Home
Artikel Terkini
Excellence
Public Training
In-House Training
Tujuan Hidup
Pengenalan Diri
Etika
Etos Kerja
Skill Dasar
Pekerjaan
Tenaga Kerja
Uang dan Harta
Pendidikan
Budaya
4_Life
Tentang Kami
Hubungi Kami
Privacy Policy
Site Search
Berlangganan

Subscribe To This Site
XML RSS
Add to Google
Add to My Yahoo!
Add to My MSN
Subscribe with Bloglines

Rasa Tanggung Jawab
yang Semakin Langka

Punahnya Rasa Tanggung Jawab

Ketika saya menghadiri satu pelatihan Project Management beberapa tahun lalu, instrukturnya, orang bule dari Australia, berkata kepada 30 peserta pelatihan, “You Indonesians do not have Professional Responsibility. You do not have acountability.”Itulah fakta yang sering dilihat dalam dunia kerja dan kehidupaan sehari-hari. Rasa tanggung jawab dalam pekerjaan sangat langka. Begitu mudahnya menuding orang lain bila ada kegagalan dalam pekerjaan atau proyek; segelintir orang yang mau cepat-cepat mengakui kesalahan. Alasan dicari-cari untuk menyalahkan orang lain. Jarang ada mengatakan, “Ini kesalahan saya.”

Bukan hanya dalam pekerjaan, dalam kehidupan bermasyarakat sikap bertanggung jawab pun termasuk langka. Kepedulian terhadap komunitas lemah. Mayoritas warga membiarkan segelintir orang mengerjakan hal-hal untuk kepentingan komunitas. Rasa kebersamaan semakin menipis. Masing-masing menikmati dirinya sendiri; warga hanya memberi secuil perhatian kepada sesama warga. Yang sering bisa dilakukan hanyalah menyumbang sejumlah uang; tidak mau repot untuk urusan kepentingan warga. Sikap individualis betul-betul telah menggerogoti warga.

Yang mencemaskan adalah bahwa di institusi-institusi terhormat sekalipun, rasa tanggung jawab hampir dapat dikatakan tidak ada. Dari mass media baik itu koran, tv, radio, internet, atau sarana lain bisa dilihat bagaimana para politisi menunjukkan sikap yang mengindikasikan lemahnya nilai itu; terdengar kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik; tanggung jawab terhadap publik semakin tipis sekalipun slogan demi-untuk-rakyat digemakan. Bukan hanya di instansi publik bahkan sikap tidak bertanggung jawab sudah merambah ke wilayah agama. Para pemimpin agama baik sengaja atau tidak membodohi umatnya; khotbah yang disampaikan bukan khotbah yang mendorong agar menghadirkan nilai yang semakin langka ini. Uang jemaat diambil untuk kepentingan pribadi, bukan digunakan untuk kesejahteraan umat. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa sikap tidak bertanggung jawab hampir sempurna terjadi di semua lini kehidupan.

Anehnya sosok-sosok yang mempertontonkan sikap tidak bertanggung jawab ini memiliki pendidikan yang relatif tinggi. Banyak yang bergelar S-1- terlepas dari apakah gelar itu yang diraih dengan belajar sungguh-sungguh atau dibeli. Pendidikan memang tidak selalu menghasilkan pribadi-pribadi yang bertanggungjawab. Tidak selalu ada relasi yang berbanding lurus antara pendidikan yang diterima dengan sikap bertanggung jawab. Semakin tinggi pendidikan seseorang tidak selalu berarti ia semakin bertanggung jawab. Yang sering terjadi justru sebaliknya; semakin tinggi pendidikannya semakin tidak bertanggung jawab orang tersebut.

Namun, ada juga orang yang berpendidikan rendah, tapi memiliki rasa tanggung jawab tinggi. Sekalipun sulit, masih ditemukan sosok-sosok yang jujur dengan pendidikan minim. Masih ada yang mengerjakan pekerjaannya dengan tuntas dan benar. Masih ada yang hati-hati dan memikirkan untung rugi atas tindakan yang diambil; masih ada yang menyadari akibat dari tindakan bila tidak mengikuti aturan main.

Bekerja dengan sikap yang penuh tanggung jawab memang bukan karakter yang muncul dengan mudah. Nilai itu harus dilatih dan tidak sedikit godaan untuk bisa meraihnya, khususnya di dunia kerja yang didominasi falsafah Pragmatisme. Di dunia kerja, keuntungan menjadi ukuran keberhasilan, bukan proses. Etika yang baik semakin tersingkir sekalipun dipromosikan secara besar-bersaran dengan slogan seperti Fakta Integritas dan Kode Etik Bisnis. Jadi, tantangan untuk menjadi sosok yang bertanggung jawab bukanlah pilihan mudah di republik ini.

Entah bagaimana menghadirkan ‘professional responsibility’ dalam diri. Di negara di mana masyarakatnya memegang teguh ajaran dan melakukan ritual agama dengan rajin, logisnya rasa tanggung jawab ini relatif tinggi. Namun, itu tidak muncul di republik ini. Yang muncul adalah sosok-sosok koruptor, penipu, pencuri, pemalas, gila jabatan; benar-benar bertolak belakang dengan ajaran agama.

Renungan:

  1. Evaluasilah bagaimana ada bekerja baik itu di kantor atau di tempat lain. Apakah Anda memiliki rasa tangggung jawab?
  2. Bila Anda tertekan oleh situasi, bagaimana Anda bisa tetap menghadirkan ‘professional responsibility’ di pekerjaan Anda?



Artikel Terkait:

Pengertian Etos Kerja
Menyajikan definisi baru tentang etos kerja

Etos Kerja Pancasila
Menyajikan 10 ciri nilai yang penting dalam dunia kerja.

Pengaruh Agama Terhadap Etos Kerja

Daftar Artikel di Putra-Putri-Indonesia.com

Dari Bekerja dengan Rasa Tanggung Jawab ke Halaman Depan



Keep Learning Keep Growing

4Life Transfer Factor
Best Solution for your
Body Health

Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com

Enter your E-mail Address
Enter your First Name
Then

Don't worry -- your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Upcoming Seminar

Effective Meeting at Workplace
24 Mei 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Rp1.000.000
Early Bird (before 14 Mei 2012),
Rp900.000

Organized by:
PT. Business Excellence Luminance
Management Consulting and Smart Training

Contact No.:
0813-1141-8800 or 021-2637-1155

Speaker: Judika Malau

'Testimony':

"Instruktur sudah sangat-sangat professional dan berpengalaman dalam penguasaan materi. Dari seminar yang diberikan, banyak manfaat yang membangun yayasan kami ke depan." (Wilfirmus Uwil, Yayasan ASRI, Kalimantan Barat)

Public Training in 2012
for People and Business to Grow

In-House Training



SPONSOR

Alma Butik dan Kursus Jahit