Makna Kata

Makna Kata

Beberapa kali para anggota Tim Persiapan Pembentukan Batak Center berdiskusi tentang nama lembaga Batak Center. Diskusinya menarik. Sebelum pilihan nama diputuskan, ada yang mengusulkan frase 'pusok habatahon'. Namun, istilah ini tidak dipilih. Kata pusok dianggap kurang tepat untuk Batak Center. Selain itu, kata pusok, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berarti 'pusar.' 

Diskusi yang juga menarik adalah mengenai istilah pusat habatakon dan pusat habatahon. Sebagian besar memilih pusat habatakon dengan alasan ilmiah misalnya dengan mengutip pandangan sosok yang berkecimpung dalam sastra. Nama 'Pusat Habatakon' dianggap lebih tepat dari pada Pusat
Habatahon.

Saya pribadi mengusulkan 'Pusat Habatahon.' Ini dipengaruhi pelajaran bahasa dan tulisan Batak yang saya ambil di SMP HKBP Lubuk Pakam selama dua semester.

Dalam buku-buku yang saya baca, istilah habatahon juga sering digunakan dari pada habatakon. Kalau dilafalkan, habatahon lebih sering digunakan daripada habatakon. Huruf Batak untuk menggambarkan kata ka memang tidak ada. Baik huruf ha atau ka digambarkan dengan simbol yang sama. Orang yang cukup senior dalam Tim Persiapan juga mengusulkan istilah Pusat Habatahon.

Saya tidak mempertahankan istilah pusat habatahon karena itu tidak prinsipil. Tujuan lembaga Batak Center jauh lebih penting dari pada pilihan nama sekalipun nama sedapat mungkin diselaraskan dengan tujuan. Namun, ada poin menarik dari diskusi pemilihan nama tersebut. Ada usaha-usaha yang bernuansa ilmiah dalam memilih kata atau istilah untuk nama lembaga.

Makna Kata

Sikap bernuansa ilmiah sangat penting dalam merumuskan tujuan-tujuan organisasi atau lembaga apapun dalam masyarakat. Istilah-istilah yang digunakan dalam anggaran dasar misalnya dapat menjadi kunci dalam menjabarkan rencana, program atau kegiatan. Kata, frase, atau kalimat yang digunakan bisa menjadi landasan untuk menentukan aktifitas organisasi.

Misalnya, frase 'melestarikan budaya Batak'. Apa maksudnya? Bila sikap ilmiah diterapkan, frase ini bisa mengundang pertanyaan- 'Siapa yang disebut orang Batak, Apa ciri-ciri orang Batak?' Bapak Ronsen Mangara Tua Pasaribu, Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) mengatakan bahwa sekelompok masyarakat di Mandailing tidak mau menyatakan dirinya sebagai orang Batak.

Setelah diselidiki silsilahnya, mereka memang bukan keturunan orang Batak. Nenek moyang mereka pernah merantau dari Sumatera Barat ke Mandailing dan menyatakan dirinya Batak agar dapat tinggal di Mandailing.

Apa arti budaya? Saya meminjam istilah yang diberikan oleh Henry R. Van Til, penulis buku The Calvinistic Concept of Culture. Ia membuat definisi budaya sebagai "setiap pengembangan atas diri manusia yang menghasilkan peningkatan, pencerahan, dan disiplin yang diperoleh melalui pelatihan mental dan moral, peradaban dan peningkatan dalam hal tata krama dan selera yang tinggi."

Makna Kata

Apa maksud frase 'melestarikan budaya Batak?' Meminjam arti dari Kamus Besar Bahsa Indonesia (KBBI), kata melestarikan adalah menjadikan (membiarkan) tetap tidak berubah; membiarkan tetap seperti keadaan semula; mempertahankan kelangsungan (hidup dan sebagainya).

Apakah praksis-praksis budaya sebelum era Nomensen mau digali dan dihidupkan kembali? Praksis budaya mana yang dianggap baik dan patut dipelihara?

Apakah praksis-praksis budaya masih relevan di masa kini? Itu secara singkat isu-isu yang bisa muncul ketika memahami arti frase 'melestarikan budaya Batak.' 

Perbedaan Makna Teks dalam Lingkaran Agama

Dalam lingkaran agama pun perbedaan makna terhadap teks bisa muncul. Kalangan Katolik berbeda dengan Protestan mengenai Kitab Suci. Kaum Protestan hanya menerima 66 buku dalam Kitab Suci- 39 buku Perjanjian Lama dan 27 buku Perjanjian Baru; Kaum Katolik, selain menerima 66 buku, juga menerima  buku tambahan, yaitu buku Deuterokanonika, yang diselipkan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Bukan hanya itu saja, orang Kristen Protestan misalnya, berdoa kepada Allah lewat Yesus. Orang Katolik masih berdoa kepada Bunda Maria karena Bunda Maria dianggap sosok 'lain'.

Yesus 100 persen manusia dan 100 persen Allah, tetapi bagi Kaum Protestan Maria bukan setara dengan Allah. Ia sama dengan manusia lain, tetapi Maria dipilih Tuhan sebagai bagian dari sejarah keselamatan.Yesus lahir lewat tubuh Maria.

Makna Kata

Lagi-lagi soal memaknai teks, dalam kalangan Protestan sendiri ada perbedaan. Ada yang menyebut baptisan harus diselam. Ada yang menyebut baptisan dipercik.

Ada yang mengatakan bahwa keselamatan merupakan usaha manusia; sedangkan Kaum Calvinis mengatakan bahwa keselamatan manusia ditentukan oleh Tuhan; tidak ada peran sekecil apapun dalam hal itu. 

Memahami makna kata harus melihat arti kata dan konteks budaya. Gara-gara salah memahami kisah Yesus bertamu ke rumah Marta dan Maria, hampir 600 tahun, sejak pertengahan abad ke-5 sampai dengan akhir abad ke 11, Eropa berada dalam kegelapan dan dibutuhkan waktu 1000 tahun untuk meluruskan kembali makna teks yang sesungguhnya.

Barangkali masyarakat di Kawasan Danau Toba salah memahami teks sehingga budaya masyarakat di sana tidak berkembang  ke arah yang lebih baik. Perlu ditelusuri. (Cibubur, 22 Agustus 2018)

LINK TERKAIT:

Tujuan Hidup Orang Batak


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.