Kertas Konsep (Concept Paper)
Pusok Habatakon/Pusat Habatahon (BATAK CENTRE)

Kertas Konsep (Concept Paper)
Pusok Habatakon/Pusat Habatahon (BATAK CENTRE)

1.    Latar Belakang:
Batak merupakan salah satu suku bangsa dari 1.300 lebih suku bangsa di Indonesia yang bermukim di wilayah Sumatera Utara  di sekitar Pantai Barat dan Pantai Timurnya atau di kawasan Danau Toba. Pada awalnya sebelum Indonesia merdeka, orang Batak menyebut dirinya Bangsa Batak, karena ada kemandirian dalam dirinya yang cukup memberi identitas Bangsa, yaitu memiliki wilayah atau kampung halaman sendiri (Kawasan DT), memiliki adat-istiadat yang dapat mengatur kehidupannya yang disebut Dalihan Natolu, memiliki Bahasa dengan kosa kata dan aksara yang lengkap, memiliki mata pencaharian, bahkan teknologi pertanian dan sebagainya.

Memang bila dibandingkan dengan Indonesia secara keseluruhan, kawasan DT dengan penduduknya yang relative sedikit, tidaklah pantas disebut orang Batak sebagai Bangsa. Tetapi dibandingkan dengan negara kecil seperti Liechtenstein di Eropa, maka orang Batak tidak salah menyebut dirinya bangsa Batak.

Namun alam kemerdekaan memberi rasa persatuan dan perjuangan, sehingga Sisingamangaraja ikut mengangkat senjata melawan Belanda dan akhirnya Indonesia merdeka dan bangsa Batak melebur dirinya menjadi bagian integral dengan Bangsa Indonesia, terbentuklah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD45 dengan semangat Bhineka Tunggal Ika dan bangsa Batak menjadi suku Batak seperti suku lainnya.

Pada perkembangannya, orang-orang Batak dan yang menyandang identitas suku Batak, yaitu saudara-saudaranya yang dari suku atau etnik atau bangsa lain yang diberikan marga Batak, telah hidup menyebar ke seluruh pelosok tanah air di Indonesia maupun luar negeri.

Penandanya adalah orang tersebut memiliki nama keluarga (marga) di belakang namanya, dan berjiwa kekerabatan Batak dan mempunyai silsilah yang jelas mulai dari nenek moyangnya, yaitu pemberi marga dari nama sendiri. Bahkan mulai dari manusia Batak pertama, yaitu si Raja Batak.

Suku Batak, memiliki  ilmu pengetahuan seperti astronomi, pertanggalan, aksara, dan lain-lain, dan teknologi untuk pertanian, termasuk kearifan lokal dalam melestarikan lingkungan seperti, dilarang membuang sesuatu di Danau Toba, seperti meludah sembarangan atau membuang sampah sembarangan.

Kebudayaan Batak memiliki pertalian dan/atau kemiripan dengan beberapa suku lainnya di Indonesia maupun di luar Indonesia. Kedekatan atau pertalian budaya tersebut dikategorikan oleh antropolog maupun arkeolog sebagai rumpun bangsa penutur Austronesia.

Kini, kebudayaan Batak perlahan-lahan ditinggalkan oleh penganutnya. Kebanggaan Batak,mulai pudar dan semakin tergerus dengan kehadiran budaya modern seperti teknologi informasi, pergaulan bebas, hedonisme dan konsumerisme.

Sebaliknya orang yang cinta terhadap kebudayaan Batak, sering terjebak melestarikan budaya Batak pada konteks masa lalu dan lupa mengembangkannya ke modernisasi. Disisi lain pihak yang mengagung-agungkan peradaban modern menganggap kebudayaan Batak sebagai kekunoan. Ritual pesta Batak dianggapnya tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian.

Pesta adat yang seharusnya menjadi sukacita, dianggap sebagai jeratan stagnasi, terlalu lama, membosankan dan melelahkan. Pesta tidak lagi dilihat sebagai sarana untuk memperkuat relasi Dalihan Na Tolu dan memupuk semangat kegotong-royongan,tetapi dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Posisi Parboru dalam sebuah acara pesta telah diserahkan kepada pemilik Catering, yang sesungguhnya lebih didasarkan padamotif ekonomi, maka unsur kegotong-royongannya memudar.Bussiness as usual, semua serba bisnis, demikianlah situasisaat ini. Telah terjadi pergeseran budaya yang menyebabkan masyarakat Batak tidak menyatakan lagi kejatidiriannya yang dulu yang besar, tua tapi bermartabat. Akhirnya masyarakat Batak jadi terombang-ambing di Zaman Modern ini.

Masalah sesungguhnya bukan pada teknologi maupun perkembangan zaman, tetapi pada manusianya yang tidak mampu mengembangkan budaya Batak yang terbuka dengan zaman itu. Seharusnya kebudayaan dipahami sebagai pedoman kehidupanpelaku budayanya, dapat sebagai pijakan agar bisa mengembangkan dan menerapkan agar mampu unggul di tengah peradaban yang semakin penuh persaingan.

Beberapa negara lain di Asia seperti Jepang, Cina, maupun Korea menjadi bangsa maju ditengah peradaban modern, dengan menempatkan kebudayaannya sebagai pusat nuraninya di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Produk teknologi seperti laptop, telpon genggam, maupun alat komunikasi digital lainnya tetap menggunakan aksara Kanji di Jepang atau aksara Mandarin di Cina. Hal ini menunjukan proses inkulturnasi terhadap dua periode kebudayaan yang berbeda, yaitu masa lalu dan masa kini, maka dibutuhkan kesadaran bersama bahwa kebudayaan merupakan kekayaan bangsa yang perlu dipelihara dan dikembangkan serta menyesuaikannyadengan modernisasi.

Maka perlu budaya Batak dikembalikan pada posisi yang semestinya, disesuaikan pula dalam konteks keindonesiaan. Demikian juga revitalisasi nilai-nilai Habatahon dan peradaban Batak, sekaligus dilakukan sebagai dukungan untuk membangun jati diri bangsa dalam bingkai keberagaman.

Kebudayaan Batak adalah salah satu kekayaan nasional, diharapkan mampu ikut berkontribusi dalam upaya internalisasi nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD45 dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Di tengah peradaban dunia, maka kebudayaan Batak diharapkan dapat menjadi pusat nurani orang Batak dalam mempertemukan arus-arus kebudayaan yang berbeda dan saling bersinergi. Sehingga orang Batak dimanapun berada tetap memiliki kebanggan dan martabat Habatahon.


2.    Nama:
Untuk menjawab masalah dan tantangan yang ada dalam rangka pelestarian Budaya Batak, maka perlu dibentuk organisasi yang diberi nama PUSOK HABATAKON dalam Bahasa Batak, PUSAT HABATAHON dalam Bahasa Indonesia. atau dalam bahasa Inggris disebut BATAK CENTRE.

Yang dimaksud dengan HABATAKON yang dibaca dengan lafal Batak dan diindonesiakan, Habatahon, yaitu segala hal yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur Kebudayaan  dan Peradaban Batak yang mencakup keseluruhan aspek seperti sistem mata pencaharian, sistem-sistem seperti kekerabatan, mata pencaharian, pertanian, bahasa, kepercayaan, teknologi, kuliner, mode/ fashion maupun ilmu pengetahuan seperti astronomi, pertanggalan, termasuk kearifan lokal lainnya.


3.    Visi:
Terbentuknya Lembaga Batak Center yang mampu melestarikan dan mengembangkan budaya dan peradaban Batak, dengan modernisasi demi kemajuan dan martabat suku Batak sebagai bagian integral dari Bangsa Indonesia.

4.    Misi :
a. Memantapkan Batak Center agar berdaya dan mampu melaksanakan tugasnya dan menjadi representasi pelaku budayanya,
b. Melestarikan budaya Batak yang sesuai dengan zaman dan mengembangkannya, sehingga  siap digunakan dalam kehidupan modern,
c. Menggali nilai-nilai luhur Habatahon sebagai unsur nilai PANCASILA dan digunakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia,

d. Merumuskan kembali kearifan local HABATAHON untuk digunakan bagi pelestarian lingkungan hidup dan Danau Toba,
e. Menghimpun semua hasil karya peradaban Batak dan menempatkannya di suatu Museum Batak.
f. Memberdayakan orang Batak menjadi unggul dalam persaingan internasional dan mampu membawa nama harum bangsa Indonesia

5.    Tujuan:
Terlestarikan dan terwujudnya Budaya Batak yang sezaman dengan modernisasi yang disandang orang batak dengan tetap menjaga keutuhan Bangsa Indonesia dan makin majunya suku Batak di tengah dunia

6.    Kegiatan:
a.  Melakukan penelitian, kajian tentang Kebudayaan dan Peradaban Batak melalui kegiatan sarasehan, seminar, FGD, dan lain-lain, untuk menemukan nilai luhur Habatakon sebagai unsur nilai Pancasila serta melestatarikan dan mengembangkannya.

b. Membangun kerjasama dengan institusi lain baik perguruan tinggi, lembaga penelitian, punguan marga, Pemerintah, LSM, dan pihak lainnya dalam mengembangkan kebudayaan Batak.

c. Melakukan dokumentasi dan penyelamatan terhadap benda, naskah, serta peradaban suku Batak lainnya.
   d. Melakukan pemberdayaan dan kaderisasi suku Batak
   e. Menerbitkan media komunikasi sebagai wadah penyebaran semua kegiatan Batak Center

7.    Bentuk Organisasi:
Organisasi berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atas sejenis yang dapat membuka cabang atau perwakilan di tempat lain, baik didalam maupun diluar wilayah Republik Indonesia.
Adapun susunan kepengurusan terdiri atas:
a. Dewan Penasehat
-    Ketua        :
-    Sekretaris        :
-    Anggota        :
b. Dewan Pengawas
-    Ketua        :
-    Anggota        :
c. Badan Pengurus
-    Ketua Umum    :
-    Sekretaris Jendral    :
-    Bendahara Umum    :
-    Anggota        :   
Catatan: Posisi Sekretaris Jenderal merangkap sebagai Direktur Eksekutif yang membawahi Divisi-Divisi seperti: Admin dan Finance, Program, Humas dan Kerjasama, MonEv, Penelitian dan Pengembangan, dan Divisi lain sesuai kebutuhan.

8.    Sumber Pendanaan:
Diperoleh dari:
a. Iuran anggota dan/atau pengurus (penasehat, pengawas, atau pengurus harian)
   b. Sumbangan tetap dari para donatur
   c. Sponsorship dan/atau hibah
   d. Usaha-usaha lain yang sah, dan
   e. Sumbangan lain yang tidak mengikat.

9.    Kantor
a.    Kantor Pusat    : di kantor Perwakilan Provinsi Sumut (diminta ke Gubernur Sumut)
b.    Kantor Cabang: 1) di Medan (diminta ke pemda Sumut)
2) di Semua Kabupaten kawasan Danau Toba (diminta ke Pemda
setempat)


      Jakarta,       April 2017


         Ttd

Penggagas
(Bonar Simangunsong, Maruap Siahaan,
Jerry RH Sirait, Jhohannes Marbun, Saut
Poltak Tambunan)    

 http://kbbi.web.id/Batak-2
 
 
 
 


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.