Sulitnya Merubah Sikap: Pelajaran dari Calon Anggota DPR RI



Persoalan Dibalik Sulitnya Merubah Sikap

Sebenarnya saya tidak ingin menuliskan sikap calon anggota DPR yang ada di grup WA yang saya ikuti. Namun, karena isu itu menarik dan siapa tahu kisah itu bisa jadi pelajaran, saya menulis halaman ini.

Saya dan calon anggota DPR itu sama-sama anggota grup WA, grup yang dirancang bagi pendiri sebuah organisasi masyarakat yang bergerak di bidang budaya.

Sebelumnya, sudah diinformasikan bahwa grup tersebut hanya fokus membahas budaya atau yang berkaitan dengan budaya. Anggota grup tidak diizinkan mengirim postingan beraroma politik, mempromosikan partai atau mempromosikan diri dari partai apapun.

Ada kurang lebih 100 orang anggota yang bergabung di grup itu. Ada yang berprofesi sebagai pendeta dan pernah bertemu dengan Presiden Jokowi, politisi, dosen, penulis, guru, lawyer, pengusaha, dan lain-lain. Ada yang bergelar professor, Doktor, S2 dan banyak yang bergelar S-1.

Di fase awal berdirinya grup, salah seorang anggota menampilkan postingan bermuatan politik. Ia mempromosikan dirinya sebagai calon anggota DPR periode 2019-2024 dari partai tertentu.

Saya coba membaca link dalam postingan calon anggota DPR itu. Setelah saya baca, menarik melihat apa yang sudah ia lakukan. Bayangkan, ia peduli sama generasi millenial.

Ia mengajak generasi millenial agar melek politik. Ia mengajak pemuda untuk aktif menentukan arah pembangunan bangsa dan negara. Ia mendirikan beberapa perkumpulan masyarakat.

Dari segi pendidikan, ia sarjana, S1. Pernah ia bekerja di  perusahaan asing. Ia pernah belajar di Australia.

Beberapa anggota mengingatkan agar grup tidak digunakan untuk ajang politik atau promosi partai tertentu. Saya juga ikut memberi 'reminder' agar postingan berisi politik tidak disajikan.

Namun, calon anggota DPR itu tetap mengirim postingan beraroma politik.

Sulitnya merubah sikap- ini berkaitan dengan masalah pikiran.

Paling tidak, empat kali ia mengirim postingan beraroma politik dan setiap kali ia mengirim postingan demikian, anggota grup memberi reminder.

Dari kisah di atas, ada pelajaran bahwa tidak mudah merubah sikap. Sekilas, apalah susahnya mendengar dan melakukan nasihat dari anggota dari grup tersebut. Calon anggota DPR itu juga gagal menerapkan tindakan yang kelihatan kecil.

Mirip seperti putri saya, yang sulit memakan buah apel sekalipun sudah dipotong kecil-kecil. Berkali-kali dibilangin agar mau makan buah, tetap saja putri saya sulit melakukannya.

Bagi banyak orang, barang kali tidak sulit melakukan tindakan kecil. Namun, itu tidak selalu mudah dikerjakan orang lain. Ada masalah dalam pikiran.

Bagi calon anggota DPR itu, mungkin itu salah satu masalah yang tidak bisa ia pecahkan. Ia gagal mendengar dan melakukan nasihat beberapa anggota grup yang sudah memberi peringatan beberapa kali.

Dari 'track recordnya,' sekilas tidak sulitlah bagi calon anggota DPR itu untuk tidak mengirim postingan beraroma-politik. Namun, ia tidak mampu merubah sikap.

Tentu, calon anggota DPR itu tidak dapat dinilai dari satu insiden saja. Namun, orang bisa membuat kesimpulan sementara mengenai dia.

Orang bisa meragukan kemampuannya melakukan hal-hal yang lebih besar bagi publik lewat DPR nantinya karena mendengar dan melakukan nasihat dari grup kecil saja ia tidak mampu.

Tindakan merupakan refleksi kondisi pikiran. Tentu, tidak ada manusia biasa yang dapat membaca keadaan pikiran orang lain seutuhnya.

Namun, tindakan dapat menguak sebagian kondisi pikiran yang sesungguhnya. Bahkan Mencius berani mengatakan, "Dari matanya, kamu dapat melihat jiwanya."  

Apakah mudah meminta nasihat orang lain dan melakukannya? 'Guru' saya mengatakan, "Orang yang bijak, bila dinasihati, makin bijak." Bahkan hanya dengan memberi perumpamaan saja, orang bijak bisa merubah sikap; tidak harus menyebut kesalahannya agar ia berubah.

Namun, kalau sudah berkali-kali seseorang diingatkan dan tidak berubah juga, mungkin hanya tongkat yang bisa merubahnya.

Memang sulit merubah pikiran. Itulah persoalan mendasar Anda dan saya. Kita harus banyak mendengar nasihat Salomo, yaitu mencari hikmat, hal yang jauh lebih sulit dilaksanakan.  


Copyright 2009-2019 putra-putri-indonesia.com






Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.