Bahasa Batak, Berapa Lama Bisa Bertahan?



Dalam sebuah presentasi dan diskusi tentang bahasa Batak, presenter mengatakan bahwa bahasa Batak akan hilang dalam waktu tujuh puluh tahun.

Bukan hanya bahasa Batak, puluhan bahasa-daerah lain juga akan punah. Satu persatu bahasa daerah akan redup dan akhirnya hilang dari peredaran. Kapan bahasa Batak tersingkir- waktu akan mengungkap.

Eksistensi bahasa Batak dan bahasa daerah lain memang terancam. Pengaruh bahasa Indonesia tidak terbendung. Di mana-mana bahasa Indonesia digunakan.

Bahasa sehari-hari adalah bahasa Indonesia- di sekolah, kampus, pasar, dan tempat umum lainnya. Komunikasi yang dipakai di dunia internet, wa, Facebook, media sosial lainnya, tv, radio, buku, majalah, koran, dan koran on-line adalah bahasa Indonesia.

Mayoritas buku dicetak dalam bahasa Indonesia. Yang menarik, banyak buku tentang habatahon ditulis dalam bahasa Indonesia.

Berapa banyak orang menggunakan bahasa Batak? Hanya di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya orang Batak bahasa Batak dipakai. Di kota atau daerah, yang penduduknya heterogen, bahasa Indonesia yang digunakan.

Bahkan di pertemuan-pertemuan seperti arisan orang Batak, bahasa Indonesia yang dipakai untuk komunikasi.

Sebut saja pada pertemuan puluhan orang Batak di Perpustakaan Nasional Jakarta hari Jumat lalu; hanya karena ada satu orang Jawa sebagai peserta, yang menikah dengan orang Batak, terpaksa bahasa Indonesia yang digunakan dalam diskusi. 

Bila bahasa Batak tidak digunakan, lambat laun ia akan tersisih.

Dalam bentuk tulisan, buku apa yang dapat dibaca dengan memakai bahasa Batak? Sangat sedikit.

Penerbit berpikir 10 kali untuk menerbitkan buku dalam bahasa Batak seperti buku Hata Batak Maninggoring, yang ditulis J. M. Hariara 32 tahun lalu atau Patik dohot Uhum ni Halak Batak, yang diterbitkan Universitas HKBP Nomensen 32 tahun lalu.

Kalau misalnya diterbitkan, siapa yang akan beli? Kalau dibeli, apakah isinya bisa dipahami karena literatur dalam bahasa Batak jarang dibaca?

Terus, apakah banyak buku-buku berisi pemikiran-tinggi ditulis dalam bahasa Batak? Barangkali hanya Bibel dan Buku Ende. Kalaupun ada buku lain, isinya barangkali kalah sama buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Sebut saja misalnya buku berjudul Si Pahursor-Husoron ni Roha yang ditulis oleh T. M. Hutabarat 35 tahun lalu. Isinya tidak dapat mengalahkan buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti Supremasi Allah dalam Khotbah karya John Piper,  Lecture on Calvinism karya Abraham Kuyper, Knowing God karya J.I Packer atau literatur-literatur yang diterbitkan oleh Radio Bible Class. 

Bahasa Batak tentu tidak dapat dibandingkan dengan bahasa Inggris. Pengaruh bahasa Inggris sudah ratusan tahun dan pengaruhnya sudah ke seluruh dunia.

Pada tahun 1526, Alkitab Perjanjian Lama diterjemahkan oleh William Tyndale ke dalam bahasa Inggris dan seluruh Alkitab selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1535.

Orang-orang Inggris menerjemahkan buku-buku bermutu ke dalam bahasa Inggris seperti Ninety Five Theses dari Martin Luther. Institutes of the Christian Religion, yang aslinya ditulis John Calvin dalam bahasa Latin dan Prancis, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Calvin's Commentary yang ditulis John Calvin dalam 22 buku juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Bukan hanya buku-buku rohani, buku-buku Filsafat seperti karya Plato, Aristoteles, Confucius, Mencius dan karya-karya filosof besar lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Karya Jostein Gaarder orang Norwegia pun, Sophie's World, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.       

Kembali ke bahasa Batak, berapa banyak buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Batak? Apakah karya Plato, Aristoteles, Confucius dan Mencius diterjemahkan ke dalam bahasa Batak?

Apakah Institutes of the Christian Religion, Calvin's Commentary, dan karya Martin Luther diterjemahkan ke dalam bahasa Batak? Mungkin buku lain ada, tetapi sulit ditemukan. Kalau pemikiran yang bermutu tidak disajikan dalam bahasa Batak, apakah bahasa Batak bisa bertahan?

Dengan redupnya bahasa Batak, otomatis acara adat Batak juga terpengaruh. Apakah acara adat dapat dilakukan dalam bahasa Indonesia di masa mendatang?

Bagaimana dengan nasib pantun-pantun dalam bahasa Batak? Mungkin acara adat dalam bahasa Batak tetap eksis sekalipun orang Batak tidak memahaminya.

Kalau bahasa Batak mau bertahan, orang Batak harus sering menggunakan bahasa Batak. Di setiap kesempatan, bahasa Batak dipakai- itulah solusi praksis.

Namun, berapa lama orang Batak mampu menggunakannya, khususnya mereka yang tinggal di daerah yang penduduknya heterogen? Bahasa Batak bakal tersisih.

Bila anak tetangga, Jenis boru Tohang, datang ke rumah, ia bicara dalam bahasa Inggris dengan putri saya. Bahasa Inggrisnya sudah kayak orang yang lahir di Los Angeles lagi. Sulit mempertahankan eksistensi bahasa Batak di masa mendatang.    

Saya pikir, bahasa Batak sudah menyelesaikan tugasnya yang terpenting, yaitu menerjemahkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak. Bahasa Batak diselamatkan oleh Bibel.

Kalau ada yang mau belajar bahasa Batak, ia cukup membaca Bibel. Dan hanya Bibel atau Alkitab buku yang paling penting yang harus dibaca setiap orang selama ia hidup.

Syukur, nyanyian hymn (Buku Ende) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Batak untuk menyertai pembacaan Bibel.

Bila Bibel dibaca dan Buku Ende dinyanyikan setiap hari, tak perlu kuatir apakah bahasa Batak punah dalam waktu 50 atau 70 tahun lagi. (Ditulis oleh: Judika Malau)


Asal Usul Somba Marhula-Hula


Copyright 2009-2019 putra-putri-indonesia.com






Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.