Menguasai Suami, Mengapa Cenderung Terjadi pada Isteri

Menguasai Suami

Bila ada tugas suami yang sangat berat dalam keluarga adalah menguasai isteri. Suami dapat berjaya di medan perang, tetapi ia bisa tak berkutik di rumah. Suami dapat berkuasa di kantor dan memimpin ribuan pekerja, tetapi ia tidak dapat mengendalikan isterinya.

Apakah suami sebagai Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Jenderal, CEO, Direktur, Manager dan sebagai pimpinan di institusi masyarakat, ia tidak selalu dapat menguasai isterinya.

Ini dapat terjadi pada isteri yang tipe personalitasnya adalah Kolerik. Ini dapat terjadi dalam diri seorang wanita yang sukses dalam karir atau pada isteri yang memiliki jabatan seperti Direktur atau CEO dalam perusahaan.

Sosok-sosok isteri yang menguasai sang suami dapat dilihat dalam diri Isebel, isteri Raja Ahab. Ini dapat juga dilihat dalam diri Mary Todd, isteri Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat.

Dalam keadaan tertentu isteri takluk kepada suami seperti isteri yang tidak punya pekerjaan, isteri yang lemah, isteri yang takut kepada suami yang berbadan kekar dan kasar. Banyak juga isteri yang tunduk karena alasan hati nurani dan tekanan tradisi masyarakat lokal. Namun, merupakan natur alami seorang isteri untuk menguasai sang suami.

Menguasai suami adalah penyakit keturunan.

Bila ada isteri mau menguasai suami, Anda tidak perlu kaget. Isteri yang mau menguasai suami adalah penyakit keturunan. Penyakit ini sudah eksis ribuan tahun dan diturunkan kepada setiap perempuan.

Bila asal usulnya ditelusuri, ini muncul sejak Adam dan Hawa melanggar perjanjiannya dengan Sang Ilahi. Sang ilahi memberi peritah untuk tidak memakan buah pohon yang ada di tengah taman Eden, tetapi Adam dan Hawa memakannya. Salah satu akibat pelanggaran ini adalah ambisi isteri untuk menguasai suami.

Hawa iri hati kepada Adam yang diberi mandat untuk memimpin dan berkuasa atas keluarga. Hawa tidak rela melihat suaminya berkuasa.

Yang menarik adalah bahwa penyakit ini dikatakan langsung oleh Sang Ilahi kepada Hawa. "Engkau akan berahi kepada suamimu," begitu kata Sang Ilahi kepada Hawa.

Bahwa suami berkuasa atas isteri adalah mandat Sang Ilahi, yang tidak boleh diambil alih oleh isteri.

Dalam perjalanan waktu, Hawa mengalami transformasi hati dan pikiran. Ketika Set, anak Adam pengganti Habel, lahir, karakter Hawa sudah berubah. Karakternya tidak lagi seperti pada masa awal pemberontakan Adam-Hawa terhadap Sang Ilahi. Hawa takut dan hormat kepada Tuhan dan sebagai produknya, ia tunduk dan hormat sama suaminya. Tidak diketahui setelah berapa lama ini terjadi; mungkin setelah ratusan tahun.

Bagaimana agar suami dapat menguasai isteri? Ini bukan perkara mudah. Siapa yang bisa mengubah hati seorang isteri? Suami bisa saja mampu memberikan kebutuhan phisiknya, tetapi merubah hatinya- suami tak punya kemampuan.

Mengenali masalah ini merupakan langkah awal untuk restorasi keluarga. Laki-laki (suami) adalah kepala dan perempuan (isteri) tunduk kepada kepala (suami). Itu prinsip dari 'Langit.'(JM)


Copyright 2009-2018 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Bagaimana Saya Tahu?

Bagaimana Sikap radikal Muncul?

Pandangan tentang Kerja yang Menuju Kemakmuran