Apa Perbedaan Agama dan Filsafat?



Perbedaan Agama dan Filsafat

Salah satu topik yang perlu mendapat perhatian dari tokoh-tokoh masyarakat, elit politik, para pengambil keputusan dalam hidup bernegara dan berbangsa adalah relasi antara agama dan Filsafat. Perlu ada pemahaman di atas rata-rata mengenai perbedaan antara kedua bidang.

Ada ragam keyakinan, budaya, kebiasaan, tradisi, suku, dan bahasa. Ini semua turut serta membentuk perilaku setiap orang.

Ini memberi sumbangsih bagaimana ia berpikir dan bertindak baik bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.Ini juga ambil bagian dalam menentukan 'warna' politiknya dan eksistensi negeri ini di masa mendatang.

nature

Apakah bangsa dan negara ini akan terus eksis- ini akan ditentukan oleh warna politik dari masyarakat dengan keyakinan yang diterima.

Jadi, sangat penting melihat perbedaan antara agama dan Filsafat sekalipun ini tidak selalu dapat menjawab persoalan-persoalan bangsa dan negara di tataran praktis.

Definisi Agama

Apa itu agama? Menurut Merriam-Webster Dictionary, agama adalah pelayanan dan penyembahan kepada Allah atau supra natural.

Apakah itu agama Islam, Kristen Hindu, Buddha, Kong Hu Cu dan kepercayaan lain- statusnya sama. Masing-masing 'mencari' Sang Ilahi dengan caranya masing-masing.

Yang berbeda antara agama yang satu dari yang lain adalah keyakinan-keyakinan dasar, ritual dan aturan main.

Di agama Islam, ada terjemahan Al Quran, ada ritual sembahyang lima kali sehari, naik haji ke tanah suci, melakukan ibadah puasa sekali setahun, dan beragam aturan sesuai dengan Kitab Suci.

Di agama Kristen, ada Alkitab, ibadah minimal sekali seminggu, kapanpun bisa berdoa kepada Sang Ilahi, ada baptisan, Perjamuan Suci dan aturan-aturan berdasarkan Kitab Suci.

Pengikut agama Hindu dan Buddha juga memiliki Kitab Sucinya tersendiri, ritual-ritual dan aturan-aturan sesuai dengan Kitab Suci-nya. Keyakinan-keyakinan minor juga demikian; ada ritual dan seperangkat aturan dalam menjalankan keyakinannya.

Sang Ilahi tidak dapat dikenal manusia sampai tuntas. Manusia hanya dapat melihat keberadaan-Nya lewat apa yang ada di sekelilingnya- matahari, bulan, bintang, keindahan alam, dan peristiwa-peristiwa. Ini semua merupakan eksistensi yang dapat menceritakan kemuliaan Tuhan , Pencipta manusia dan alam.

Manusia mencoba mencari Allah dengan caranya sendiri dengan mengikuti kaidah-kaidah agama yang dianut. Ia berusaha memahami apa yang dikehendaki Sang Ilahi menurut pengertian yang ia terima, terutama menurut apa yang diajarkan oleh Kitab Suci yang ia yakini. Ia mencoba melakukan apa yang diharapkan Sang Ilahi.

Apakah usaha-usaha manusia untuk mencari Sang Ilahi akan berhasil? Apakah dengan melakukan ritual-ritual agama dan seperangkat aturan manusia akan diterima Sang Ilahi? Tidak ada yang tahu dengan pasti.

Jawabannya masih meraba-raba. Manusia tidak mungkin mengetahui apakah usaha-usahanya memenuhi kriteria Sang Ilahi atau tidak.

readingnew

Filsafat

Bila agama berusaha mencari Allah dengan seperangkat ritual agama dan kehidupan yang saleh, filosof berusaha mencari Sang Ilahi lewat pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa alam dan lingkungannya dan berperilaku bijak.

Filosof menggunakan rasionya untuk memahami kebenaran yang disajikan di alam sekitarnya. Apa yang ia lihat, dengar dan rasakan- ini kemudian ia analisa.

Dengan rasionya juga, ia membuahkan pemikiran-pemikiran tentang apa yang terjadi di sekitarnya termasuk keberadaan yang ada di luar dirinya.

Rasio digunakan sebaik mungkin untuk memahami kebenaran. Bagi Plato misalnya, di dunia 'sana' ada Keberadaan yang kekal. Keberadaan ini dianggap mutlak dan tidak berubah sedangkan keberadaan yang ada di alam hanyalah bayang-bayang, bukan realita yang sebenarnya. Bila kita nelihat sapi, sapai yang dilihat bukanlah sapi yang ideal; sapi yang ideal ada di dunia 'sana.'

Dunia ide adalah asal usul dari apa yang ada di dunia ini. Dari sanalah segala sesuatu berasal. Dan apa yang ada di dunia ini tidak kekal. Begitulah pandangan para filosof Yunani kuno.

Dari sisi agama, apa yang dimaksud oleh para filosof Yunani kuno ini ada benarnya. Apa yang ada di dunia ini berasal dari ketiadaan; dari tidak ada menjadi ada. Begitu pandangan yang disajikan Kitab Suci.

Suatu saat, apa yang ada saat ini akan diperbaharui, yang tampilannya akan berbeda dengan tampilan saat ini. Bumi dan langit yang ada saat ini akan berubah; akan ada bumi dan langit yang baru.

Dunia yang baru akan datang, yang merupakan kelanjutan dari dunia yang ada sekarang. Namun, bagaimana dunia yang baru  nantinya- ini juga masih misteri. Ini tidak dijelaskan secara rinci oleh agama. Hanya poin-poin penting yang dapat diketahui, bukan hal-hal yang rinci.

Tidak ada yang mutlak di dunia ini. Begitu pandangan para filosof dari Yunani kuno. Tidak ada yang abadi. Uang, harta, jabatan, bahkan keberadaan manusia sekalipun tidak abadi. Manusia berubah- dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewaa, tua dan akhirnya kembali ke tanah. Yang abadi hanya di dunia sana. Ke sanalah jiwa akan berlabuh.

Dalam konstruksi filosof YUnani kuno, jiwa berasal dari sana dan jiwa akan kembali ke sana. Selama jiwa masih ada dalam penjara tubuh, selama itu pula jiwa tidak bebas. Ia terus dikungkung oleh tubuh yang dianggap penuh dengan kejahatan karena tubuh bersifat materi.

Beragam keinginan yang hanya memuaskan hasrat merupakan produk dari tubuh. Apa yang disebut dengan KDRT seperti yang dialami oleh artis dan ramai di media sosial baru-baru ini adalah produk dari tubuh jasmani yang bersifat materi.

Tubuh dianggap jahat dan segala kejahatan- mulai dari membunuh, marah, mencuri, berdusta dan ingin menjadi kaya atau hasrat yang membara  untuk menjadi presiden misalnya- merupakan produk dari tubuh.

Melalui perpisahan antara jiwa dan tubuh jiwa akan bebas. Jiwa merdeka bila ia bersatu dengan Kebenaran yang mutlak. Kematian menjadi pintu gerbang ke alam kebahagiaan yang abadi. Jadi, merupakan sebuah kebahagiaan bila jiwa lepas dari kungkungan tubuh. Begitu pandangan para filosof Yunani kuno.

Apakah filosof akan menemukan Kebenaran yang sejati? Apakah Sang Ilahi dapat ditemukan melalui akal? Apakah Sang Pencipta langit dan bumi dapat dipahami melalui pemahaman terhadap fenomena alam? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Yang ada hanya perkiraan-perkiraan yang dibuat rasio.

church-france

Beda Pendekatan antara Agama dan Filsafat

Agama dan filsafat sama-sama mencari Keberadaan yang tertinggi. Bila dalam agama pencarian kepada Sang Ilahi dilakukan dengan keyakinan lewat seperangkat ritual dan peraturan, maka filosof mencari Kebenaran Tertinggi dengan menggunakan rasionya.

Pemeluk agama berusaha menjadi orang yang saleh; filosof berusaha menjadi orang bijak. Lewat Filsafat Kebenaran akan ditemukan; para pemeluk agama menerima bahwa Sang Ilahi akan ditemukan.

Masing-masing memberikan argumentasi dengan asumsi-asumsi yang dipegang. Agama menunjukkan jalan; filsafat menunjukkan kebenaran.

Apakah Kebenaran mutlak atau Sang Ilahi akan ditemukan? Tidak ada jawaban pasti.

Manusia akan berusaha 'mencari' Sang Ilahi atau Kebenaran Sejati. Manusia akan kembali kepada-Nya. Ia akan berusaha menemukan Sang Ilahi atau Kebenaran Tertinggi lewat agama atau Filsafat sekalipun tidak ada kepastian pada akhir pencariannya.

Ini merupakan perjalanan spitualitas yang panjang dan serius sampai Sang Ilahi atau Kebenaran Abadi memberikan diri-Nya ditemukan.
(JM)


Copyright 2009-2023 putra-putri-indonesia.com