Plus Minus Membaca Buku Filsafat



Tidak diragukan lagi ada dampak positif membaca buku Filsafat. Kemampuan berpikir atau rasionalitas berpikir bisa meningkat. Kemampuan berlogika semakin baik. Pembacanya bisa semakin kritis terhadap ucapan orang lain. Bisa muncul sikap skeptis terhadap pernyataan-pernyataan seseorang dan tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata yang diucapkan orang lain.

Di sisi lain, dengan membaca karya-karya Filsafat pembaca bisa menyimpang dari kebenaran. Ia bisa terperangkap dalam arus filsafat yang salah. Bukan hanya itu saja. Pembaca bisa bingung. Pandangan-pandangan keyakinannya kepada Tuhan bisa 'miring.'

readingnew

Lewat buku Filsafat dan Agama Kristen, Colin Brown menyajikan secara singkat pemikiran-pemikiran para filosof sejak Abad Pertengahan sampai abad ke-20.

Banyak nama filosof disebut- mulai dari Anselm, Descartes-Spinoza-Leibniz-Pascal dari kalangan rasionalis, John Locke-Berkeley-Hume dari kelompok empiris, Rousseau, Voltaire, Lessing, Kant, Schleimacher, Hegel, Kierkegaard, Feurbach, Marx, Nietsche, John Stuart Mill dari arus Utilitarianisme, William James dari arus Pragmatisme, Charles Darwin dan yang lain.

Masing-masing filosof memiliki pandangan filosofisnya. Ada yang mengikuti pandangan filosof sebelumnya. Ada yang mengkritik pemikiran filosof lain.

Ada juga yang mempunyai pandangan filosofis yang kontras dengan filosof lain. Namun, hampir semua filosof berusaha menggusur keyakinan kepada Tuhan dari hidup manusia; agama digusur dari kehidupan publik. Membaca Buku Filsafat

Filsafat Descartes: Cogito Ergo Sum

Pandangan filosofis Descartes misalnya. Descartes, dari arus rasionalis, tidak pernah mau menerima atau menganggap sesuatu benar kalau ia tidak tahu dengan jelas bahwa itu memang benar demikian. Ia meragukan segala sesuatu. 

Melalui fakta keraguan ini, ia mengembangkan prinsip filosofisnya; "Aku berpikir maka aku ada," yang sering dikenal dengan istilah lain: Cogito ergo sum. Filsafatnya bertitik tolak pada dirinya. Fondasi berpikir filosofisnya adalah akal.

Para filosof dari arus rasionalis menganggap bawah pikiran telah berisi gagasan-gagasan yang mendasar. Pengetahuan manusia sudah ada secara default. Dalam diri manusia sudah tertanam pengetahuan sekalipun tidak diajarkan kepadanya.

Setiap orang memiliki pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk. Seseorang bisa membuat penilaian yang baik sekalipun ia tidak bisa melakukannya. Ada rasa malu kalau seseorang melakukan kesalahan. membaca buku filsafat

Filsafat John Locke: tabula rasa

John Locke menyanggah pandangan Descartes. Locke mengatakan bahwa tidak mungkin manusia mempunyai pengetahuan dalam dirinya. Pengetahuan hanya mungkin diperoleh lewat pengalaman yang diproses lewat persepsi. Pikiran ibarat kertas kosong yang sering disebut dengan istilah tabula rasa. Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat seseorang berpengetahuan, kata John Locke, yang mewakili kelompok empirisme.

Ada benarnya kata-kata John Locke. Manusia bisa memiliki pengetahuan karena ia pernah mengalami sesuatu. Kalau seseorang mengalami peristiwa tertentu ia bisa tahu apa yang terjadi. Ia bisa mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Pengalaman adalah guru yang baik. Pengalaman bisa menjadi sumber pengetahuan.

Filsafat Immanuel Kant

Pandangan Immanuel Kant mengenai Allah tidak sama dengan pandangan pemeluk agama Kristen secara umum. Allah yang dimaksud oleh Kant tidak sama dengan Allah yang disajikan di Kitab Suci.  Ia percaya ada Allah, tetapi manusia tidak dapat memahami-Nya. Akal tidak mungkin mengetahui apa-apa tentang Allah. 

Adalah hal yang membuang waktu untuk memahami Allah yang tidak bisa dimengerti oleh akal. Hal-hal supra-natural tidak penting kalau akal tidak dapat  mengetahui dan memperoleh pengertian mengenai hal itu. Demikian pandangan Kant.

Dari pandangan Kant muncul kesan bahwa Allah tidak bisa dipahami. Ini dapat terjadi bahkan sering terjadi pada pertemuan-pertemuan yang tidak formil. Kalau ada yang mengangkat topik pembahasan tentang Allah atau hal-hal rohani dalam sebuah pertemuan yang tidak formil, topik itu sering dihindari. Sedikit yang antusias membahasnya. Ada yang diam agar topik itu tidak dibahas. Ada yang mencoba mengangkat topik lain agar pembahasan tentang hal rohani terkubur.

Ada benarnya sebagian pandangan Kant. Eksistensi Allah tidak bisa dipahami secara komprehensif. Pribadi Allah yang total tidak mungkin dimengerti. Allah tidak dapat dipahami manusia alami.

Kalau pun ada pemahaman tentang Allah dalam diri- itu hanya sebatas apa yang diungkapkan kepadanya. Lewat alam yang indah misalnya, bisa muncul kesadaran bahwa Allah ada. Membaca buku filsafat

nature

Misteri dalam Proses Mengenal Allah

Pengenalan akan Allah tidak selalu ada bagi setiap orang. Sekalipun seseorang punya akses kepada Kitab Suci, belum tentu ia berminat mengenal Allah.

Di zaman sekarang, Kitab Suci ada ditangan orang yang punya handphone (hp). Dengan memiliki akses ke internet, seseorang dapat membaca ribuan halaman tentang Allah dan karya-karya-Nya. Namun demikian, berapa banyak yang memiliki keinginan untuk membaca Kitab Suci?

Bukan tidak ada kisah tentang Allah atau tidak ada buku tentang hal-hal rohani, tetapi manusia alami tidak mau memikirkan Allah dan tidak mempunyai keinginan untuk mengenal Allah.

Bila muncul keinginan mengenal Allah belum tentu juga ia akan menemukan-Nya. Banyak yang sudah membaca Kitab Suci, tetapi berapa banyak yang memahami apa yang dibaca? Rahasia-rahasia mengenai spiritualitas sejati tidak diungkap kepada semua orang.

Ketika ada topik pembahasan tentang Allah, belum tentu orang yang mendengar memahami apa yang dibicarakan. Bisa saja seseorang melihat, mendengar atau memperhatikan apa yang dikatakan orang lain mengenai hal-hal rohani, tetapi apakah ia memahami apa yang diucapkan oleh pembicara?

Pembicara hal-hal rohani belum tentu memahami apa yang ia katakan. Kalau demikian, bagaimana orang yang mendengar bisa memahaminya? Ada benarnya kata ungkapan, "Kalau orang buta menuntun orang buta, keduanya akan masuk ke dalam lubang.''

Filsafat Descartes, Locke, dan Kant di atas hanyalah beberapa dari puluhan filosof di Barat. Filosof lain mempunyai filasafatnya sendiri dan mayoritas pandangan para filosof menggiring bangsa Eropah menjauh dari Tuhan.  Para filosof menggusur agama dari pusat kehidupan.

Nietzsche sampai mengatakan bahwa Allah sudah mati. Bila Allah sudah tidak lagi dibicarakan, dikenal, dipuji atau disembah oleh sebuah bangsa, bangsa itu akan menjadi bangsa yang tidak memiliki pengharapan. Berbahagialah bangsa yang Allahnya adalah TUHAN. Membaca Buku Filsafat

church-france

Mengapa Para Filosof Tidak Menemukan Allah?

Mengapa para filosof sampai begitu jauh dari kebenaran yang disajikan di Kitab Suci? Mengapa pandangan mereka berbeda dengan apa yang dituliskan di Kitab Suci?

Bukankah pada zaman mereka mudah mendapatkan Kitab Suci? Bukankah ada banyak buku yang bagus yang menyajikan agama? Mengapa mereka tidak menemukan intinya? Kalau misalnya para filosof membaca karya John Calvin, The Institute of Christian Religion, bukankah mereka bisa mendapat informasi pembanding? 

Mengapa mereka tidak menemukan Allah? Blaise Pascal dan Isaac Newton mungkin percaya kepada Allah, tetapi mengapa akhirnya mayoritas para filosof menggusur Allah dari pusat kehidupan?

Refleksi

Bagaimana dengan Anda? Filsafat apa yang mengekang pikiran Anda? Kearifan lokal? Nilai-nilai filosofis dari budaya suku? Bisa saja. Tidak selalu disadari filsafat-filsafat apa yang memenjara pikiran sampai ada yang memberi pencerahan. Mau give up dengan Filsafat? (JM)

Link terkait:

Bagaimana Pola Pikir Terbentuk?

Bagaimana Paras Wajah Anda di Dunia Akhirat?


Copyright 2009-2023 putra-putri-indonesia.com