Etika Konfusianisme: Perkenalan
Seperti apakah etika Konfusianisme itu? Mungkin Anda pernah mendengarnya. Bila belum, secara singkat akan saya perkenalkan etika yang pernah membuat peradaban Cina maju pada ratusan tahun lalu. Konfusianisme, yang meminjam nama Konfucius, adalah sebuah filsafat atau arus pemikiran. Bila ditelusuri lebih dalam, Konfusianisme banyak menawarkan prinsip tentang etika, yang sebagian besar masih relevan di masa kini. Etika yang dibidani Konfusius ini disajikan dalam 4 karya penting. Pertama adalah Pelajaran Agung (The Great Learning) atau disebut Da Xue dalam bahasa aslinya; kedua, Kumpulan Karya Terbaik (The Analects) atau Lun Yu; ketiga, Jalan Tengah (The Doctrine of The Mean) atau Zong Yong; terakhir adalah Pepatah Mencius (The Saying of Mencius). Keempat karya ini menyajikan pemikiran Konfusianisme, yang banyak diambil dari bijaksana orang-orang bijak pada pada zaman dulu. Sosok seperti Shun dan Yao sering dikutip oleh Konfusius. Bagi dia, Shun adalah manusia paling bijak dalam sejarah. Di Barat, Socrates dianggap sebagai orang paling bijak. Intisari etika Konfusianisme adalah ketulusan dan keharmonisan, yang dijabarkan dalam relasi manusia: antara individu dengan orang tua, antara individu dengan saudara-saudaranya, antara individu dengan orang lain, dan antara individu dengan atasan. Dalam Kitab Lun Yu, Confucius berkata, "Seorang pemuda harus berbakti pada orang tua ketika berada di rumah, menghormati saudaranya yang lebih tua ketika berada di luar rumah; menjaga tingkah laku jujur dalam perkataan; mencintai semua orang dan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang baik." Namun demikian, etika Konfusianisme menekankan pentingnya individu. Bagi Konfusius, pengembangan individu merupakan fondasi dari pembangunan keluarga, masyarakat dan negara. Dalam Pelajaran Agung ditulis, "Dari Putra Dewa sampai rakyat pengembangan dan displin diri harus merupakan dasar dari segalanya. Jika individu tidak disiplin dan kacau, bagaimana hasil yang baik dapat dicapai suatu negara?" Konfucius memberikan diktum bahwa keberhasilan sebuah negara didasarkan pada pengembangan individu; maju tidaknya sebuah negara tergantung pada kualitas pribadi. Apakah etika Konfusianisme bisa menjawab semua persoalan? Saya katakan tidak. Pertama, Konfusianisme tidak banyak membahas dunia supra-natural. Sangat sedikit pemikiran-pemikiran tentang hidup setelah kematian. Tidak banyak ditemukan prinsip atau relasi antara etika dengan dunia akhirat. Seluruh pemikiran Konfusianisme hanya ditujukan terhadap relasi antar sesama. Kedua, etika Konfusianisme sulit dijabarkan dalam dunia politik, khususnya dalam proses pergantian pejabat. Konfusianisme tidak mengenal sistem demokrasi, yang telah diadopsi hampir seluruh negara untuk mengganti pucuk pemerintahan. Konfusianisme tidak mengenal konsep ini. Namun demikian, dalam banyak hal etika yang digulirkan Konfusius ini melampaui etika-etika budaya lokal. Etika ini mempunyai prinsip dalam berbagai aspek kehidupan. Ia mempunyai stuktur pemikiran yang relatif teratur untuk kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Bila karya-karya ini disandengkan dengan Kitab Amsal, Konfusianisme, sampai pada tingkat tertentu, bisa disebut sebagai jabaran dari Kitab Amsal. Kitab Amsal menyajikan prinsip-prinsip yang relevan untuk kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan etika Konfusianisme. Silahkan membeli buku-buku Pelajaran Agung (The Great Learning), Kumpulan Karya Terbaik (The Analects), Jalan Tengah (The Doctrine of The Mean) dan Pepatah Mencius (The Saying of Mencius). Banyak prinsip-prinsip yang sangat berharga yang bisa Anda dapat dan Anda akan terinspirasi akan kata-kata bijak dari buku-buku tersebut.
Artikel Terkait:
Etika Pancasila untuk Putra-Putri Indonesia Etika merupakan satu kesatuan. Bila satu prinsip tidak dilakukan dan prinsip lain diabaikan- itu berarti mengabaikan keseluruhan.Dominasi Pragmatisme dalam Dunia Kerja Pragmatisme adalah falsafah yang dominan dalam dunia kerja. Falsafah ini tidak melihat kebenaran sebagai yang mutlak. Kalaupun ada kebenaran, yang menjadi ukuran adalah keuntungan. Etika Menonton di Aula Simfonia Jakarta Berikut adalah etika menonton di Aula Simfonia Jakarta. Pertama, usahakanlah berpakaian serapih mungkin. Pagelaran Musik Klasik di Aula Simfonia Jakarta Di sini disajikan jadwal pertunjukan musik klasik di Aula Simfonia Jakarta. Etika Meminjam Uang kepada Orang Lain Tips agar integritas dan reputasi Anda tidak rusak hanya karena melupakan prinsip-prinsip penting dalam hal meminjam uang. Dari Etika Konfusianisme ke Halaman Depan (Home)
Berlangganan Putra-Putri-Indonesia.com
Sebelum Anda meninggalkan Putra-Putri-Indonesia.com, silahkan meninggalkan alamat e-mail dan nama Anda. Ini hanya digunakan untuk mengirimkan e-magazine secara berkala kepada Anda.
|