Bila Anda Hidup, Mengapa Takut Mati?

Bila Anda sungguh-sungguh hidup, mengapa takut mati? Kematian hanyalah pintu gerbang untuk masuk ke fase kehidupan kedua.

Manusia memang akan mati. Apakah seseorang mati di usia tua atau muda, manusia tidak dapat mengelak kematian. Ini sudah hukum alam. Hanya waktu yang membedakan antara yang satu dan yang lain. Ada yang mati dalam rahim; ada yang mati setelah lahir. Ada yang mati pada masa kecil; ada yang mati pada saat remaja. Ada yang mati
pada saat dewasa; ada yang mati setelah melewati puluhan tahun. Tak seorangpun manusia yang lahir di bumi ini mampu menghindari kematian.

Namun demikian, kelihatannya kita tidak takut mati. Kita tidak takut kalau jiwa terpisah dari tubuh. Kita tidak kuatir kalau kita meninggalkan dunia ini.

Yang kita kuatirkan adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan tubuh.

Kita kuatir kalau penghasilan kecil, penyakit datang, atau tidak punya uang untuk membiayai pendidikan anak. Kita takut rumah kecolongan. Kita kuatir kalau tidak punya pembantu. Kita kuatir kalau tidak dapat pesangon. Bila diperhatikan, kebanyakan yang kita kuatirkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan tubuh.

Hal-hal yang bersifat materi memang berkaitan erat dengan tubuh. Tubuh perlu makanan dan minuman agar tubuh tetap bisa melakukan aktifitasnya. Kalau tidak ada pasokan nutrisi masuk ke dalam tubuh, tubuh bisa lemah. Kita butuh makanan dan minuman. Kita butuh pakaian. Kita butuh rumah. Namun, kebutuhan kita bukanlah hanya kebutuhan jasmani, tetapi juga kebutuhan rohani, yaitu jiwa kita.

Mengapa Takut Mati Kalau Jiwa Tetap Hidup?

Jiwa memang tidak dapat dipisahkan dari tubuh. Jiwa dan tubuh punya relasi yang sangat intim. Jiwa dan tubuh bersatu, tetapi tidak bercampur dan keduanya saling mempengaruhi. Namun, jiwa dapat eksis tanpa tubuh. Jiwa bisa berkomunikasi dengan jiwa lain di alam roh. Jiwa bisa berpikir tanpa bantuan otak. Sebaliknya, tubuh tidak dapat melakukan aktifitas tanpa jiwa. Tubuh jadi mayat kalau jiwanya tidak ada.

Bila jiwa dapat eksis tanpa tubuh, logisnya kebutuhan tubuh tidaklah begitu berperan besar terhadap eksistensi jiwa. Hanya saat jiwa dan tubuh bersatu, jiwa bisa menderita. Bila pasokan nutrisi ke dalam tubuh berhenti misalnya, jiwa akan terpengaruh. Coba saja bila Anda lapar, emosi Anda bisa dengan mudah terpancing. Konsentrasi berpikir bisa terganggu bila perut 'berteriak' minta makan.

Namun, makanan, minuman, atau berbagai kebutuhan tubuh lainnya- ini semua tidak mutlak mendikte jiwa. Ia hanya mempengaruhi jiwa sampai batas-batas tertentu.

Sekalipun antara jiwa dan tubuh ada relasi yang sangat dekat, jiwalah yang menjadi pimpinan dalam seluruh eksistensi manusia. Jiwa ibarat subjek dan tubuh menjadi objek. Jiwalah yang mempimpin tubuh; bukan tubuh memimpin jiwa.

Kembali kepada pertanyaan di atas. Bila Anda hidup, mengapa takut mati? Tentu kita hidup. Kita beraktifitas. Kita berpikir. Tumbuh-tumbuhan dan binatang juga hidup, tetapi tumbuhan dan binatang tidak hidup seperti manusia.

Kalau binatang mati, rohnya menjadi tidak ada; kalau manusia mati, rohnya pergi ke suatu tempat yang masih misteri bagi kita. Ada yang menyebutnya surga, alam baka atau nirwana. Tapi, tak seorang pun dari kita yang masih hidup tahu ke mana jiwa seseorang pergi setelah mati. Hanya estimasi-estimasi yang subjektif yang mungkin menjustifkasi alasan-alasan tentang hidup setelah mati.

Namun, masih ada pengertian lain tentang hidup, yaitu bahwa jiwa tetap eksis sekalipun jiwa terpisah dari tubuh; jiwa masuk ke nirwana. Ada yang menyebut dimensinya berupa kekekalan, sesuatu yang sulit dipahami akal sampai tuntas.

Seperti kata Plato, jiwa 'berdiam diri' di alam baka menikmati keabadian. Ia hidup di dunia yang berbeda dengan dunia manusia sampai jiwa dipertemukan kembali dengan tubuhnya.

Ada kebangkitan setelah kematian. Orang-orang yang mati akan bangkit kembali. Tentu, ini bisa mengundang pertanyaan, "Apakah orang yang telah mati akan bangkit untuk hidup?'

Kalau Anda dan saya tetap hidup setelah mati, mengapa takut mati? Mengapa kita kuatir akan kehilangan harta, kehilangan rumah, kehilangan pesangon, kehilangan investasi dan semua tetek-bengek yang berkaitan dengan tubuh? Mengapa kita takut bereksperimen? Mengapa takut memulai bisnis baru? Mengapa kita meresahkan hal-hal yang bersifat materi, yang tidak dibutuhkan jiwa?

Materi tidak menentukan eksistensi jiwa kita. Percayalah. Kita hanya akan menambah kesusahan demi kesusahan kalau kita hanya mengejar materi. Mari kita perhatikan jiwa kita tanpa mengabaikan tubuh kita.

Link Terkait´╗┐´╗┐

Mengenal Diri: Langkah Awal Pengembangan Diri

Manusia Terdiri dari Tubuh dan Jiwa

Nilai Diri Anda Kekal

Harga Diri Harus Diperjuangkan

Tips Mengangkat Harga Diri


Memperbaiki Citra Diri: Langkah-Langkah Praktis

Asal-Usul Orang Indonesia

Dicari Pribadi yang Berintegritas di Republik Ini

Liang Kubur: Tempat Terakhir Perjalanan Sejarah Hidup Kita


Pelajaran dari 'Kepergian' Gus Dur di Akhir Tahun 2009 Bila Anda Hidup, Mengapa Takut Mati?


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

SEMINAR

Conquering Fear and Worry

Highly Motivated People

Career Repositioning

Habits of the Mind

Thinking with Six Hats

KONTAK SEMINAR
0813-1141-8800
021-8430-3041

Seminar ada dalam format 2, 4, 8 dan 16 jam.