Home
Artikel Terkini
Public Training (1)
Public Training (2)
In-House Training
In-House-Training (2)
Business Excellence
Tujuan Hidup
Pengenalan Diri
Etika
Etos Kerja
Kecakapan Dasar
Pekerjaan
Ketenagakerjaan
Uang dan Harta
Pendidikan
Budaya
Tentang Kami
Hubungi Kami
Privacy Policy
Site Search
Berlangganan

Subscribe To This Site
XML RSS
Add to Google
Add to My Yahoo!
Add to My MSN
Subscribe with Bloglines

Menilai Tinggi Kecerdasan Melalui Pendidikan

Menilai Tinggi Kecerdasan

Ahli pendidikan Inggris, Alfred North Whitehead, mengatakan bahwa "di tengah-tengah suasana kehidupan modern, hukumnya mutlak. Suatu bangsa yang tidak menilai tinggi kecerdasan yang terlatih dinasibkan tenggelam dalam sejarah. Baik segala kepahlawananya, baik semua kelincahannya, semua kemenangan yang telah dicapai di darat ataupun di laut, akan mampu menolak balik dorongan nasib. Hari ini bangsa itu mungkin bisa bertahan. Besok, ilmu pengetahuan akan maju lagi satu langkah. Bagi suatu bangsa yang tidak berpendidikan, tidak ada suatu mahkamah pun ke mana dia dapat memajukan pengaduan atas hukuman yang telah dijatuhkan kepada bangsa yang tidak berpendidikan."

Yukichi Fukuzawa (1835-1904) dalam bukunya berjudul Gakumon no Susume (suatu Imbauan untuk Belajar) menulis, "Tuhan tidak menakdirkan seorang pada tempat di atas atau di bawah seseorang yang lain. Ini berarti bahwa kalau mereka dilahirkan, mereka sama derajatnya...Namun, kalau kita melayangkan pandangan atas suasana manusia yang sebenarnya, kita jumpai mereka yang pandai dan yang bodoh, mereka yang berderajat rendah. Suasana mereka sangat berbeda seakan-akan antara awan dan lumpur. Sebab-sebab adanya suasana demikian itu jelas sekali...Kalau seseorang tidak menuntut ilmu, ia akan tetap dalam kegelapan, dan seseorang yang berada dalam kegelapan adalah orang bodoh. Oleh sebab itu, perbedaan antara pandai dan bodoh, pada hakekatnya, ditetapkan oleh pendidikan."

Pentingnya menilai tinggi kecerdasan, para pendiri republik ini telah memasukkan topik pendidikan dalam konstitusi. UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang." Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia." Bahkan dalam konsititusi yang telah diamendemen telah dicantumkan minimum 20 % dari anggaran belanja negara disisihkan untuk pendidikan.

Sekilas negeri ini menilai tinggi kecerdasan. Namun, apa yang telah dihasilkan dunia pendidikan kita? Setelah lebih 64 tahun negeri ini merdeka, khususnya pada dua dekade terakhir, dunia pendidikan kita hanya menghasilkan siswa tauran, mahasiwa yang menjiplak, pejabat yang koruptor, warga yang masih percaya kepada dukun, pekerja yang mau berpenghasilan tinggi tetapi tidak mau bekerja keras, penduduk yang mudah emosi, dan berbagai karakter-karakter buruk lainnya. Banyak berita-berita yang berkaitan dengan moral disajikan di publik bahkan sampai ada yang berani melakukan hubungan seks di luar nikah dan disebarkan ke publik.

Jelaslah bahwa pendidikan bukanlah hanya semata-mata soal anggaran. Pendidikan bukan hanya semata-mata melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh para elit politik dan pemerintah lewat Undang-Undang Pendidikan dan kebijakan-kebijakan pendidikan. Pendidikan bukan hanya semata-mata melaksanakan kurikulum. Jauh lebih penting dari itu adalah falsafah pendidikan; apa falsafah terhadap murid, kurikulum pendidikan dan guru. Dan yang tidak bisa diabaikan juga adalah bagaimana falsafah itu dijabarkan dalam tataran praktis.

Oleh karena begitu pentingnya menilai tinggi kecerdasan, pada halaman ini disajikan topik seputar pendidikan. Kita akan lihat falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, relasi antara pendidikan dan negara, peran pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan dan lewat jalur apa pendidikan yang baik diperjuangkan.

Artikel Terkait:

Tanggung Jawab dan Peran Orang Tua dalam Pendidikan
Orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan putra-putrinya: memperkenalkan Pencipta, manusia, alam dan nilai-nilai luhur.

Manusia sebagai Fokus Pendidikan
Manusia adalah fokus pendidikan dan mahluk yang paling penting dari seluruh yang dicipta. Ini sesuai dengan nilai-nilai Pancasila

Tujuan Pendidikan
Tugas pendidikan, menurut Plato, adalah membebaskan dan memperbaharui; membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran.

Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah"... menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Daftar Artikel di Putra-Putri-Indonesia.com

Dari Menilai Tinggi Kecerdasan ke Halaman Depan (Home)



Keep Learning Keep Growing

Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com

Enter your E-mail Address
Enter your First Name
Then

Don't worry -- your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Upcoming Seminar!

Labor Law
(UU Tenaga Kerja, No.13/2003)
6 Mar. 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Fee: Rp1.000.000

Business Process Improvement
and Management

(Bagaimana Membuat Bisnis Process
20-21 Mar. 2012
Hotel Lumire, Senen, Jakarta
Fee: Rp2.500.000
(Early Bird, Rp2.000.000
bila konfirmasi dilakukan
sebelum 6 Maret 2012)

Speaker: Judika Malau


Organized by:

PT. Business Excellence Luminance
Management Consulting and Smart Training

Contact No.:
0813-1141-8800 or 021-2637-1155

Public Training in 2012 (Bag. 1)
for People and Business to Grow

Public Training in 2012 (Bag. 2)

Smart In-House Training (1)

Smart In-House Training (2)



Client:
    PT. Hotmal Jaya Perkasa, Cibitung