Batas Wilayah Rasio

Sejauh manakah 'wilayah' yang dapat dijelajahi akal? Apa batas wilayah rasio? Apakah akal dapat memasuki wilayah keyakinan? Apakah rasio dapat memahami realitas yang lebih tinggi seperti Sang Ilahi atau Tao dalam filsafat Lao Tse dari Tiongkok?

Kalau dijabarkan, apakah nilai-nilai moral, hak azasi manusia, kekekalan, dan kebenaran termasuk 'domain' akal? Apakah rasio dapat menentukan kebenaran sebuah falsafah, teori politik atau teori sosial masyarakat?

Di Barat, rasio merupakan penentu final. Panjang sejarahnya. Filosof Yunani, Socrates, merupakan pelopor ide ini dan ini terus dipertahankan dalam sejarah perkembangan filsafat di Barat.

Ide ini akhirnya mencapai bentuk yang matang dalam istilah yang disebut Paradigma Newton, yang merupakan kombinasi antara filsafat Descartes dengan filsafat Francis Bacon. Akal menjadi standar penentu kebenaran di Barat.

Dampaknya, kebenaran mengenai apapun ditentukan oleh akal. Lewat komunitas-komunitas keilmuan dan 'applied science,' (Engineering) akal menjadi 'wasit' kebenaran di berbagai bidang- apakah itu pendidikan, ekonomi, politik, dan bidang lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Hal-hal yang tidak mampu dicerna oleh akal disingkirkan; hal-hal yang bisa diterima oleh akal dipertimbangkan.

Apa batas wilayah rasio?

Tentu, akal dapat digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan dan 'applied science' semaksimal mungkin. Sampai batas tertentu, akal mampu memahami fenomena-fenomena alam dan lingkungannya.

Akal mampu menyelidiki, menemukan persamaan antara yang satu dan yang lain, membandingkan, mengklasifikasikan, bahkan meragukan. Bahkan akal dapat 'menjelajahi' hal-hal yang bersifat non-material seperti etika, musik dan kebenaran sampai batas-batas tertentu.

Akal telah berjasa dalam menemukan kebenaran dalam bidang ilmu pengetahuan. Hukum-hukum dalam ilmu pengetahuan ditemukan oleh akal manusia.

Akal berjasa dalam menguji hipotesa-hipotesa dalam ilmu pengetahuan dan menemukan hukum-hukum. Dalam pengambilan keputusan, tidak dapat diabaikan peran yang sangat besar dari akal.  

Ini karena alam merupakan 'domain' dari pada manusia. Manusia mempunyai tanggung jawab untuk mengelola, mengembangkan, dan menaklukkan alam. Manusia diberi tugas untuk menyelidiki dan menemukan apa yang tersimpan dalam alam. Namun demikian, apakah akal dapat menentukan arah dari ilmu pengetahuan?

Apakah akal dapat menentukan tujuan hidup manusia? Apakah akal mampu memahami eksistensi yang lebih tinggi sampai tuntas? Ke mana akal menemukan jawaban terhadap isu-isu mendasar manusia? Apakah manusia dapat bertanya kepada dirinya sendiri?

Batas Wilayah Rasio

Rasio tidak dapat dijadikan pegangan  alam segala hal termasuk tentang tujuan hidup manusia.

Apakah alam dapat memberi jawaban atas pertanyaan yang hakiki mengenai tujuan hidup manusia? Alam dan manusia bisa menjawab secara samar-samar. Ebit G. Ade memberikan nasihat untuk bertanya pada rumput yang bergoyang. Para filosof di Barat memilih akal sebagai 'wasit.' Namun demikian, apakah alam dapat menjadi pegangan? Apakah akal dapat dijadikan penuntun?

Alam tidak dapat menjawab persoalan-persoalan manusia. Manusia juga tidak dapat menjawab masalah-masalah manusia yang mendasar. Akal punya keterbatasan. Manusia memiliki keterbatasan. Pengetahuan manusia juga terbatas.

Satu-satunya opsi bagi manusia adalah mencari jawaban di luar dirinya. Manusia harus berpaling kepada eksistensi yang lebih tinggi dari manusia. Dalam filsafat Lao Tse, ini disebut Tao; bagi pengikut agama, Tuhan.    


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Tenang Benghadapai Kematian

Berpikir Filosofis

Belajar Berpikir