Ciri-Ciri Mediator Pendanaan yang Professional



Mediator Pendanaan

Tadi siang terjadi insiden yang tidak baik. Ada kesalahpahaman di antara mediator dengan Pihak Owner.

Informasi untuk pertemuan awal saya terima semalam. Dan sebelum pertemuan itu, biasanya saya meminta Pihak Owner- apakah owner langsung atau mediator- menjawab beberapa pertanyaan.

Dengan info yang singkat itu, saya sudah bisa meraba apakah ada funder yang bisa mendanai permohonan pendanaan atau tidak.

Pekerjaannya adalah supplai batubara ke salah satu perusahaaan negara. Lumayan besar nilainya; Rp80 Miliar. Sebelum pertemuan, sudah saya sampaikan kepada mediator bahwa pendana belum menerima pembayaran yang bersifat progress.

Tahulah, kalau pembayaran bersifat progress bisa tidak on-time. Ngga ada yang berani melawan perusahaan negara kalau ia tidak bayar tepat waktu.
Kalau tidak tepat bayar, supplier harus sabar menunggu.

Funder tidak mau pembayaran demikian. Maunya ada-uang-ada-barang, mengutip pepatah orang Minang. Saya katakan proposal pendanaan bisa dimasukkan melihat profil dari pembeli batu bara; siapa tahu ada peluang.


KONTAK
HP: 0813-1141-8800 (WA)
E-mail: business.excellence.luminance@gmail.com

PT. BUSINESS EXCELLENCE LUMINANCE
Gedung Menara Karya, 28th Floor
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5, Kav. 1-2
Kuningan, Jakarta 12950
(Terdaftar di DITJEN AHU ON-LINE)
http://www.ahu.go.id/pencarian/profil-pt


Mediator Pendanaan


Pihak owner datang dengan para mediator. Ada 10 orang. Katanya mereka pihak direksi, tetapi melihat tampangnya, ini mah mediator.

Ada yang rambutnya diikatlah; ada yang bajunya lusuh; pakai kaos tanpa kerah. Setahu saya, direktur atau direksi punya tata krama; ini tidak.

Saya lihat pesanan mereka. Yang datang 10 orang. Yang pesan minuman hanya 4 orang; tiga botol aqua mineral yang harganya Rp10.000 dan satu gelas kopi hitam, yang harganya Rp15.000.

Sudah kuduga kalau ini direksi-direksian, tetapi harus dilayani karena sudah janjian. Saya langsung bilang kepada mediatornya bahwa ini tidak akan berlanjut.

Benar. Informasi yang disampaikan ke pihak yang mengaku owner atau direksi itu tidak sesuai dengan apa yang saya sampaikan. Mereka kira bisa  langsung berbicara mengenai teknis pendanaan.

Pada hal, ada SOP  sebelum owner bisa bertemu pihak funder. Ada filter. Semua diverifikasi; ada cek dan recek. Tak ada ceritera ada pemohon bisa langsung ke funder sebelum diverifikasi.

Terjadilah apa yang telah saya prediksi. Saya menjelaskan SOP pendanaan. Saya bilang tak ada proposal bisa masuk ke funder sebelum diverifikasi. Saya jelaskan skema.

Pihak direksi-direksian tidak siap menerima sebab informasi yang diterima  mereka adalah bahwa proposal bisa langsung ditindaklanjuti.

3 Ciri Mediator Pendanaan yang Handal

Orang yang mengaku komisaris pun mulai emosi. Pesan yang saya sampaikan tidak bisa dipahami.

Sifat preman pun muncul yang sudah kuduga sebelumnya. Apalagi datang dengan bergerombol begini. Kalau yang datang bisa diajak diskusi atau komunikasi, masih ada peluang.

Sempat naik juga emosiku. Tahulah, saya masih asli orang Medan, bukan orang Solo. Seandainya mereka mau dengar, mungkin masih ada peluang dapat funder. Mereka tidak tahu ada minimal tiga potential funder.  

Agar insiden di atas tidak terulang, berikut beberapa nasihat bagi mediator. Pertama, pahami informasi yang disampaikan baik dari pihak funder atau project owner sebelum meneruskannya ke pihak yang terkait.

Kalau perlu, lakukan zoom meeting dengan kedua belah pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sayangkan sudah jauh-jauh datang dari Kalimantan, hasilnya nihil.

Kedua, katakan ya kalau ya; tidak bila tidak. Bila funder bilang tidak bisa mendanai, katakan tidak; kalau bisa, katakan bisa.

Jangan memberikan janji-janji manis kepada project owner agar mereka tidak kesal. Kalau mereka sudah bergerak keluar biaya.

Mereka akan keluarkan uang untuk beli tiket pesawat, biaya hotel, termasuk mengeluarkan biaya operasional yang recehan seperti pesan minuman di tempat pertemuan.

Ngga sopan duduk di restoran tanpa memesan minuman seperti teh serei. Malu dikitlah ngga pesan apa-apa di café sedangkan di café lampu menyala dan pemilik café harus bayar staff yang melayani tamu.

Mediator Pendanaan
Ketiga, tahan emosi gaes. Kita manusia. Orang Sumatera atau Kalimantan punya karakter berbeda dengan orang dari Jawa Tengah. Kalau orang dari Solo bisa tenang sekalipun dikritik; orang Medan bisa langsung kelihatan merah wajahnya kalau disentil.

Jangan gara-gara omongan sedikit yang meremehkan peluang transaksi menguap. Sayang, kan? Sudah ketemu pihak funder benar, tetapi gara-gara emosi akhirnya hilang kesempatan bertransaksi. Peluang dapat fee pun jadi sirna.

Anda pusing tujuh keliling lagi nyari funder baru. Ada biaya lagi kawan, bensin ke sana ke mari; bayar go-car atau gojek. Uang keluar lagi. Ngga ada yang gratis gaes. No money no business. (JM)




Butuh Mediator Pendanaan? Hubungi: 0813-1141-8800



Copyright 2009-2023 putra-putri-indonesia.com