lain. Yang terakhir ini disebut najis.

Musa juga melarang perkawinan sesama jenis kelamin; itu dianggap kekejian. Catatan lain adalah bahwa bila suami dari seorang isteri meninggal, saudara laki-laki suaminya (yang belum kawin) wajib kawin dengan isteri orang meninggal itu agar keturunannya tidak punah.

Aturan perkawinan yang ditulis Musa dirancang sedemikian rupa sebagai peringatan bagi bangsa Israel agar tidak mengikuti kebiasaan bangsa Mesir atau bangsa Kanaan. Kedua bangsa ini melakukan perkawinan tanpa aturan pada zaman itu.

Bila dipelajari aturan dari gunung Sinai ini, nenek moyang bangsa Israel, khususnya Abraham, menyalahi aturan ini. Yakub 'dijebak' untuk menyalahi aturan ini sedangkan Yehuda sudah jelas melanggarnya.

Abraham, mengambil saudara perempuan tirinya. Sara adalah putri ayahnya, tapi lain ibu (ibu tiri). Yakub mengambil adik isterinya, Rahel.

Yakub seharusnya menikah dengan Rahel, tetapi karena Laban menipunya, Yakub menikah dengan Lea. Satu minggu kemudian, Laban mengizinkan Yakub kawin dengan Rahel, gadis yang Yakub cintai.

Yang menarik adalah Yehuda. Tanpa sadar, ia bersetubuh dengan menantunya, Tamar. Ketika Yehuda sedang berjalan menuju Timna mau menggunting bulu domba-dombanya, ia bertemu dengan menantunya, tetapi ia tidak mengenal wajah menantunya karena Tamar dengan sengaja menutupi wajahnya.

Yehuda menganggap Tamar seorang wanita tuna susila dan mengajaknya 'tidur.' Hasil dari persetubuhan ini, menantunya hamil dan melahirkan Perez, yang muncul dalam silsilah Yesus di kemudian hari.

Bila dibaca kisah selanjutnya, Yehuda mengambil Tamar sebagai isteri, tetapi tidak lagi bersetubuh dengan menantunya setelah Tamar melahirkan Perez. Yehuda menyadari kesalahannya. 

Sekalipun perkawinan di lingkaran suku-suku Israel sangat ditekankan, ada juga perkawinan antara keturunan bangsa Israel dengan non-Israel seperti Yehuda dengan Tamar, orang non-Israel, Yusuf dengan Asnat, orang Mesir, putri imam di Mesir, Potifera, dan melahirkan Manaseh dan Efraim dan Boas dengan Ruth, orang Moab, yang melahirkan Isai, ayah Raja Daud.

Dari perkawinan yang disebut di atas, keyakinan menjadi perekat utama seperti yang ditemukan dalam Rahab dan Ruth. Hanya keyakinan isteri Yusuf yang diragukan saat ia kawin dengan Yusuf.

Mungkin isteri Yusuf, Asnat, masih beragama Mesir kuno pada saat perkawinannya. Tidak diketahui apakah Asnat percaya kepada Tuhan setelah ia kawin dengan Yusuf.    

Tentulah aturan perkawinan bangsa Israel kuno tidak langsung dapat diterapkan dalam lingkungan masyarakat Batak. Aturan Musa dalam perkawinan hanya berlaku bagi bangsa Yahudi.

Namun demikian, prinsip-prinsip dalam aturan tersebut bisa menjadi pencerahan atau perbandingan bagi perkembangan budaya Batak ke depan, khususnya dalam aturan pernikahan antara marga-marga Batak. (JM)



Asal Usul Somba Marhula-Hula

Menelusuri Sistem Pemikiran Nommensen


Copyright 2009-2019 putra-putri-indonesia.com






Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.