Bagaimana Saya Tahu?

Bagaimana saya tahu apakah sebuah teori, prinsip atau falsafah benar? Bagaimana kita tahu bahwa falsafah budaya lokal benar? Bagaimana saya tahu prinsip di balik sebuah kebijakan publik benar?

Pelajaran dari pengalaman orang yang mau melakukan kerjasama bisnis dapat sedikit membantu.

Ketika ada orang yang mau meminta kerjasama bisnis, saya selalu meminta untuk bertemu. Dengan bertemu, saya dapat mengenal calon mitra bisnis dan mendapatkan informasi lebih banyak tentang bisnis yang mau dikerjakan bersama.

Bila sudah bertemu dengan calon mitra bisnis, saya melihat tampilan phisiknya, memperhatikan wajahnya, memperhatikan matanya (saya belajar dari Mencius bahwa lewat mata jiwa orang lain dapat diketahui), memperhatikan bibirnya dan melihat dokumen-dokumen terkait perusahaan dan proposal bisnis.

Bila proposal bisnisnya menarik, saya masih melakukan 'due dilligence'. Dokumen-dokumen perusahaan dipelajari, 'track record' pekerjaan diperhatikan, dan rekening koranpun tidak lepas dari observasi.

Dari data-data ini, diperoleh banyak informasi mengenai proposal bisnis dan  keputusan apakah Go atau No Go dapat dibuat.

Bagaimana saya tahu? Lewat Pengalaman?

Mengetahui dan mempelajari hal-hal yang bersifat materi relatif mudah. Rasio mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan data, mempelajari, membandingkan, menganalisa dan membuat kesimpulan dari data-data.

Akal masih dapat membuat perkiraan tentang sosok calon mitra bisnis. Bahasa tubuh, tipe personalitas, bahasa wajah dan ucapan dapat digunakan akal untuk membuat kesimpulan sementara mengenai karakter seseorang.

Mengetahui apakah sebuah teori, prinsip atau falsafah benar, tentu tidak semudah membuat kesimpulan dari data yang bersifat materi. Untuk membuat kesimpulan atau generalisasi dari data-data ini, observasi sangat penting.

Namun, bila mau mengetahui apakah sebuah teori, prinsip atau falsafah benar atau tidak- dibutuhkan lebih dari observasi. Dibutuhkan acuan, kriteria atau standar.

Pengalaman

Salah satu standar yang digunakan untuk menilai sebuah teori, prinsip dan falsafah adalah pengalaman. Setiap orang mempunyai pengalaman dan setiap orang mungkin dapat mengambil hikmah dari pengalamannya.

Kita dapat menarik sebuah pelajaran atau prinsip dari pengalaman kita sendiri. Kita membagikan pelajaran dari pengalaman. Namun, apakah prinsip dari pengalaman kita selalu benar? Apakah prinsip itu dapat dibuat jadi kriteria yang berlaku bagi orang lain?

Bagaimana kalau pelajaran dari pengalaman orang yang satu tidak sama dengan pelajaran dari pengalaman orang yang lain? Bila ada beberapa orang melewati peristiwa yang mirip, dan prinsip yang dipetik dari pengalaman adalah berbeda-beda, pengalaman siapa yang akan digunakan?

Prinsip dari pengalaman mungkin kelihatan benar, tetapi ada pertanyaan, bagaimana kita mengetahui bahwa prinsip dari pengalaman itu benar?

Pengalaman tidak selalu dapat dijadikan sebagai kriteria untuk menilai sebuah teori, prinsip atau falsafah. Prinsip dari pengalaman harus dibandingkan kepada otoritas yang lebih tinggi, yang dapat menguji kebenaran dari sebuah prinsip. (JM)


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Pentingnya Mata Kuliah Filsafat

Contoh Diskusi Filosofis