Kapan Masa Berlaku Sebuah
Gelar Akademis?

Kapan masa berlaku gelar akademis? Itulah pemikiran yang terlintas ketika saya beserta kurang lebih 4200 orang menyaksikan acara wisuda mahasiswa hari Minggu lalu. Kurang lebih 20 mahasiswa diwisuda. Ada yang bergelar S1; ada yang bergelar S2.

Secara umum, tidak ada batas masa berlaku sebuah gelar. Tidak seperti Surat Izin Mengemudi (SIM), yang hanya berlaku selama lima tahun, kemudian harus diperbaharui, prediket gelar sarjana (bagi lulusan perguruan tinggi) melekat pada seseorang selama orang itu hidup.

Jadi, memiliki gelar dan menaruhnya di depan atau di belakang nama sah-sah saja. Siapa saja yang telah menyelesaikan studi akademis dan mendapat gelar, ia bisa membubuhkan gelar tersebut pada namanya.

Yang menjadi isu adalah kalau penyandang gelar tidak lagi menekuni bidang ia pelajari di kampus.

Misalnya, apakah seorang lulusan Teknik Elektro masih berhak menyandang gelar Sarjana Elektro pada hal ia tidak lagi menekuni bidang tersebut? Apakah menyandang gelar Sarjana Elektro masih layak padahal ia sekarang sudah menjadi pengusaha yang bergerak di bidang makanan misalnya? Apakah masih pantas membubuhkan gelar kesarjanaan (Ir, Drs., S.H. dll) pada namanya pada hal ia tidak lagi menekuni bidang kesarjanaannya?

Marilah kita selidiki sepintas bagaimana suka duka meraih sebuah gelar. Meraih gelar jelas membutuhkan pengorbanan: waktu, uang, energi dan berbagai duka selama di bangku kuliah. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan gelar S1 misalnya, minimum 4 tahun; S2, kurang lebih 2 tahun; S3 bisa sampai 4 tahun. Selama itu, mahasiswa harus menghadiri kelas, harus membaca buku referensi yang diajurkan dosen, dan mengambil ujian mid semester dan ujian akhir. Masih ada tugas-tugas tambahan termasuk menulis 'paper'.

Bagi mahasiswa yang menulis tesis sebagai salah satu persyaratan mendapat gelar, tesisnya harus diuji oleh dosen tim penguji. Bila semua mata kuliah, tugas-tugas, dan tesis berjalan lancar, ia akan dinyatakan lulus. Ia diwisuda dan ijazah diberikan sebagai pertanda bahwa ia layak menyandang gelar akademis.

Setelah mendapatkan gelar, apakah penyandang gelar masih mengalami proses belajar? Bagi mereka yang melanjut kuliah untuk meraih gelar yang lebih tinggi, proses belajar tentu tidak berhenti.

Bagi mereka yang memilih bekerja setelah kuliah, ada beberapa kemungkinan.

Pertama, ada yang terus belajar sekalipun tidak lagi kuliah.

Ia mungkin mempelajari topik lebih spesifik yang relevan dengan bidang kesarjanaannya atau ia mempelajari sesuatu yang baru yang berbeda dengan bidang kesarjanaannya atau ia mempelajari sesuatu yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan yang sedang digeluti.

Kedua, penyandang gelar sama sekali tidak lagi belajar.

Ia tidak lagi menyentuh buku apapun termasuk buku yang ia pelajari di kampus. Rutinitas pekerjaan 'memenjara' kehidupannya sehari-hari. Minat belajar hilang dengan berakhirnya era kampus. Waktu di luar kerja hanya digunakan untuk keluarga atau aktifitas lain kecuali belajar. Ini contoh ekstrim dan barangkali sangat kecil probabilitasnya.

Bagaimana orang yang menyandang gelar, tetapi tidak lagi menekuni bidang kesarjanaannya? Masihkah ia layak menyandang gelar yang ia raih dari kampus?

Seperti sudah dijelaskan di atas, ia masih layak. Tetapi, secara substansi, bagaimana? Kapan masa berlaku sebuah gelar akademis?

Ada yang mengatakan bahwa gelar doktor yang diraih hanya berlaku selama 4 tahun sejak diwisuda kalau ia tidak lagi melakukan studi atau menulis makalah atau artikel pada topik yang sama.

Mungkin bisa dikatakan bahwa gelar hanya sah pada waktu seseorang diwisuda. Lewat hari wisuda gelar tidak lagi valid. Hanya pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya bila ia masih menekuni bidang yang ia pelajari di kampus, gelar akademis-nya valid. Bila tidak, gelarnya tidak lagi valid. Anda setuju?

Bagaimana kalau Anda tidak bergelar? Anda tidak perlu kuatir. Confucius pernah mengatakan, "Bergelar tapi tak berbobot memalukan; berbobot tapi tidak bergelar kurang sedikit."

Jadi, kalapun Anda tidak bergelar, sepanjang Anda berbobot, Anda masih berada di jalur yang benar. Namun demikian, akan lebih baik kalau bobot Anda 'dibumbui' dengan gelar akademis.

Link Terkait

Menilai Tinggi Kecerdasan Melalui Pendidikan

Beberapa Tujuan Pendidikan yang Pernah Muncul dalam Sejarah

Manusia Sebagai Fokus Pendidikan

Tanggung Jawab dan Peran Orang Tua dalam Pendidikan

Tujuan Pendidikan Nasional

Kecakapan Dasar yang Anda Perlukan untuk Berkiprah di Dunia Kerja

Melatih Pikiran dengan Membaca

Mata Kuliah Filsafat: 'Nutrisi' untuk Pikiran

Akibat Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Kapan Masa Berlaku Sebuah Gelar Akademis?

Jangan Pernah Berhenti Belajar


Copyright 2009-2016 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.