Apa Itu Wawasan Dunia (Worldview)?

Ditulis oleh: Judika Malau - Trainer, Motivator & Konsultan

Wawasan Dunia (Worldview)

Hampir setiap hari kita membuat keputusan- mulai dari keputusan-keputusan yang kecil seperti memilih pakaian untuk dipakai ke kantor, memilih makanan untuk makan siang sampai kepada keputusan-keputusan yang lebih besar dan serius seperti memilih jurusan di bangku kuliah, memilih pekerjaan ketika ada dua atau tiga tawaran datang dalam waktu yang bersamaan, memilih tempat tinggal, memilih pasangan hidup dan memilih keyakinan. Apapun keputusan yang kita ambil- itu merupakan produk dari wawasan dunia kita. Ibarat koin yang punya dua sisi,  tindakan atau keputusan kita merupakan sisi yang satu; keyakinan-keyakinan yang hidup dalam diri kita adalah sisi yang satu lagi. Keduanya tidak dapat dipisah. Worldview dan tindakan merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan.

Apa Itu Worldview?

Apa itu worldview? Istilah ini merupakan kata yang diterjemahkan dari bahasa Jerman, yaitu 'weltanchauung', istilah yang pertama kali digulirkan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, manusia menggunakan akal sehat untuk mencapai pengertian dan makna dunia ini dan peran manusia di dalamnya. Pengertian 'weltanchauung' atau 'worldview' kemudian berkembang. Sebagian orang menyebutnya sebagai perspektif hidup. Ada yang menyebutnya sebagai visi, prinsip-prinsip, sistem nilai, cita-cita atau ideologi.

Di halaman ini, kita meminjam defenisi yang dibuat oleh Albert M. Wolters, penulis buku Creation Regained. Menurut Wolters, worldview adalah kerangka menyeluruh dari kepercayaan dasar seseorang tentang segala hal." Apa yang dimaksud dengan "segala hal" di sini adalah segala hal yang termasuk realitas: dunia, manusia, moralitas, keluarga, politik, ilmu pengetahuan, seni, bisnis, pertanian, perikanan, dan bidang-bidang lain yang merupakan cakupan budaya. Bahkan dunia spritualitas pun  termasuk dalam cakupan "segala hal." Dengan demikian, ruang lingkup worldview begitu luas.

Worldview (wawasan dunia) meliputi kepercayaan-kepercayaan dasar seseorang. Apa yang dimaksud dengan kepercayaan di sini bukanlah agama resmi seperti yang dianut oleh seseorang misalnya, agama Islam, Kristen, Hindu, atau Buddha atau keyakinan lain. Worldview tidak dapat disamakan dengan agama. Seseorang bisa saja beragama Islam, tetapi worldview-nya tidak 'berwarna' Islam. Tanpa ia sadari, bisa saja ia mengadopsi keyakinan tertentu yang bukan berasal dari agama Islam. Bisa saja seseorang beragama Kristen, tetapi worldview-nya tidak 'berwarna' Kristen. Bisa saja worldview-nya diwarnai oleh keyakinan yang berasal dari Leberalisme atau isme-isme lain misalnya. Jadi, harus dibedakan antara kepercayaan dasar yang sungguh-sungguh diyakini seseorang dengan agama yang dianut.

Menurut Wolters, worldview adalah kerangka menyeluruh dari kepercayaan dasar seseorang tentang segala hal."

Kita juga harus bedakan bahwa worldview (wawasan dunia) tidak sama dengan perasaan atau pendapat. Pendapat misalnya, membutuhkan argumentasi logis atau tuntutan terhadap pengetahuan tertentu. Sedangkan worldview tidak harus selalu demikian. Worldview tidak harus dijelaskan dengan argumentsi ilmiah atau akademis. Tidak ada keharusan bahwa kita harus bisa memberikan penjelasan ilmiah atas keyakinan kita. Keyakinan tidak harus selalu bisa diuraikan oleh setiap orang sekalipun ada juga orang yang mampu memberikan penjelasan akademis. Kita bisa menyatakan worldview kita sekalipun kita tidak punya argumentasi logis atau ilmiah mengapa kita memiliki keyakinan demikian.

Kepercayaan dasar (worldview) tidak juga harus disamakan dengan pengakuan kognitif. Seseorang bisa saja memiliki pengakuan kognitif tertentu, tetapi belum tentu ia sungguh-sungguh meyakininya. Kalaupun ia yakin, belum tentu ia bela. Sebaliknya, worldview menuntut bukan hanya pernyataan, tetapi juga pembelaan. 'Worldview' menuntut komitmen lebih dari pada pendapat belaka.

Oleh karena worldview (wawasan dunia) merupakan kepercayaan-kepercayaan dasar yang sungguh-sungguh hidup dalam diri seseorang, worldview cenderung membuat pola atau kerangka. Ibarat mata air di gunung yang akhirnya membentuk arus sungai, worldview juga membentuk arus atau pola tindakan. Jadi, arus, kebiasaan, tradisi atau tindakan-tindakan yang terpola merupakan produk dari worldview.

Oleh karena worldview merupakan kepercayaan-kepercayaan dasar yang sungguh-sungguh hidup dalam diri seseorang, worldview itu cenderung
membuat pola atau kerangka.

Apakah setiap orang mempunyai worldview? Ya. Bahkan dapat dikatakan anak kecil sekalipun mempunyai worldview sekalipun masih sangat mentah. Semakin banyak informasi, pengalaman atau interaksi dengan lingkungan termasuk interaksi dengan hal-hal yang bersifat supranatural, worldview mengambil bentuk yang makin berkembang sekalipun arah perkembangan itu tidak selalu disadari. Kita tidak selalu menyadari apa worldview kita sekalipun kita memilikinya. Ibarat organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan organ-organ lain, kita tidak selalu mengetahui bagaimana organ-organ ini bekerja. Kita tidak selalu menyadari apa "sistem nilai" (istilah lain terhadap worldview) yang terpatri dalam diri kita sekalipun setiap hari kita membuat keputusan atau memberikan pandangan berdasarkan worldview kita.

Apa Fungsi Worldview?

Worldview (wawasan dunia) berfungsi memberikan arah atau kompas dalam hidup kita. Worldview memberi petunjuk bagi kehidupan. Worldview semacam map, yang memberikan pengertian tentang apa benar dan apa yang salah atau apa yang patut atau apa yang tidak patut dari peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala yang membingungkan. Fungsi lain dari worldview adalah membentuk cara kita menilai peristiwa, isu-isu dan struktur dari peradaban kita. Dengan kata lain, worldview berfungsi untuk memberikan arah sekaligus struktur dari cara kita melihat segala sesuatu yang ada.

Fungsi worldview mungkin lebih mudah dipahami dengan membaca konteks masalah-masalah berikut. Misalnya, bila pajak penghasilan tidak digunakan dengan baik oleh pemerintah, apakah kita tetap menyetor pajak dengan jujur? Apakah kita tetap mengikuti peraturan pemerintah untuk melaporkan pajak penghasilan kita? Bila para calon kepala daerah yang ditawarkan oleh partai politik atau jalur independen tidak memenuhi ekspektasi kita, apakah kita tetap menggunakan hak pilih kita? Apakah kita tetap memilih salah satu dari calon-calon yang ditawarkan sekalipun tidak menggembirakan menurut pandangan kita? Apakah kita memilih bercerai bila pasangan hidup kita tidak sejalan lagi dengan kita? Jawaban atau sikap terhadap isu-isu yang baru disebut merupakan produk dari worldview kita.

.... worldview kita akan tergambar dengan jelas ketika kita diperhadapkan kepada persoalan-persoalan yang mendesak. Worldview yang sesungguhnya tidak begitu kelihatan ketika kita menghadapi masalah-masalah yang sepele.


Bagaimana kita mengenali worldview (wawasan dunia) kita? Ini pertanyaan menarik. Jawaban praktis adalah bahwa worldview kita akan tergambar dengan jelas ketika kita diperhadapkan kepada persoalan-persoalan yang mendesak. Worldview yang sesungguhnya tidak begitu kelihatan ketika kita menghadapi masalah-masalah yang sepele. Ketika kita menghadapi persoalan-persoalan yang kritislah worldview kita akan terpampang dengan jelas. Saat kita membuat keputusan dan apa pun keputusan yang kita ambil- itulah worldview kita sesungguhnya. Seperti iklan besar yang dipampang di pinggir jalan raya, worldview kita akan jelas ketika kita menghadapi masalah-masalah darurat dan membuat keputusan pada saat itu. (JM)


SEMINAR: WORLDVIEW
08.00 - 17.00; JADWAL JAKARTA & LIPPO CIKARANG
Kontak: 0813-1141-8800; 0813-1122-1148;
E-mail: info@business-excellence-luminance.co.id atau
info@putra-putri-indonesia.com (bagi pelanggan situs ini)

Bagaimana worldview terbentuk? Apa faktor-faktor utama yang membentuk worldview? Mungkinkah kita memiliki worldview yang konsisten? Apakah 'worldview' bisa dirubah? Bila bisa dirubah, dengan cara apa itu dapat dilakukan? Apa pengaruh worldview terhadap pengambilan keputusan dalam bisnis? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami menyajikan  pelatihan Worldview.

Penyelenggara: Business Excellence Luminance



Bagaimana Mewujudkan Revolusi Mental?

Kritik terhadap Teori Motivasi Maslow?

Bagaimana Mencegah Stress?

Dari Wawasan Dunia (Worldview) ke Halaman Depan

Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK

0813-1141-8800

0813-1122-1148


Jadwal Training

Luminance of the Mind

Habits of the Mind

Thinking with Six Hats

Business Ethics and Decision Making

Corporate Culture


Bagaimana Mewujudkan 'Revolusi Mental?'

Kritik terhadap Teori Motivasi Maslow

Seperti Apa Berpikir Filsafat Itu?

Mata Kuliah Filsafat: Mungkinkah Masuk Kurikulum Mahasiswa?