Menelusuri Sistem Pemikiran Ompu i Nommensen



Sistem Pemikiran Orang Batak

Salah satu faktor-penting yang mengakibatkan kondisi dan budaya masyarakat Batak saat ini  adalah sistem pemikiran (worldview) orang Batak.

Tentu, masih ada faktor-faktor lain: natur manusia, falsafah dan keyakinan orang Batak sebelum, saat dan sesudah era Nommensen, pendidikan, pertemuan orang Batak dengan budaya non-Batak denqan budaya luar, khususnya budaya Barat dan kebijakan pemerintah pusat dan daerah di tanah Batak.

Di halaman ini, hanya satu faktor yang mau  ditelusuri, yaitu sistem pemikiran Ompu i Nommensen, yang dianggap peletak utama sistem pemikiran orang Batak.

Karena keterbatasan sumber, 'warna' pemikiran Nommensen tidak mudah ditelusuri. Sekalipun Jonathan T. Nommensen menulis biografi berjudul Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, buku itu tidak banyak mengungkap 'warna' pemikiran Nommensen, tetapi mengulas pelayanan dan pergumulan missionarisnya di Tanah Batak.

Sumber lain yang bisa jadi referensi adalah konfessi gereja-gereja Batak, liturgi gereja, dan Buku Ende. Hasil-hasil rapat elit orang Batak di era Nommensen bisa juga dikaji untuk mengenal lebih dekat 'warna' pemikiran ni Ompu i.

Saya tidak mengulas konfessi, Buku Ende, liturgi dan hasil rapat para elit orang Batak, tetapi melihat jauh ke belakang, yaitu situasi ketika Nommensen hidup  di Jerman.

Sistem Pemikiran Sebagai Fondasi Tindakan

Penelusuran saya mulai dari Badan Zending Barmen. Seperti diketahui, yang mengirim Nommensen ke tanah Batak adalah Badan Zending Barmen, tetapi informasi tentang pengakuan iman badan ini juga tidak banyak diketahui.

Jadi, saya menelusuri 'warna' pemikiran gereja dan gerakan yang muncul di Jerman. Inilah yang bisa menguak sebagian sistim pemikiran Nommensen sebelum ia tiba di tanah Batak. 

Apa yang terjadi di Jerman sebelum Ingwer Ludwig Nommensen tiba di Tanah Batak? Nommensen lahir tanggal 6 Februari 1834 di pulau kecil bernama Noordstrand di Laut Utara. Gereja-gereja di Jerman pada saat itu didominasi oleh Teologi Lutheran atau Lutheranisme.

Lutheranisme umumnya mengadopsi Book of Concord sebagai konfessi utama gereka-gereja Lutheran. Book of Concord terdiri dari Ausburg Confession dan Apology yang dirancang Philipp Melanchton, katehismus besar dan kecil dari Luther dan dokumen-dokumen penting lain di lingkaran Lutheranisme.

Pengikut-pengikut Lutheranisme bervariasi di kemudian hari. Munculnya variasi ini barangkali karena kurang kokohnya sistem pemikiran Lutheranisme yang berkembang di kemudian hari. Bisa jadi Calvinisme, yang muncul 25 tahun kemudian, sebagai koreksi terhadap sebagian kelemahan Lutheranisme.

Dapat dikatakan bahwa Lutheranisme dan Calvinisme adalah saudara dalam lingkaran Protestan (Reformasi). Baik Luther maupun Calvin menuliskan ide-ide Reformasi berdasarkan karya-karya sosok bernama Agustinus yang hidup di abad ke-4 dan ke-5.

Namun, Calvin meletakkan dasar sistim pemikiran Kristen yang lebih ketat bahkan yang paling ketat lewat karyanya yang agung, Institutes of the Christian Religion. 

Bila Lutheranisme, meminjam nama Luther, berkembang di Jerman dan negara-negara Scandinavia (Swedia, Denmark, Norwegia, Finlandia dan Iceland); Calvinisme berkembang di Swiss, Inggris, Belanda, dan Scotlandia, yang dibawa oleh murid-murid John Calvin seperti John Knox dari Scotlandia.

Dari Swiss, Inggris, Belanda, dan Scotlandia, Calvinisme kemudian menyebar ke Amerika Serikat.     

Namun, ada gerakan lain yang mempengaruhi gereja-gereja Lutheran di Jerman, yaitu Pietisme yang dimulai oleh Pendeta Lutheran bernama Philip Spener tahun 1675.

Pengaruhnya tidak hanya muncul di Jerman, tetapi juga sampai ke Inggris, Belanda, Scotlandia dan Amerika. Sebagian pengikut Calvinisme pun seperti Cotton  Mather juga dipengaruhi  oleh Pietisme termasuk John Wesley, Johann Sebastian Bach dan Georg Friedrick Handel.

Salah satu ciri kelompok  Pietisme adalah hidup saleh. Mereka banyak menekankan pengalaman rohani. Tanda-tanda kesalehan dianggap sebagai bukti sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.

Karena banyak penekanan pada pengalaman, pengikut Pietisme cenderung kurang memberi perhatian pada rasio. Diskusi-diskusi yang banyak menggunakan akal seperti Filsafat kurang diminati. Dunia politik dan dunia ilmu pengetahuan dianggap dunia sekuler.

Namun demikian, Kaum Pietisme memberi perhatian yang besar pada penginjilan, pendidikan dan kehidupan para janda dan anak yatim piatu.

Dari sistem pemikiran gereja dan gerakan yang muncul di Jerman dapat diperkirakan bahwa Lutheranisme dan Pietismelah yang membentuk sistim pemikiran Nommensen.

Sampai akhir dekade 70-an, ciri-ciri Pietisme ini masih bisa dilihat pada elit agama orang Batak seperti cara  berjalan, bagaimana memegang Bibel dan Buku Ende dan cara bicara. Sedikit para pendeta kelihatan tertawa terbahak-bahak seperti orang mendengar lawak si Jurtul dan Si Sakui Sahitna.
                                                                                                                                                                                                      
Kondisi spritual orang Batak, kondisi Kawasan Danau Toba  dan budaya Batak saat ini hanyalah beberapa indikasi bahwa warisan Nommensen termasuk semangat missionarisnya sudah meredup di kalangan orang Batak.

Kapan warisan Nommensen pudar dan apa yang mempengaruhinya bisa jadi renungan bagi orang Batak. 


Copyright 2009-2019 putra-putri-indonesia.com






Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Berapa Lama Bahasa Batak Bisa Bertahan?

Asal Usul Somba Marhula-Hula