Berpikir Rasionil, Apa Syaratnya?

Sopia: "Bagaimana agar bisa berpikir rasionil?"

Radot: "Ini pertanyaan menarik. Kita tidak selamanya bisa berpikir rasional. Pada situasi-situasi tertentu dan oleh karena faktor-faktor tertentu, kita tidak berpikir rasional. Apalagi kalau kita sudah emosi, akal sehat kita tersingkir. Namun, kita harus terus maju. Bila saat ini kita kurang rasional, tetapi di hari-hari mendatang kita harap kita lebih rasional. Kita tidak mengulangi apa yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2017."

Sopia: "Kalau terus terulang, kita tidak bakal maju?"

Radot: "Itu betul. Kualitas berpikir sebuah masyarakat menentukan masa depan dan kualitas kehidupan masyarakat itu juga. Semakin banyak masyarakat kita berpikir rasional, semakin besar peluang masyarakat kita untuk maju. Bila tidak, masyarakat dan bangsa kita akan ketinggalan bahkan bisa 'diperbudak' bangsa lain."

Sopia: "Saya tidak mau jadi budak orang lain dan bangsa lain."

Radot: "Agar kita dapat berpikir rasional, kita harus menjadi manusia yang sempurna."

Sopia: "Apa itu mungkin?"

Radot: "Secara teoritis, ini mungkin. Menjadi manusia sempurna adalah persyaratan untuk bisa berpikir rasional setiap saat. Ada orang beranggapan bahwa menjadi manusia sempurna itu berarti kita menyadari kesalahan-kesalahan kita dan terus memperbaikinya. Pandangan lain adalah kita harus menunggu sampai kita eksis di kehidupan berikutnya, yaitu ketika kita disempurnakan. Dengan kata lain, kita harus seperti Tuhan agar bisa berpikir rasional setiap saat. Kita berpikir seperti Tuhan berpikir."

Sopia: "Apakah mungkin berpikir rasionil setiap saat?"

Radot: "Secara teoritis, mungkin. Namun, dalam realitas kehidupan, kemungkinannya kecil. Sampai batas-batas tertentu kita masih bisa berpikir rasional. Ini tergantung berapa luas pengetahuan yang kita miliki. Kita tidak mungkin mengetahui semua prinsip dan hukum yang berlaku dalam alam dan hidup manusia. Itu tidak mungkin. Kalaupun ada orang yang mendapatkan kapasitas otak yang luar biasa, tidak cukup waktu bagi dia untuk memahami semua prinsip dan hukum alam dan hukum-hukum yang berlaku bagi manusia. Namun, kita punya kemungkinan mempelajari prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang utama."  

Pengetahuan yang Benar, Luas dan Dalam Adalah Syarat untuk Berpikir Rasionil

Sopia: "Jadi, ada kemungkinan orang bisa berpikir rasionil?"

Radot: "Sampai ke tingkat tertentu, ya. Pengetahuan yang luas dan dalam merupakan salah satu persyaratan untuk dapat berpikir rasional dan pengetahuan itu harus benar. Artinya, kita memiliki pengetahuan dan pengetahuan itu dari sumber-sumber yang benar dan dapat dipercaya. Bila sumber itu tidak benar, kecil kemungkinan kita dapat berpikir  rasional."

Sopia: "Kalau pengetahuan kita dari sumber yang benar, apakah selalu bisa menghasilkan pikiran  rasional?"

Radot: "Tidak juga. Ketika kita mempelajari pengetahuan dari sumber yang benar, belum tentu kita memahami pengetahuan itu. Tidak semua pengetahuan yang kita pelajari dapat kita mengerti. Ada 'gap' antara pengetahuan yang kita pelajari dengan pengertian kita terhadap pengetahuan itu. Kita bisa saja merasa sudah tahu, tetapi faktanya kita tidak mengetahuinya. Masih ada proses dari pengetahuan yang dipelajari menjadi pengetahuan yang dimengerti dengan benar. Kalau kita tidak memahami pengetahuan itu (mengerti) dengan benar, kita tidak bisa masuk ke tahap berikutnya, yaitu menerima pengetahuan itu. Pikiran akan mengolah pengetahuan itu sedemikian rupa sehingga ada peluang untuk memahaminya dan kemudian menerima pengetahuan itu sebagai kebenaran. Kalau kita sudah memahami pengetahuan itu, kita mungkin bisa menerima pengetahuan itu sebagai kebenaran.

Kita bisa saja memahami pengetahuan berdasarkan fakta-fakta yang benar, tetapi kita tidak selalu bisa menerimanya. Banyak fakta yang benar bisa disajikan kepada kita, tetapi kita tidak dapat menerima kebenaran dari fakta-fakta itu. Walaupun pengetahuan itu kita katakan benar berdasarkan fakta yang benar, kita belum tentu bisa menerimanya.

Bila kita sudah bisa menerima pengetahuan itu sebagai kebenaran, tahap berikutnya adalah melakukan pengetahuan itu. Pengetahuan bisa dalam bentuk instruksi, perintah, kisah, atau yang lain. Ini salah satu proses yang paling sulit dari semua proses yang sudah saya sebutkan. Kita bisa sampai ke tahap menerima pengetahuan sebagai kebenaran, tetapi kita tidak selalu mampu melakukan pengetahuan itu."

Sopia: "Di mana kita menemukan sumber yang benar?"

Radot: "Ini pencarian yang serius. Orang-orang yang punya niat untuk mencari pengetahuan kemungkinan besar akan menemukannya. "Carilah maka kamu akan menemukan; ketuklah maka pintu akan dibuka; mintalah, maka kamu akan menerima." Ini prinsip dalam mencari pengetahuan. Jadi, berpikir rasional merupakan sebuah pencarian yang terus menerus dalam kehidupan dan ini membutuhkan komitmen. Bila tidak, kita tidak akan menemukan pengetahuan itu dan konsekuensinya, kita tidak bisa berpikir rasional 'most of the time'."

"Pengetahuan yang luas dan dalam adalah prasyarat untuk berpikir rasionil," pikir Sopia dalam hati.


Seminar: Thinking with Six Hats
       08.00 - 17.00, Jadwal Jakarta
       Kontak: 0813-1141-8800
       info@business-excellence-luminance.co.id


Apa Itu Berpikir Rasional?

Bagaimana Pola Pikir Berubah?


Copyright 2009-2017 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK

0813-1141-8800


JADWAL SEMINAR

Thinking wirth Six Hats

Six Habits of the Mind