Manusia Sebagai Fokus Pendidikan

Apa fokus pendidikan kita sekarang? Secara umum, alam menjadi titik sentral pendidikan; alam menjadi tujuan. Manusia menjadi "budak" dari alam; ilmu, teknologi dan dan hal-hal yang bersifat pragmatis termasuk uang mengambil tempat paling penting. Pendidikan yang berpusat pada manusia semakin tersingkir.

Ini tidak lepas dari sosok yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, John Dewey. Ia tokoh pendidikan Amerika Serikat pada awal dan pertengahan abad ke-20 dan menggulirkan konsep pragmatisme. Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah penyesuaian pribadi yang bertumbuh terhadap lingkungannya (education is "adjusment of the growing personality to its environment). Ia membuat lingkungan menjadi pusat pendidikan. Bagi Dewey, manusia harus disesuaikan terhadap lingkungannya tanpa menyebut defenisi "lingkungan" (environment) secara jelas."

Para elit pendidikan negeri ini menyelipkan pikiran John Dewey dalam Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lebih jelas itu diselipkan dalam pasal 15. Pada pasal ini tertulis, "Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, falsafah pragmatisme masih kental sekalipun dalam undang-undang itu tidak disebutkan secara vulgar. Namun, dalam praktek sehari-hari, pikiran John Dewey-lah yang
dominan.

Manusia adalah mahluk yang paling penting dari seluruh yang dicipta; manusia seharusnya menjadi fokus pendidikan.

Ini sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bahkan dalam pandangan agama-agama dari Timur, yang dianggap sebagi agama monoteisme, manusia merupakan sosok yang sentral dalam penciptaan. Segala sesuatu dicipta untuk manusia. Tuhan mencipta terang, cakrawala, laut, darat, semua jenis tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan, bintang, semua mahluk hidup di laut seperti ikan, dan di darat, dan segala jenis burung di udara. Dan terakhir, Ia mencipta manusia.

Manusia adalah mahkota dari seluruh ciptaan. Ia pusat dari alam semesta.

Segala sesuatu sudah disediakan sebelum manusia eksis di bumi. Bahkan taman yang indah, Taman Firdaus pun, disiapkan untuk mereka sehingga pasangan suami-isteri pertama dalam sejarah manusia tidak perlu bersusah payah mencari kebutuhan hidupnya.

Bukan hanya sebagai mahkota dari seluruh ciptaan, manusia diberi tugas untuk menguasai seluruh ciptaan- mulai dari ikan-ikan yang ada di laut dan burung-burung di udara, dan semua mahluk yang bergerak di bumi. Seluruh alam semesta ada dalam kekuasaan manusia.

Sangat ironis melihat dunia pendidikan kita. Manusia bukan sosok yang paling penting dalam dunia pendidikan. Manusia bukan fokus pendidikan, tetapi yang menjadi fokus adalah uang, keuntungan, kurikulum dan berbagai hal lainnya yang termasuk dalam kategori alam. Falsafah Pragmatisme dari John Dewey-lah yang dominan dalam dunia pendidikan, falsafah yang berlawanan dengan Pancasila.

Link Terkait

Menilai Tinggi Kecerdasan Melalui Pendidikan

Beberapa Tujuan Pendidikan yang Pernah Muncul dalam Sejarah

Manusia Sebagai Fokus Pendidikan

Tanggung Jawab dan Peran Orang Tua dalam Pendidikan

Tujuan Pendidikan Nasional

Kecakapan Dasar yang Anda Perlukan untuk Berkiprah di Dunia Kerja

Melatih Pikiran dengan Membaca

Mata Kuliah Filsafat: 'Nutrisi' untuk Pikiran

Akibat Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Kapan Masa Berlaku Sebuah Gelar Akademis?

Jangan Pernah Berhenti Belajar


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.