Bagaimana Saya Tahu?

Bagaimana Saya Tahu

Setiap kali saya berbicara dengan ibu saya di masa lalu, ibu saya sering mengungkapkan falsafah-falsafah hidupnya. Misalnya ia mengatakan, "Sinuan tubu niumpat melus (ditanam tumbuh, dicabut layu).

Ada falsafah lain, "Risi-risi hata ni jolma lambok-lambok hata ni begu (kata-kata manusia mengganggu kata-kata Setan lembut)". Dan beragam falsafah lain yang ia ungkapkan dalam setiap percakapan kami.

Anda akan mendengar falsafah-falsafah orang lain- apakah ia orang tua, sahabat, teman bahkan pendeta, kiyai, influencer atau siapa saja. Apakah mereka tahu apakah falsafahnya benar atau tidak, mereka mengatakan falsafah-falsafah hidupnya.

Dan bila Anda mendengarnya, Anda mungkin mengingat atau menangkap makna falsafah itu saat itu. Bisa juga falsafah itu melintas kembali di pikiran Anda setelah lewat beberapa waktu.

Secara filosofis, bisa muncul pertanyaan, "Apakah falsafah orang lain betul?" Bagaimana saya tahu apakah falsafah orang lain benar?

Anda sendiri juga bisa menyanggah falsafah orang lain dan mengatakan bahwa falsafah orang lain salah berdasarkan asumsi Anda sekalipun asumsi Anda belum tentu benar.

Pada situasi-situasi tertentu, Anda bisa terpesona dan menerima falsafah orang lain kalau yang mengatakan falsafah itu adalah orang-orang yang penting.

Misalnya, Ompung Luhut, Menteri Kordinator Investasi dan Kelautan mengungkapkan falsafah tertentu. Mungkin Anda akan langsung menerima falsafah yang ia katakan.

Bila orang kaya mengungkapkan falsafah hidupnya, Anda mungkin menerimanya. Anda bisa terpukau dan menerima falsafah-falsafah yang dikatakan orang lain yang kelihatan hebat.

Misalnya, ada motivator hebat mengatakan, "Anda dapat menjadi orang sukses? Anda dapat menentukan jalan hidup Anda. Cukup Anda yakin pada diri Anda sendiri." Kalimat-kalimat itu bisa Anda terima bulat-bulat dan mengambil langkah-langkah konkrit untuk membuat diri Anda sukses.

Bagaimana Saya Tahu Apakah Falsafah Orang lain Benar?

Bagaimana kita tahu apakah sebuah prinsip atau falsafah benar? Bagaimana kita tahu bahwa pelajaran dari pengalaman kita benar?

Bagaimana kita tahu bahwa falsafah budaya lokal benar? Bagaimana kita tahu prinsip di balik sebuah kebijakan publik benar?

Pelajaran dari Bisnis

Ketika ada orang yang mau meminta konsultasi bisnis, saya selalu meminta untuk bertemu. Dengan bertemu, saya dapat mengenal calon klien dan mendapatkan informasi lebih banyak tentang bisnisnya.

Bila sudah bertemu dengan calon pemohon, saya melihat tampilan phisiknya, memperhatikan wajahnya, memperhatikan matanya, memperhatikan bibirnya dan melihat dokumen-dokumen terkait perusahaan dan proposal bisnis. Saya belajar dari Mencius bahwa lewat mata jiwa orang lain dapat diketahui.

Bila proposal bisnisnya menarik, saya masih melakukan 'due dilligence'. Dokumen-dokumen perusahaan dipelajari, 'track record' pekerjaan diperhatikan, dan rekening koranpun tidak lepas dari observasi dan banyak lagi data-data penting yang dipelajari.

Dari data-data ini, diperoleh banyak informasi mengenai proposal bisnis dan apakah layak dilanjut atau tidak. Apakah keputusan apakah Go atau No Go dapat dibuat?

attractive-woman

Bagaimana saya tahu? Lewat Pengalaman?

Mengetahui dan mempelajari hal-hal yang bersifat materi relatif mudah. Rasio mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan data, mempelajari, membandingkan, menganalisa dan membuat kesimpulan dari data-data.

Akal masih dapat membuat perkiraan tentang sosok calon mitra bisnis. Bahasa tubuh, tipe personalitas, bahasa wajah dan ucapan dapat digunakan akal untuk membuat kesimpulan sementara mengenai karakter seseorang.

Mengetahui apakah sebuah prinsip atau falsafah benar- ini tidak semudah membuat kesimpulan dari data yang bersifat materi. Bila mau mengetahui apakah sebuah prinsip atau falsafah benar atau tidak- dibutuhkan lebih dari sekedar observasi. Dibutuhkan acuan, kriteria atau standar.

Pengalaman

Salah satu standar yang digunakan untuk menilai sebuah prinsip atau falsafah adalah pengalaman. Setiap orang mempunyai pengalaman dan setiap orang mungkin dapat mengambil hikmah dari
pengalamannya.

Misalnya, Anda mempunyai pengalaman unik dan sangat mencekam. Anda berkisah apa yang terjadi dan secara kronologis Anda menuturkan apa yang Anda lakukan sehingga Anda lepas dari sebuah bahaya misalnya.

Dan pada akhir kisah, Anda mengatakan sebuah falsafah sebagai hasil dari pengalaman hidup Anda. Apakah falsafah Anda benar atau tidak, Anda sendiri barangkali belum tahu juga.

Tidak selalu benar pelajaran yang diambil dari sebuah pengalaman. Bisa saja benar bisa saja salah. Namun, ketika Anda mengungkapkan pengalaman Anda dengan jujur, tulus, dan antusias, yang mendengar bisa terpengaruh akan kisah Anda dan menerima falsafah yang Anda katakan.

Kita kadang atau sering mengatakan falsafah-falsafah yang tidak kita sadari benar atau tidak. Falsafah itu muncul saja dari pikiran ketika kita berkisah kepada orang lain.

Kita membuat sebuah pelajaran atau prinsip dari pengalaman kita sendiri. Kita membagikan pelajaran dari pengalaman itu. Namun, apakah prinsip dari pengalaman kita selalu benar? Apakah prinsip itu dapat dibuat jadi kriteria bagi orang lain?

Bagaimana kalau pelajaran dari pengalaman orang yang satu tidak sama dengan pelajaran dari pengalaman orang yang lain? Bila ada beberapa orang melewati peristiwa yang mirip, dan prinsip yang dipetik dari pengalaman berbeda, pelajaran mana yang benar?

Prinsip dari pengalaman mungkin kelihatan benar, tetapi ada pertanyaan, bagaimana kita mengetahui bahwa prinsip dari pengalaman itu benar?

Pengalaman tidak selalu dapat dijadikan sebagai kriteria untuk menilai sebuah prinsip atau falsafah. Misalnya, bagaimana kita tahu apakah Allah ada? Apakah ada surga? Apakah orang baik akan masuk surga?

Apakah hanya orang yang percaya kepada Yesus, yang mati di kayu salib, dikuburkan, dan bangkit dari kematian, yang akan hidup selama-lamanya?

Bagaimana kita menilai prinsip atau falsafah-falsafah hidup yang lebih tinggi? Apa yang menjadi acuan untuk menguji kebenaran dari sebuah prinsip atau falsafah? (JM)


Copyright 2009-2023 putra-putri-indonesia.com