Keberhasilan Memimpin Keluarga Merupakan Pra-Syarat Kesuksesan Memimpin Negara

Rahasia Kesuksesan Memimpin Negara

Alasan kedua untuk tidak memilih Prabowo Subianto adalah soal keluarga. Saya tidak bermaksud memojokkan Prabowo karena situasi keluarganya; ia sudah berpisah dengan isterinya. Banyak suami-isteri yang mengalami situasi keluarga Prabowo. Ada yang cerai atau pisah ranjang dan beragam kasus lainnya yang membuat hubungan suami-isteri tidak lagi seperti berkeluarga. Bahkan suami-isteri yang hidup serumahpun belum tentu harmonis. Perbedaan wawasan atau falsafah hidup adalah penyebab paling umum mengapa hubungan suami isteri tidak harmonis, retak bahkan samapai memilih untuk pisah. Terlepas dari mengapa Prabowo berpisah- saya tidak mau bahas atau mengungkitnya lebih dalam. Yang  mau saya sorot adalah bahwa faktanya ia sekarang berpisah dengan isterinya.

Anda mungkin terkejut dengan alasan ini. Namun, saya mengutip karya-karya klasik, yang memberikan pencerahan kepada kita bagaimana rahasia mengatur negara. Salah satu karya penting mengenai hal ini adalah buku yang ditulis oleh Confucius, yang ditulis kira-kira 2500 tahun lalu.

Dalam buku berjudul ‘The Great Learning,’ Confucius mengatakan. “Nenek moyang kita, yang ingin mewujudkan dan menyebarkan kebajikan ke seluruh kerajaan, pertama-tama harus mencoba memerintah dengan baik kerajaan kecil mereka sendiri. Jika ingin dapat memerintah kerajaan kecil dengan baik, maka pertama-tama harus mampu mengatur keluarga sendiri.” Bagi Confucius, keberhasilan memimpin negara terletak pada keluarga.

Lima ratus tahun kemudian, atau 2000 tahun lalu, seorang penulis hebat dari Tarsus, pernah menulis fondasi persyaratan memimpin masyarakat. Sekalipun tidak langsung berkaitan dengan mengurus negara, ia menyajikan subtansi yang sama bahwa keberhasilan memimpin sekelompok orang diawali dari keberhasilan memimpin keluarga. “Bagaimana seseorang mampu memimpin masyarakat kalau ia tidak mampu mengurus keluarganya,” begitu tulis Paulus yang punya kewarnegaraan ganda. Formulanya sederhana, yaitu kalau seseorang mau memimpin masyarakat ia harus mampu mengurus keluarganya. Bahkan ia menyajikan 9 syarat penting bagi seorang yang mau mengambil posisi pemimpin sebuah komunitas dan salah satu diantaranya adalah, ia harus punya seorang isteri dan dihormati oleh keluarganya. 

Kesuksesan Memimpin Negara Terletak pada Keberhasilan
Memimpin Keluarga

Bila pemikiran Confucius dan Paulus dijadikan sebagai kriteria, Prabowo sulit melewati kriteria ini. Situasi keluarganya yang pisah dengan isterinya- ini menjadi ganjalan. Memimpin negara bukan seperti memimpin perusahaan kecil atau memimpin desa. Dampak dari keputusan-keputusan yang diambil oleh Presiden terhadap ratusan juta rakyat sangat besar kalau dibandingkan dengan dampak keputusan yang diambil oleh seorang kepala desa.

Di sisi lain, faktor psikologis seperti stress perlu diperhitungkan. Memimpin perusahaan kecil aja bisa stres. Presiden adalah jabatan yang memimpin 240 juta orang dan banyaknya dan kompleksnya persoalan yang akan dihadapi sangat besar bisa menimbulkan stress hebat. Bagaimana mencegah stress yang besar ini? Bagaimana Prabowo akan menangani stress ketika ia sedang menghadapi persoalan yang sangat sulit dan kompleks? Bagaimana ia meraih kesuksesan memimpin negara kalau keluarga rapuh?

Sudah saya tulis beberapa langkah untuk mencegah ini. Namun, yang saya angkat pada artikel ini adalah bahwa relasi yang intim dengan isteri bisa mencegah stress yang hebat. Dalam kata lain, orang-orang yang stress dapat menguranginya dengan tidur bersama isterinya. Bermesraan dengan isteri, stress suami dapat berkurang. Seks, yang merupakan karunia dari 'Langit,' merupakan hadiah yang bisa menyalurkan stres hebat dengan bersetubuh dengan isteri. Dalam hal ini, Prabowo akan sulit mengusir stress karena Prabowo pisah dari isterinya. Kecuali ia rukun kembali dengan isterinya, stress ini dapat ditanggulangi.

Saya tidak mau mengatakan bahwa manusia tidak bisa menguasai dirinya dari kebutuhan seks. Mungkin hanya orang-orang yang berjiwa nabi atau rasul atau orang yang hidup di biara yang mampu melakukan itu. Bagaimana Prabowo bisa menyalurkan kebutuhan seksualnya pada saat ia stress sedangkan isteri tidak ada disampingnya? Ini akan menambah beban psikologis buat Prabowo dan perlu diingat bahwa jabatan Presiden bukan jabatan yang sembarangan. Ini adalah salah satu jabatan yang paling sakral di bawah kolong langit ini. Ia menjadi wakil Tuhan untuk menegakkan keadilan kepada rakyat yang ia pimpin. Tugasnya begitu mulia dan berat dan sudah jelas mengundang banyak stress, yang juga harus ia tangani.

Analisa Debat Calon Presiden Pertama

Empat Pertama untuk Tidak Memilih Prabowo Subianto Sebagai Presiden

Dari Kesuksesan Memimpin Negara ke Halaman Depan


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.