Rasa Tanggung Jawab yang
Semakin Langka

Apakah rasa tanggung jawab semakin mudar di negeri ini? Bisa jadi. Ketika saya menghadiri satu pelatihan Project Management beberapa tahun lalu, instrukturnya, orang bule dari Australia, berkata kepada 30 peserta pelatihan, "You Indonesians do not have Professional Responsibility.

You do not have acountability."Itulah fakta yang sering dilihat dalam dunia kerja dan kehidupaan sehari-hari. Perasaan tanggung jawab dalam pekerjaan sangat langka. Begitu mudahnya menuding orang lain bila ada kegagalan dalam pekerjaan atau proyek; segelintir orang yang mau cepat-cepat mengakui kesalahan. Alasan dicari-cari untuk menyalahkan orang lain. Jarang ada mengatakan, "Ini kesalahan saya."

Bukan hanya dalam pekerjaan, dalam kehidupan bermasyarakat rasa tanggung jawab pun termasuk langka. Kepedulian terhadap komunitas lemah. Mayoritas warga membiarkan segelintir orang mengerjakan hal-hal untuk kepentingan komunitas. Rasa kebersamaan semakin menipis.

Masing-masing menikmati dirinya sendiri; warga hanya memberi secuil perhatian kepada sesama warga. Yang sering bisa dilakukan hanyalah menyumbang sejumlah uang; tidak mau repot untuk urusan kepentingan warga. Sikap individualis betul-betul telah menggerogoti warga.

Yang mencemaskan adalah bahwa di institusi-institusi terhormat sekalipun, sikap bertanggung jawab hampir dapat dikatakan semakin memudar juga.

Dari mass media baik itu koran, tv, radio, internet, atau sarana lain bisa dilihat bagaimana para politisi menunjukkan sikap yang mengindikasikan lemahnya nilai itu; terdengar kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik; tanggung jawab terhadap publik semakin tipis sekalipun slogan demi-untuk-rakyat digemakan.


Bukan hanya di instansi publik bahkan sikap tidak bertanggung jawab sudah merambah ke wilayah agama. Para pemimpin agama baik sengaja atau tidak membodohi umatnya;

khotbah yang disampaikan bukan khotbah yang mendorong agar menghadirkan nilai yang semakin langka ini. Uang jemaat diambil untuk kepentingan pribadi, bukan digunakan untuk kesejahteraan umat. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa sikap tidak bertanggung jawab hampir sempurna terjadi di semua lini kehidupan.

Anehnya sosok-sosok yang mempertontonkan sikap tidak bertanggung jawab ini memiliki pendidikan yang relatif tinggi. Banyak yang bergelar S-1- terlepas dari apakah gelar itu yang diraih dengan belajar sungguh-sungguh atau dibeli.

Pendidikan memang tidak selalu menghasilkan pribadi-pribadi yang bertanggungjawab. Tidak selalu ada relasi yang berbanding lurus antara pendidikan yang diterima dengan rasa tanggung jawab.

Semakin tinggi pendidikan seseorang tidak selalu berarti ia semakin bertanggung jawab. Yang sering terjadi justru sebaliknya; semakin tinggi pendidikannya semakin tidak bertanggung jawab orang tersebut.

Namun, ada juga orang yang berpendidikan rendah, tapi memiliki tanggung jawab tinggi. Sekalipun sulit, masih ditemukan sosok-sosok yang jujur dengan pendidikan minim. Masih ada yang mengerjakan pekerjaannya dengan tuntas dan benar. Masih ada yang hati-hati dan memikirkan untung rugi atas tindakan yang diambil; masih ada yang menyadari akibat dari tindakan bila tidak mengikuti aturan main.

Bekerja dengan sikap yang penuh tanggung jawab memang bukan karakter yang muncul dengan mudah. Nilai itu harus dilatih dan tidak sedikit godaan untuk bisa meraihnya, khususnya di dunia kerja yang didominasi falsafah Pragmatisme.

Di dunia kerja, keuntungan menjadi ukuran keberhasilan, bukan proses. Etika yang baik semakin tersingkir sekalipun dipromosikan secara besar-bersaran dengan slogan seperti Fakta Integritas dan Kode Etik Bisnis. Jadi, tantangan untuk menjadi sosok yang bertanggung jawab bukanlah pilihan mudah di republik ini.

Entah bagaimana menghadirkan 'professional responsibility' dalam diri. Di negara di mana masyarakatnya memegang teguh ajaran dan melakukan ritual agama dengan rajin, logisnya rasa tanggung jawab ini relatif tinggi.

Namun, itu tidak muncul di republik ini. Yang muncul adalah sosok-sosok koruptor, penipu, pencuri, pemalas, gila jabatan; benar-benar bertolak belakang dengan ajaran agama.

Renungan:

  • Evaluasilah bagaimana ada bekerja baik itu di kantor atau di tempat lain. Apakah Anda memiliki rasa bertanggung jawab?
  • Bila Anda tertekan oleh situasi, bagaimana Anda bisa tetap menghadirkan 'professional responsibility' di pekerjaan Anda?

Link Terkait

Pengertian Etos Kerja

Etos Kerja Dipengaruhi oleh Keyakinan

Etos Kerja Pancasila

Tips Menanam Benih Etos Kerja Unggul dalam Hidup Pribadi

Rasa Tanggung Jawab yang Semakin Langka

Bekerja Secara Sistematis Merupakan Tuntutan dalam Etos Kerja Unggul

Bekerja Secara Rasional: Sebuah Panggilan

Kontemplasi Aktif


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.