Mengenal Allah, Mungkinkah?

Mengenal Allah

Dua puluh lima tahun lalu, saya menghadiri sebuah kelas Prolegomena, kelas-introduksi Teologi sebelum mempelajari mata kuliah Teologi yang lain.

Ada kira-kira 40 orang yang hadir dan kebanyakan adalah bergelar S-1. Sang dosen bertanya kepada kami. "Warna apa ini?" sambil ia menunjuk buku bersampul warna hitam.

Beberapa mahasiswa menjawab, "Hitam, Pak." "Salah. Ini warna merah," kata dosen meresponi jawaban mahasiswa. Para mahasiswa ketawa. Sang dosen pun bertanya kembali, "Bagaimana kamu tahu ini warna hitam?"

Dosen memberikan penjelasan tambahan dan mengatakan, "Siapa tahu kalian buta warna. Ini warna merah," kata dosen dengan berwibawa. Sang dosen bertanya kembali. "Ini warna apa?" sambil ia menunjuk buku yang sama.

Tak  seorang pun berani menjawab. Saya juga tak berani menjawab, tetapi penasaran apa yang akan dikatakan dosen selanjutnya.

Tulisan berikut ini adalah lanjutan dari kuliah malam itu, yang saya tulis dalam bahasa saya sendiri.




Mengenal Allah, Mungkinkah?

Mungkinkah manusia mengenal Allah? Mungkinkah kita memiliki pengetahuan tentang Allah? Mungkin. Mudah menjawabnya. Kita memiliki pengetahuan tentang Allah dari orang lain- pendeta, kiyai, ustad, orang tua, atau guru spiritual.

Kita juga memiliki pengetahuan tentang Tuhan dari sumber lain seperti buku terutama Kitab Suci, yang dapat dibeli di toko buku.

Selain itu, masih ada hati nurani sebagai 'tempat' 'sense of deity.' Ini dimiliki setiap pribadi bahkan orang-orang yang primitif sekalipun pun memilikinya.

Kita tahu ada Pribadi yang lebih besar dari diri kita sekalipun pengetahuan ini samar-samar. Paling tidak, kita dapat mengatakan bahwa kita memiliki ide tentang Allah.

Bagaimana kalau tidak ada sumber informasi tentang Allah? Bagaimana kalau Kitab Suci tidak ada? Ini imajinasi saja.

Mungkinkah kita mengenal Tuhan tanpa Kitab Suci? Apa pegangan untuk mengenal Allah? Pertanyaan ini kelihatan mudah dijawab.

Bagaimana kalau konteksnya adalah antara binatang dan manusia. Mungkinkah semut dapat mengenal manusia? Mungkinkah sapi dapat mengetahui siapa manusia?

Binatang tidak mungkin mengenal manusia. Semut atau sapi tidak dapat mengetahui manusia. Eksistensi yang lebih rendah tidak mungkin mengenal eksistensi yang lebih tinggi.

Binatang mempunyai insting. Kalau ia lapar, ia akan mencari makanan. Binatang juga memiliki insting untuk seks. Namun demikian, apakah ia memiliki tujuan hidup? Tidak.

Apakah ia dapat menikmati hubungan seks? Tidak. Apakah binatang dapat berpikir seperti manusia? Tidak. Binatang tidak mungkin mengenal manusia.

Kalaupun misalnya ada kemungkinan yang sangat kecil bagi semut untuk mengenal manusia, manusia harus berbicara lebih dulu kepada semut dan memberitahu kepada semut siapa manusia.

Manusia harus berbicara dalam bahasa semut. Jika komunikasi antara manusia dan semut tidak ada, tidak mungkin semut mengenal manusia.

Demikian juga antara Allah dan manusia. Agar manusia dapat mengenal Allah, Ia harus berkomunikasi dengan manusia. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia.

Ia memberi tahu manusia siapa diri-Nya. Bila Allah tidak memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, tidak mungkin manusia mempunyai pengetahuan tentang Allah.

Namun demikian, bagaimana Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia? Tidak ada cara lain kecuali ia menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Di zaman-zaman kuno, ia kadang hadir lewat mimpi; kadang ia hadir lewat penampakan dalam bentuk manusia; kadang ia hadir lewat angin yang sepoi-sepoi; kadang ia hadir lewat api; dan yang paling sering adalah lewat Firman yang ia berikan lewat manusia-manusia pilihan-Nya.

Ia mengambil inisiatif agar manusia dapat mengenal Tuhan. Bukan manusia, tetapi Allah mengambil inisiatif agar manusia dapat mengenal Allah.

Lewat penyataan ini, manusia mungkin mengenal Tuhan, mengetahui tujuan hidup manusia, dapat membedakan mana yang kebenaran mana yang bukan, dapat percaya bahwa ada akhir zaman, dapat mengetahui pengharapan manusia dan mengetahui arah budaya.

Manusia tidak bertanya kepada rumput yang bergoyang seperti kata Ebit G. Ade atau manusia mengandalkan akalnya seperti mayoritas orang di Eropah Barat dan Amerika Utara.

Manusia harus bersandar pada Allah yang mencipta dirinya untuk mengetahui siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya. (JM)

LINK TERKAIT:

Batas Wilayah Rasio

Berpikir Filsafat

Liang Kubur


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Bagaimana Meningkatkan Motivasi?