Falsafah Pajak Partai Demokrat
dan Partai Republik 

Falsafah Pajak

Saya bukan ahli pajak atau mempunyai data tentang penghasilan negara dari pajak. Namun, ada prinsip penting tentang pajak dalam kaitannya dengan hidup bernegara.

Setiap warga negara yang mendapat penghasilan wajib membayar pajak. Yang tidak mau membayar pajak boleh disebut warga yang tidak bertanggung jawab termasuk warga yang berusaha menutup-nutupi pajak yang seharusnya ia setor ke negara.

Berapa besar pajak yang diberikan oleh warga kepada negara- ini bisa menjadi bahan diskusi. Dan bagaimana realita besaran pajak dapat dilihat dari perbedaan falsafah antara Partai Demokrat dan Partai Republik di USA. Pertama saya akan sajikan falsafah pajak Partai Demokrat.

Falsafah Pajak Partai Demokrat

Partai Demokrat umumnya menerapkan pajak secara progressif sesuai dengan besar penghasilan. Pemerintah kita juga menerapkan pajak progressif. Semakin banyak penghasilan semakin besar tarifnya.

Yang berpenghasilan sampai dengan Rp50 Juta dikenakan tarif 5%; yang berpenghasilan lebih dari  Rp50 Juta sampai dengan Rp250 Juta dikenakan tarif 15%; lebih dari Rp500 Juta dikenakan tarif 25%.    

Selain menerapkan pajak progressif, Partai Demokrat cenderung menaikkan pajak. Mungkin karena dipengaruhi falsafah sosialis dari Karl Marx, partai ini memungut pajak relatif besar dari warga dan 

itu didistribusikan kembali kepada warga yang kurang menguntungkan dengan beragam program pemerintah. Ada pemerataan. Begitulah pandangan mereka.  

Pandangan ini sekilas kelihatan menarik. Mayoritas kita setuju kalau kehidupan orang yang dapat lebih baik. Ada kesejahteraan sosial.

Namun, orang miskin selalu ada. Ke mana pun kita pergi selalu ada orang susah; selalu ada orang malas.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah etis orang yang malas menikmati hasil kerja keras orang yang rajin lewat pajak yang dikutip oleh pemerintah?

Anda mungkin tidak setuju. Anda tidak rela memberikan uang Anda kepada orang-orang yang tidak layak mendapatkannya. Memberikan uang kepada yang tidak berhak menerimanya bukanlah tindakan yang bijak. 

Falsafah Pajak Partai Republik

Dalam hal pajak, Partai Republik biasanya tidak mau menaikkan pajak bahkan sering menurunkan tarif  pajak. Partai ini memilih menerapkan tarif pajak yang sama berapapun penghasilan seseorang. 

Dengan demikian, warga lebih leluasa melakukan sesuatu dengan penghasilannya. Apakah ia akan belanjakan atau investasikan- ini pilihan seseorang.

Bila orang mempunyai uang cukup, dan ia berpikir konservatif bahwa uang harus diinvestasikan dan menghasilkan, berbisnislah adalah opsinya.

Dengan diinvestasikannya uang dalam bisnis, maka roda ekonomi bergerak dan ini akan memberi efek domino kepada bidang lain.

Runtuhnya Kerajaan Karena Pajak yang Tinggi

Di zaman kuno ada satu kerajaan yang cukup besar, tetapi membebani rakyatnya dengan begitu banyak pajak.

Meminjam istilah di zaman sekarang, makan di restoran pun dikenai pajak, parkir mobil dikenain  'pajak,' memiliki mobil atau motor dikenai pajak, tanah dan bangunan dikenai pajak dan masih banyak lagi pajak yang diterapkan untuk berbagai transaksi bisnis di negeri ini. 

Ketika raja meninggal, pewaris tahta kerajaaan bertanya kepada para ahli yang bijaksana- apakah menaikkan pajak atau tidak.

Para ahli itu mengatakan agar raja tidak membebani rakyat begitu banyak kalau kerajaan mau tetap eksis dan rakyat mau melayani raja.

Pewaris kerajaan itu tidak mendengar nasihat para ahli yang bijaksana itu. Ia malah menaikkan pajak. Apa yang terjadi? Kerajaan itu pecah menjadi dua. 

Tarif Pajak Ideal: Sebuah Gagasan

Berapa tarif pajak yang patut diterapkan kepada warga? Tentu, ini perlu studi.

Yang jelas dibutuhkan uang untuk membangun infrastruktur, sarana, dan memelihara sarana yang ada dan membayar gaji para pegawai negeri sipil dan pekerja yang bekerja untuk negara dan pemerintah.

Kalau menurut penulis, tarif pajak paling tinggi adalah di angka 10%. 

Saya percaya kalau rakyat tidak dibebani beragam pajak apalagi pajak yang relatif tinggi, negeri ini akan lebih baik.

Dan akan lebih baik lagi kalau pajak yang dipungut dari warga digunakan dengan baik untuk membangun dan memelihara infrastruktur dan sarana-sarana yang mempermudah masyarakat untuk beraktifitas.

Falsafah Partai Republik mengenai pajak mungkin patut dipertimbangkan untuk diterapkan di republik ini. (JM)


Copyright 2009-2020 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Bagaimana Pola Pikir Berubah?

Pelajaran dari Kegagalan Barat. Apa yang salah?

Bagaimana Menangani Stress?


Butuh Pinjaman tanpa Jaminan? Minimal Rp20 Miliar