Diskusi Filsafat (Filosofis): Tips

Pentingnya Diskusi Filsafat

Salah satu diskusi yang kurang dilakukan di komunitas atau masyarakat adalah diskusi filsafat. Maksud saya, bukan diskusi tentang aliran filsafat tertentu seperti filsafat Thomas Aquinas, Hegel, Immanuel Kant, Nietze atau tokoh-tokoh filsafat lain. Bukan ini maksudku, tetapi berdiskusi secara filosofis.

Ini barangkali asing bagi Anda. Sedikit orang yang bersentuhan langsung dengan Filsafat secara formal sekalipun dalam kehidupan kita berfilsafat. Kita membicarakan hidup, kematian, keadilan, kebenaran, etika, musik, dan lain-lain. Namun, hanya mereka yang pernah kuliah di Jurusan Teologi, Filsafat, Hukum, Politik, Sosial, mencicipi mata kuliah ini. Mahasiswa yang mengambil program S2 juga kemungkinan besar merasakan kuliah ini.

Di pelajaran Filsafat, umumnya, diajarkan apa defenisinya, bagaimana berfilsafat, bagaimana kita tahu, kebenaran, kematian, etika, dan lain-lain. Mungkin dibahas juga nama-nama filosof penting dengan filsafatnya. Namun, di halaman ini, hanya satu hal yang akan ditekankan, yaitu bagaimana memulai sebuah diskusi filosofis atau diskusi filsafat.

"Filsafat adalah ilmu yang mencari bijaksana atau kebenaran."

Untuk memberikan sekilas pengertian tentang apa itu Filsafat, Filsafat adalah ilmu yang mencari bijaksana atau kebenaran. Berbeda dengan Teologi yang pada dasarnya sudah memiliki kebenaran, Filsafat tidak. Orang yang belajar Filsafat berusaha menemukan kebenaran, yaitu prinsip dalam berbagai isu dalam kehidupan manusia. Kita mencari kebenaran dengan menggunakan akalnya. Kalau Teologi dari 'Atas'  ke 'bawah,' maka Filsafat dari 'bawah' ke 'Atas.'

Karena kebenaran merupakan inti dari pencarian filosofis, maka dalam diskusi filsafat akan muncul pertanyaan-pertanyaan seputar topik pembahasan. Misalnya, yang dibahas adalah tentang kematian. Kematian merupakan berpisahnya jiwa dari tubuh. Namun, apakah jiwa dan tubuh bersatu kembali di satu waktu? Setelah orang mati, apakah suatu saat ia akan menjelma kembali (reinkarnasi) menjadi mahluk lain? Apakah ada kehidupan setelah kematian? Apa ingatan terbawa ke dunia lain setelah kematian? Isu-isu terkait dengan kematian dibahas secara filosofis; kebenaran dicari.

Ketika Anda ikut serta dalam diskusi filsafat, Anda akan berhadapan dengan beragam pendapat dan pendapat-pendapat itu mungkin berbeda dengan pemahaman Anda sendiri. Di sini bisa terjadi perdebatan dan tidak jarang emosi menjadi tidak seimbang karena perbedaan pandangan ini.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa. Meminjam istilah dari Edward de Bono, ini adalah 'clash of thinking pattern'. Pola pikir, menurut de Bono, adalah akumulasi informasi yang diterima dan pola ini terbentuk dalam kurun waktu yang panjang. Pola bisa menjadi seperti batang pohon atau arus sungai, yang tidak mudah ditebang atau dibelokkan. Jadi, ketika dua orang  atau lebih berdiskusi dengan pola atau 'mind-set' yang berbeda, bisa muncul perdebatan. Ego pun bisa terusik karena beragam faktor seperti keyakinan, status sosial atau senioritas dan yang lain.

Tips Diskusi Filsafat

Untuk menghindari Anda dari sikap yang emosional dan tetap mau berdiskusi, saya sajikan tips berikut. Ini, tentu, tidak menjamin bahwa Anda langsung bisa bersikap matang dalam diskusi filsafat. Kematangan tidak terjadi dalam sekejap. Namun, tips ini, saya harap, bisa menolong Anda.

Pertama, bersikap "open mind." Hati-hati dengan istilah ini. Istilah ini seolah-olah Anda bisa dengan mudah membuat pikiran Anda 'On-Off.' Anda bukan robot. Anda dituntun oleh pikiran Anda. Sulit memiliki pikiran terbuka. Pada kondisi tertentu, pikiran tetap tertutup. Pikiran bisa dikunci atau dipenjara oleh pola pikir atau asumsi-asumsi yang terbangun selama usia Anda. Ucapan dan tindakan merupakan refleksi dari 'mind-set' yang terukir dalam pikiran dan ini sulit dirubah dalam waktu yang singkat. Lagi pula, perubahan 'mind-set' yang mendasar butuh kekuatan yang luar biasa.

Kelemahan dari 'open mind' ada juga, yaitu bahwa suatu saat Anda bisa meragukan apa yang telah Anda yakini karena pikiran Anda menerima pengetahuan baru. Bila selama ini Anda merasa benar dan karena nasihat 'open mind' ini, Anda bisa terseret ke pemikiran yang salah. Ada kemungkinan Anda mendapatkan pemikiran yang kelihatan benar oleh karena kurang informasi atau ketidaktahuan Anda. Atau Anda tidak memahami makna dari pernyataan-pernyataan yang Anda terima oleh karena kata-kata yang digunakan cukup sulit dipahami. Masih ada lagi kemungkinan pikiran  Anda membuat interpretasi sendiri terhadap pernyataan yang Anda dengar, yang mungkin berbeda dengan makna asli.

Dampak lain dari bersikap 'open mind' adalah Anda meragukan keyakinan Anda selama ini karena pikiran Anda mendapat iluminasi. Sesuatu terjadi dalam pikiran Anda di luar kontrol Anda; pemikiran yang Anda terima merubah Anda. Anda mendapatkan inspirasi dan status pikiran Anda berubah total. Ada perasaan yang benar-benar baru, yang tidak pernah Anda rasakan sebelumnya. Ini bisa terjadi. 

Kedua, singkirkan sikap emosional. Diskusi filsafat adalah menemukan kebenaran atau bijaksana. Bila teman diskusi Anda bertanya kepada Anda dan Anda tidak bisa menjawab, Anda bisa tersudut. Besar kemungkinan asumsi-asumsi dasar Anda tidak sekokoh yang Anda duga. Ketika Anda bertemu dengan teman diskusi yang mempunyai 'system of truth' yang kokoh dan terstruktur, Anda bisa terpojok oleh karena pernyataan-pernyataan atau pemikiran yang menyudutkan pemikiran Anda. Anda merasa pemikiran Anda lemah dan merasa pemikiran teman diskusi Anda kuat, tetapi Anda tidak bisa menerima. Anda seperti dikalahkan, tetapi Anda tidak siap mengakui. Bila Anda tersudut, Anda bisa kesal bahkan marah. Ini kadang atau sering tidak terelakkan. Pemikiran yang diterima pikiran tidak dapat dipisahkan dari emosi. Ego Anda terusik. Bila ada bagian dari diri Anda terusik, Anda bisa tersinggung bahkan marah.

Agar Anda tidak terkesan tersudut, kesal atau marah, gunakan senjata untuk melindungi diri Anda, yaitu tips berikutnya.

"Bila Anda berhenti bertanya, Anda berhenti
jadi filosof."

Ketiga, bertanya. Inilah senjata yang ampuh dalam diskusi filsafat. Anda tidak perlu kuatir atau takut bila Anda tidak banyak tahu tentang filsafat. Sekalipun Anda pemula dalam filsafat dan belum pernah mendengar nama-nama seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Confucius, Mencius, Agustinus, Thomas Aquinas,  Immannuel Kant, Hegel,  dan yang lain, Anda tidak usah pusing. Anda bisa berlagak seolah-olah filosof professional dengan menggunakan senjata yang ampuh ini. Anda cukup bertanya dengan lihai; gunakan kata tanya apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa dengan baik. Berfilsafat, pada intinya, adalah bertanya. Bila Anda berhenti bertanya, Anda berhenti jadi filosof. Dengan kecakapan ini, Anda  menciptakan iklim yang baik untuk berdiskusi filosofis.

Semoga tips yang singkat ini bisa jadi modal awal untuk berdiskusi filsafat, diskusi yang bisa menuntun Anda menjadi manusia yang lebih matang. Mendapatkan bijaksana sangat berguna bagi kehidupan Anda. Lagi pula, menjadi filosof, sekalipun amatiran, membuat Anda menjadi orang yang lebih serius menghadapi hidup. Anda mulai memikirkan tujuan hidup yang bermakna; tidak lagi terseret oleh berbagai aktfitas yang tidak jelas tujuannya. 

Renungan:

  1. Pergilah ke toko buku dan belilah satu atau dua buku Filsafat. Kalau masih ada, belilah buku Sophie's World, yang ditulis oleh Jostein Gaarder, buku yang memberikan sekilas perjalanan pemikiran filsafat selama 24 abad. Bukunya termasuk 'Best Seller.'
  2. Berlatihlah menggunakan kata tanya. Seringlah menyisipkan itu dalam pembicaraan Anda dengan orang lain.(JM)



Copyright 2009-2017 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

KONTAK
0813-1141-8800

Pentingnya Mata Kuliah Filsafat bagi Mahasiswa

Bagaimana Pola Pikir Terbentuk?

Bagaimana Pola Pikir Berubah?

Bagaimana Mencegah Stress?